Kenapa Masih Ragu??

“Dan berbuat baiklah(kepada orang lain) sebagaimana Alloh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (Q.S Al – Qashas[28] : 77)


Betapa tingginya Islam mengajarkan tentang jiwa sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Bahkan Islam lebih jauh lagi mengajarkan supaya kita memiliki perasaan yang halus terhadap orang lain. Perasaan halus yang saya maksud adalah bahwa kita seharusnya selalu berbaik sangka, tidak ada keinginan untuk menyakiti, berusaha untuk membuat orang lain senang atau bahagia. Dan semuanya kita niatkan demi mendapatkan keridhoan Sang Pemilik hidup, bukan untuk berpura-pura demi mendapatkan simpati dari banyak orang atau diterima di suatu komunitas. Semua hal yang dilakukan semata mengharap ridho-Nya akan nampak penuh ketulusan dan keikhlasan dari si pelakunya, dia tidak kecewa ataupun sedih pada saat kebaikannya tidak berbalas dengan kebaikan yang sama, selain itu sikapnya pun tidak akan berubah.

Islam juga memerintahkan supaya kita memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri, dalam arti kita menyayangi dan mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri sendiri; apa yang kita berikan ke orang lain sama atau bahkan lebih baik dari apa yang kita pakai. Bentuk pemberian di sini tidaklah selalu berupa barang atau uang, tetapi termasuk pada memberi perhatian dan simpati terhadap orang lain, atau membantu secara maksimal pada saat orang mendapat musibah atau perlu pertolongan. Islam menghargai umatnya yang bersikap demikian, seperti termaktub dalam hadits-hadits berikut:

” Tidak(dikatakan) beriman seseorang di antara kamu, sehingga ia menyukai atas saudaranya apa yang ia suka buat dirinya sendiri.” (HR.Bukhari)

“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR.Bukhari-Muslim dari Anas bin Malik ra)

Saya sering berpikir, andai saja semua orang Islam yang mengetahui hadits ini kemudian memahami dan mengamalkannya, alangkah damai dan indahnya hidup ini…tidak akan ada pertengkaran, penindasan, kekerasan, dan semua sikap untuk menyakiti orang lain.

Dalam kenyataannya, saya sering bingung dan bertanya-tanya sendiri, kenapa masih ada orang yang takut untuk berbuat baik atau menyayangi orang lain seperti dia menyayangi dirinya sendiri. Jika dia tidak tahu agama, atau mungkin bukanlah seorang muslim, masihlah wajar. Yang paling aneh dan sangat tidak wajar adalah jika ada orang yang sholatnya terjaga baik wajib maupun sunat, hobi membaca al Quran, pengetahuan keislamannya cukup luas, tetapi sikapnya masih berat untuk memberi ataupun menolong orang lain. Selalu ada pertimbangan sebelum memberi kepada orang lain: apakah dengan memberi orang, ada jaminan kalau dirinya tidak menyusahkan orang lain. Dengan kata lain, dia selalu mencari “aman” untuk sendiri dulu sebelum bisa memberi ke orang. Menurut saya, jika kita sudah yakin akan adanya Alloh dan yakin bahwa DIA akan menolong siapapun yang berniat baik, jadi…kenapa masih ada orang yang meragukan pertolonganNYA, dan masih banyak pertimbangan untuk memberi orang lain???

Sikap orang-orang yang ragu akan kekuasaanNya:
1. Selalu berdiam diri(mencari aman) pada saat melihat orang lain membutuhkan bantuan,
2. Sering menawar barang semurah-murahnya, dan enggan untuk memberikan uang lebih pada penjual.
3. Sebelum memberi orang lain, selalu mencari alasan yang terbaik menurut versinya.
Contoh:
Jika pada suatu saat orang tipe ini bertemu dengan seorang bapak tua penjual makanan yang nampak lusuh, dan makanannya tidak menarik. Maka dalam pikiran orang seperti ini akan banyak pertimbangan, apakah dia sedang lapar?apakah dia suka makanan yang dijual si bapak?atau adakah uang yang masih tersisa jika dia membeli makanan itu. Intinya yang selalu diprioritaskan adalah kepentingan dirinya sendiri. Jika dia sedang tidak lapar, maka dia akan membenarkan sikapnya dengan dalil bahwa dia akan bersikap boros jika membeli makanan; dan masih banyak pembenaran-pembenaran lainnya untuk sikap yang dia ambil.
Andai saja dia membayangkan diri sebagai bapak tua itu, tentulah dia akan menghampiri dan membeli dagangannya tanpa mengambil uang kembaliannya.

