Keinginan itu Membutakan

Oleh: Gede Prama

Salah satu acara tetap yang diadakan oleh pengelola web site saya
adalah chatting. Diantara sekian chatting yang sudah berlalu, topik
yang mendatangkan pengunjung paling banyak adalah topik hidup ini
indah . Sebagaimana biasa, selalu ada pro-kontra dalam setiap wacana.
Saya tidak perlu lagi menjelaskan alasan-alasan orang yang pro
terhadap konsep hidup ini indah. Terutama, karena sudah teramat jelas
bagi saya. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang menganggap saya
melebih-lebihkan kenyataan tentang hidup ini indah. Secara lebih
khusus, mereka yang kurang terhibur oleh film Italia dengan judul Life Is Beautiful.

Tulisan ini bukan pledoi. Hanya renungan lebih lanjut dari pemikiran
saya terdahulu tentang hidup ini indah. Mungkin saja tuduhan orang benar,
bahwa saya suka melebih-lebihkan. Dan pengalaman yang berbeda bisa membawa
kesimpulan yang berbeda juga. Di tengah pro-kontra ini, izinkan saya
memperjelas lagi argumen-argumen terdahulu.

Coba cermati tempat Anda duduk saat ini. Dengan jabatan, kesehatan,
uang, serta dukungan keluarga yang Anda miliki saat ini sekali lagi
saat ini. Saya tidak tahu posisi Anda dalam hal ini. Saat tulisan ini
dibuat, ada problema dalam jabatan yang saya duduki. Kesehatan saya
lumayan bagus. Uang tergantung pembandingnya. Dukungan keluarga saya,
syukur alhamdulilah. Dan duduk di rumah di pinggir kali yang anginnya sedang bertiup kencang.

Anda boleh menyimpulkannya dengan indah atau tidak indah. Bagi saya
pribadi, di hotel berbintang lima plus, maupun di rumah yang berlantai
tanah liat serta beratap jerami, selalu tersembunyi keindahan dan
kenikmatan. Dengan penuh rasa syukur saya ucapkan ke Tuhan, saya
pernah hidup di perkampungan kumuh dengan baju berceceran di lantai
karena tidak punya lemari baju. Pernah juga hidup dalam standar
orang-orang yang berpunya. Dan yang namanya kenikmatan, dia hadir baik
ketika di tempat kumuh, maupun di tempat yang disebut orang mewah.

Dalam kejernihan saya ingin bertutur ke Anda, di kedua tempat tadi manusia
sama-sama memakan sepiring lebih nasi dan lauknya. Tidur sekitar enam
sampai delapan jam semalamnya. Menghirup udara dengan jumlah yang
tidak jauh berbeda. Kalau bepergian, menggunakan apapun bisa sampai di
tempat tujuan. Dalam kasus diri saya, ada sebuah tambahan yang
membuatnya lebih indah lagi : hidup bersama anak mertua yang sama,
serta sejumlah anak kecil yang juga sama.

Beda antara dua kehidupan ekstrim yang pernah saya lalui hanya satu :
keinginannya yang berbeda. Dulu, karena belum pernah melewati
kehidupan yang disebut orang mewah dan megah, ada keinginan untuk
sesegera mungkin sampai di sana. Sekarang, ketika kehidupan tadi sudah
sempat dilalui dan dinikmati, ada kesenangan kadang-kadang untuk
membayangkan kehidupan yang serba sederhana dulu.

Nah, di sinilah inti ide yang mau saya bagi ke Anda : keinginan itu
membutakan. Di tempat dan keadaan manapun dari kandang kerbau sampai kamar
hotel berbintang lima plus, dari naik angkot sampai naik Jaguar, dari
mengenakan jam tangan murahan sampai memakai Rolex orang bisa
dibutakan oleh keinginan. Dan tidak hanya keinginan untuk menaik yang
membutakan, keinginan untuk turunpun membutakan.

Coba cermati sejumlah keluarga yang akan berangkat berlibur. Ketika
mempersiapkan segala sesuatunya, semua fikiran tertuju pada tujuan wisata.
Entah keindahan pemandangan, makanan yang enak, hotel yang nyaman,
atau berbelanja barang-barang kebutuhan. Tatkala sudah sampai di
tempat tujuan lengkap dengan badan yang lelah semua fikiran tertuju
pada rumah yang menenteramkan. Dari lingkungan yang sudah biasa,
tempat tidur yang menenteramkan, sampai dengan tiadanya beban untuk membawa tas
kemana-mana.
Anda lihat sendiri, fikiran lengkap dengan keinginannya, sudah
membutakan banyak orang. Di rumah ketika mau berangkat membutakan
kenikmatan tinggal di rumah. Di tempat wisata, keinginan membutakan
orang untuk menikmati keindahan tempat wisata.

Di pojokan lain dari kehidupan, hal serupa teramat sering terjadi.
Kenikmatan-kenikmatan hari ini, sering lewat percuma begitu saja,
semata-mata karena banyak orang sudah buta oleh keinginan. Kalau
kemudian saya mengajak orang untuk menyelami konsep hidup ini indah ,
pada fikiran yang dibutakan keinginan, tentu saja jauh panggang dari api.

Sebagai manusia biasa, sayapun kadang dibutakan oleh keinginan.
Setelah jadi direktur ingin jadi presiden direktur. Sesudah anak-anak
sekolah di salah satu sekolah terbaik di Jakarta, ingin agar mereka
segera ke luar negeri. Dan bila sang keinginan diikuti terus, maka
buta dan tulilah kita dari semua berkah dan rahmat Tuhan
. Syukur
adalah kata yang tidak pernah mampir dalam rumah jiwa kita. Dan tanpa
rasa syukur, siapapun dan di tingkat kehidupan yang setinggi langitpun
hidup kita pasti menderita.

Entahlah, apakah saya sudah berhasil meyakinkan sahabat-sahabat yang masih
skeptis terhadap ide tentang hidup ini indah, atau malah membuat
mereka tambah tidak percaya. Yang jelas, kata-kata dan logika bukanlah
cara yang paling tepat untuk berguru tentang kehidupan. Ia tidak lebih
dari daftar menu saja, atau petunjuk jalan saja. Untuk sampai di sana, kita tidak
bisa hanya memandangi petunjuk jalannya. Jalan dan berangkatlah ke sana.
Tugas saya memasang petunjuk jalan sudah selesai. Hanya Anda yang bisa
membawa diri Anda ke sana.

Semoga Bermanfaat,

Cheers,

– admia is my fabulous nick –

Thanks to:
Brother Kho…please send me the other “great” articles…:)

Dedicated to:
Seseorang yang selalu kusayangi…”4JJI Loves you, Dear…let’s always be the grateful person…May 4JJI helps us forever…:)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s