Tangga Kepemimpinan

“Sungguh pada diri Rosululloh kamu dapatkan suri teladan yang indah bagi orang yang mengharap(rahmat Alloh), dan(keselamatan) hari terakhir, serta banyak mengingat Alloh.”
(QS. 33: Al Ahzab(Kaum Sekutu) Ayat 21)

1. Tangga ke-1 : Pemimpin yang dicintai

“Kasihanilah mereka yang ada di bumi niscaya yang di langit akan mengasihani kamu”.
– H.R. Tirmizi –

Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi anda tidak bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka. Pernyataan ini, dapat melukiskan bahwa seorang pemimpin harus mampu berhubungan secara baik dengan orang lain, dengan cara mencintai mereka.

Prinsip “Bismillahirrohmanirrohim” adalah jawabannya. Selalu berusaha mengerti dan menghargai setiap individu, dan selalu bersikap rahman serta rahim. Orang sekarang biasanya lebih menekankan pada teknik luar, seperti senyum, mengingat nama, mau mendengar, atau fokus pada minat orang lain. Sedangkan Rosul SAW, lebih dari sekedar “kulit” tersebut. Rosul lebih memilih “inner beauty” yang begitu memukau tanpa cacat. Berikut contoh salah satu sifat Rosul berdasarkan buku “Sejarah Hidup Muhammad” : “Yang menambah dakwah itu berkembang sebenarnya karena teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW sangat baik sekali; Hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya kepada orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra.”

Sikap rahman dan rahimnya lah yang menjadi landasan dasar awal perjuangannya. Sikap ini terbukti efektif untuk membangun suatu pengaruh dan sebagai tangga pertama kepemimpinannya.

Beberapa contoh penampilan sehari-hari Rosululloh SAW:
Bila ada orang yang mengajaknya bicara, beliau mendengar dengan hati-hati sekali, tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak hanya mendengarkan kepada yang mengajaknya bicara, bahkan beliau memutarkan seluruh tubuhnya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak mendengarkan. Bila berbicara selalu bersungguh-sungguh, tetapi sungguhpun begitu, beliau pun tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda gurau, dan yang dikatakannya selalu yang sebenarnya. Kadang beliau tertawa sampai terlihat gerahamnya – semua itu terbawa kodratnya yang selalu lapang dada – dan menghargai orang lain. Bijaksana, murah hati, dan mudah bergaul.

“Karenanya maka ia(tida) tergolong orang yang beriman yang saling menasehati, supaya bersabar dan berkasih sayang.”
– Q.S, 90 Al Balad(Negeri) –

2. Tangga Ke-2: Pemimpin yang Dipercaya
Seorang yang memiliki integritas tinggi adalah orang-orang yang dengan penuh keberanian dan berusaha tanpa kenal putus asa untuk dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Cita-cita yang dimilikinya mampu mendorong dirinya unruk tetap konsisten dengan langkahnya.

Integritas adalah sebuah kejujuran. Integritas tidak pernah berbohong dan integritas adalah kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan yang menghasilkan kepercayaan.

3. Tangga Ke-3 : Pembimbing

” Tetapi orang yang membawa Kebenaran(Muhammad), dan orang yang mengakui(Kebenaran) itu, mereka itulah orang-orang yang takwa.”
– QS. 39, Surat Az Zumar(Rombongan) Ayat 33 –

Seorang pemimpin yang berhasil bukanlah karena kekuasaannya, tetapi karena kemampuannya memberikan motivasi dan kekuatan kepada orang lain. Seorang pemimpin bisa dikatakan gagal, jika tidak berhasil memiliki penerus. Pada tangga inilah puncak dari loyalitas dari pengikutnya akan terbentuk. Tangga pertama akan menghasilkan pemimpin yang dicintai; tangga kedua akan menghasilkan pemimpin yang memperoleh kepercayaan karena integritasnya; dan pada tangga ketiga ini akan tercipta loyalitas, kader-kader penerus dan sekaligus meraih kesetiaan dari para pengikutnya.

4. Tangga Ke-4 : Pemimpin yang Berkepribadian
Harry S.Truman mengatakan bahwa, pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila dia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus sudah pernah menjelajahi dirinya sendiri dan mengenali secara mendalam siapa dirinya. Sebelum memimpin keluar, dia harus memimpin ke dalam.