Kita memang tidak bisa mengetahui apa yang tersembunyi(gaib) dari pandangan mata lahir kita, andai saja kita mau mempertajam mata hati kita, mencoba berempati, mungkin saja bapak tua itu belum laku sama sekali dagangannya, sedangkan di rumah anak-isterinya menunggunya pulang untuk bisa membeli kebutuhan hari itu, atau mungkin salah satu anaknya sedang sakit dan butuh uang untuk berobat….duuuh….bagaimana jika kita yang mengalami hal tersebut….hiks…hiks…

4. Selalu mementingkan dirinya sendiri.
Orang seperti ini selalu merasa bahwa dirinya lebih membutuhkan bantuan, banyak sekali kebutuhannya, sehingga dia selalu merasa bahwa dia masih kekurangan dan belum waktunya untuk memberi orang lain. Betapa miskinnya orang seperti ini…, tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa ada kelebihan yang harus diberikan ke yang lain.

5. Penerapan Prinsip Ekonomi dalam Berinteraksi dengan Orang lain
Salah satu prinsip ekonomi yang saya tau:”pengorbanan seminimal mungkin, pendapatan sebesar-besarnya”, cmiiw(correct me if i am wrong).
Orang yang tidak biasa memberi, selalu “itung-itungan” dalam hidupnya. Dia akan menghitung dulu, apakah orang yang akan dia beri pernah memberinya juga?seberapa banyak?Kemudian dia akan membalas, lebih sedikit atau maksimal sama dengan apa yg pernah dia terima. Jika akan memberi ke orang yang belum pernah punya jasa padanya, dia akan berpikir “keuntungan apa yg bisa diperolehnya??”. Demikian terus, sehingga dia tidak pernah merasa tenang, mungkin karena takut rugi atau dirugikan. Duuuh…betapa capenya hidup seperti itu….

Saudaraku…(hihi…jadi kaya Aa Gym gini…), kenapa kita masih ragu untuk berbuat baik kepada siapapun??sedangkan ALLOH Maha Pemberi, tidak pernah “itung-itungan”, Maha Pengasih Maha Penyayang.
Kenapa masih ragu dan selalu memikirkan diri kita sendiri pada saat nyata-nyata di depan mata kita orang lain perlu bantuan, apakah berbentuk perhatian, pemikiran, tenaga, ataupun materi. Kenapa masih mementingkan diri sendiri, menuntut orang lain untuk memahami kepentingan dan kebutuhan kita.

Saya jadi berpikir:”Salahkah ALLOH jika DIA tidak mengabulkan doa orang2 yang meragukanNYA??Salahkah jika DIA sering tidak menolong kesulitannya??Salahkah jika DIA tidak memberikan kelapangan rezeki kepadanya??

Apalagi yang membuat kita ragu akan jaminan ALLOH??

Pada saat orang lain membutuhkan kita, berikanlah bantuan semaksimal mungkin, jangan berharap orang itu akan membalas kebaikan kita, yakinlah ALLOH yang akan membalas dan menjamin hidup kita. ALLOH Maha Kuasa memberikan kasih sayangNYA lewat orang yang kita temui, dan ALLOH juga Maha Kuasa menahan pertolonganNYA untuk kita.

Jangan takut memberi pada saat uang kita pas-pasan, jangan takut membantu pada saat kita tidak enak badan atau sibuk?
Yakinlah, ALLOH yang punya kekayaan, kesehatan dan kelapangan!!
Jika ada kesempatan untuk berbuat baik, lakukan saat itu juga, karena sesaat kemudian kita belum tentu masih diberi kesempatan yang sama.

“Kasihanilah mereka yang ada di bumi niscaya yang di langit akan mengasihani kamu”.
– H.R. Tirmizi –

Semoga Bermanfaat,

Tulisan ini dipersembahkan untuk semua orang yang pernah dan selalu baik kepadaku.

Semoga kebaikan senantiasa bersama kalian semua…Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s