Frederik Agung, raja Prusia yang terkenal, suatu ketika ia sedang berjalan-jalan di pinggiran kota Berlin. Ketika dia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang berjalan ke arah berlawanan, kemudian ia bertanya:
“Kau siapa?” tanya Frederick.
“Saya raja,” jawab laki-laki tua.
“Raja?!” Frederick tertawa. “Atas kerajaan mana kau memerintah?”
“Atas diri saya sendiri,” jawab laki-laki tua dengan bangga.

Pekerjaan ini sebenarnya paling berat, memimpin diri sendiri melawan hawa nafsu, adalah sebuah disiplin diri. Disiplin diri ini adalah bagaimana mencapai apa yang sungguh-sungguh diharapkan dengan tidak melakukan hal-hal yang diinginkan.

Musuh yang paling berat sebenarnya adalah diri sendiri, dan seorang pemimpin harus mengenali siapa lawan siapa kawan di dalam dirinya. Tanpa pengetahuan tentang hal ini maka dia akan menjadi budak dari pemikiran yang diciptakannya sendiri.

5. Tangga Ke-5 : Pemimpin Abadi

“Kau(Muhammad) sungguh memiliki budi pekerti yang agung.”
– QS.68, Surat Al Qolam(Kalam) Ayat 4 –

Umumnya pengaruh seorang pemimpin berhenti pada suatu masa saja, hal ini terjadi jika ajarannya sudah tidak sesuai lagi dengan hati nurani.

Sifat ajaran Nabi Muhammad SAW adalah intelektual dan spiritual. Prinsipnya adalah mengarahkan orang pada kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan keberhasilan. Metode ilmiah ini adalah yang terbaik yang pernah ada di muka bumi, khususnya di bidang kepemimpinan dan akhlak, yang mampu memberikan kemerdekaan berpikir dan tidak menentang kehendak hati nurani yang bebas, tidak ada unsur pemaksaan yang menekan perasaan. Semua terasa begitu karena sesuai dengan suara hati, dan cocok dengan martabat kehormatan manusia. Sangat menjunjung hati dan pikiran manusia, sekaligus membersihkan belenggu yang senantiasa membuat orang menjadi buta. Dialah sebenanya guru dari kecerdasan emosi atau EQ, yang saat ini diakui lebih penting dari IQ, atau kecerdasan otak.

Seorang pakar berpendapat, “Yang telah saya temukan selama bertahun-tahun adalah bahwa pada umumnya orang-orang yang hebat yang kita kenang adalah mereka yang paling berkenan di hati kita. Mungkin mereka adalah orang-orang yang jenius dan kreatif dan intuitif. Atau, mereka yang memiliki kesungguhan hati dan keberanian. Mereka adalah orang yang memiliki kejujuran emosi(hati) dan tidak mau hidup dalam kepura-puraan. – Mereka memiliki kemauan untuk memperbaharui keadaan, mempertanyakan aturan-aturan yang membedakan golongan, untuk mengulurkan kasih sayang, atau untuk mengucapkan kata-kata ramah. Mereka mempunyai standar sendiri dalam hal integritas dan terus mencari makna-makna hidup yang lebih dalam.”

Dari Abi bin Abi Thalib r.a, ketika ia bertanya kepada Rosululloh dan dijawab:

Marifat adalah modalku,
Akal pikiran adalah sumber agamaku,
Rindu kendaraanku,
Berdzikir kepada Alloh kawan dekatku,

Keteguhan perbendaharaanku,
Duka adalah kawanku,
Ilmu adalah senjataku,
Ketabahan adalah pakaianku,

Kerelaan sasaranku,
Faqr adalah kebanggaanku,
Menahan diri adalah pekerjaanku,
Keyakinan makananku,

Kejujuran perantaraku,
Ketaatan adalah ukuranku,
Berjihad perangaiku,
Dan hiburanku adalah dalam sembahyangku.

Berkata orang-orang tiada beriman :”Mengapa tiada diturunkan kepadanya(Muhammad) sebuah mukjizat dari Tuhannya?”
Jawablah:”Alloh membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki, dan membimbing orang yang bertaubat kepada-Nya.”

– QS.13, Surat Ar ra’d(Guntur) Ayat 27 –

Wassalam,

-admia is my fabulous nick-

PS:
dedicated for my Mousche…May 4JJI always help you…to be a best leader for our “Future Family”…don’t stop learning to be better!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s