Telat Menikah

dikutip dari eramuslim.com

Di Usia Tiga Puluhan

Oleh Ummu Nabilah
6 Jun 2006 13:09 WIB

Suatu hari di sebuah acara, saya bertemu dengan seorang teman lama. Ia tampak tujuh tahun lebih muda dari usianya. Kami saling menanyakan kabar setelah lebih dari sepuluh tahun tak jumpa. Kini, ia masih sendiri di usianya yang tiga puluh empat tahun.

Ia tidak sendiri. Banyak di tengah-tengah kita para wanita yang juga masih melajang di usianya yang sudah kepala tiga. Malah, tidak sedikit dari mereka sudah berusia lebih dari tiga puluh lima tahun. Entah apa penyebabnya hingga mereka belum menemukan pasangan hidup di usia mereka yang sudah cukup matang. Itu semua adalah rahasia Allah. Hanya yang saya ketahui, mereka yang saya kenal adalah wanita baik-baik. wanita yang layak untuk dicintai, menjadi isteri dan seorang ibu.

Pernah terbersit dalam pikiran saya, seandainya saya seorang laki-laki dan boleh memilih isteri sesuka hati, maka pilihan saya akan jatuh pada salah satu dari mereka. Sebut saja namanya (bukan nama sebenarnya) Aisyah. Ia seorang yang berwajah relatif manis, pintar, baik hati, lembut, dermawan, suka berkorban untuk orang lain, pendeknya berbagai kelebihan melekat padanya. Iapun seorang yang biasa-biasa saja, bukan tipe orang yang menetapkan standar tinggi untuk pasangan hidupnya.

Maka apalagi jalan yang menghalanginya untuk segera menemukan sang jodoh? Jawabnya adalah bahwa semua itu belum dikehendaki-Nya. Sebagai orang beriman, tentu kita harus bisa mencari hikmah di balik keputusan Yang Mahakuasa ini. Allah menjelaskan, ”…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah:216).

Namun, tak mudah menjalani kehidupan ini seorang diri. Tuntutan keluarga untuk segera menikah yang tak hanya satu dua kali terdengar kerap membuat hati kian merana. Kondisi ini diperparah lagi dengan pola pikir masyarakat kita yang masih kurang memahami hakikat kehidupan ini dan masih sering mempersoalkan status para wanita yang masih melajang di usia yang sudah matang.

Saya sendiri menikah pada usia yang juga sudah tigapuluhan, tepatnya tiga puluh satu tahun lebih enam bulan. Belum terlalu tua memang, namun sudah cukup tua bila dibandingkan dengan orang-orang di sekitar saya, apalagi yang berlatar belakang seperti saya. Mereka sebagian besar atau bisa dikatakan hampir seluruhnya menikah dalam usia muda, antara dua puluh satu sampai dua puluh empat tahun.

Saya bukan ingin menceritakan bahwa saya adalah orang yang patut dicontoh karena sangat sabar menghadapi masa penantian itu. Justru sebaliknya, yang ingin saya ceritakan adalah betapa kurangnya kesabaran saya menghadapi semua ini. Saya sudah tak ingat lagi betapa banyak airmata terkuras karenanya. Langkah kaki inipun kadang tertatih-tatih berjalan di antara jatuh dan bangun.

Kini, kalau mengingat semua itu saya menyesal. Malu rasanya diri ini di hadapan-Nya. Dan entah berapa “nilai” yang akan diberikan Sang Juri ketika melihat “prestasi “ saya itu. Ingin rasanya memperbaiki, tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin yang bisa saya lakukan sekarang adalah bahwa saya harus lebih memperbaiki diri dan senantiasa ridho sepenuh hati pada-Nya. Alhamdulillah, kesempatan itu masih terbuka lebar sebelum Malaikat Izrail datang memanggil.

Banyak orang mengatakan bahwa hal yang tidak disukai dalam hidupnya adalah menunggu. Menunggu memang membosankan. apalagi menunggu sesuatu yang belum pasti terjadi. Tapi menunggu juga mengasyikkan karena melatih jiwa menuju sabar. Sabar menunggu janji-Nya yang pasti terjadi, karena Allah Maha Menepati Janji. Seandainya Allah tak memberi untuk kita jodoh di dunia, maka Dia akan memberikannya di akhirat.

Tetap bersyukur dan meyakini bahwa Allah Mahaadil akan menguatkan jiwa kita ketika ujian datang menyapa. Allah mengingatkan kita,”Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).

Teriring salam untuk semua sahabat’senasib’ku….tetap tingkatkan ketaatan, kesabaran dan kesyukuran kalian ya…yakinlah Alloh sangat menyayangi kita, telat menikah tapi hepi bo’…:->

2 thoughts on “Telat Menikah

  1. Buat Mia, seperti yang tertulis di artikel, jangan dicontoh tuhh…. Apabila niat telah ditetapkan, ikhtiar dijalankan, Insya Allah akan dibukakan jalan selebar-lebarnya. Jangan menunggu, segera jemputlah…….. Ditunggu undangannya se kantor, hehe

    iya pak Ade…
    siapapun orang yang normal…pasti pengen menikah,
    dan orang yang pengen…biasanya pasti berusaha!
    manusia hanya bisa berusaha, hasilnya DIA yang menentukan.
    Meskipun sudah berusaha dengan segala upaya, kalo belum waktunya, kita bisa apa??hehe.
    Kadang secara kasat mata, saya suka melihat…”hidup itu tidak adil”, ada orang yang niatnya pengen cepat menikah, malah sulit sekali menikah, banyak sekali hambatannya sampai ke sana. Tapi di lain pihak, malah sebaliknya…!;)
    yang penting tetap yakin…ALLAH SWT Maha Adil…di balik semuanya pasti ada hikmah dan keadilanNYA yang kadang sering tidak kita sadari.
    Tetap mohon doa dari semuanya…semoga DIA memudahkan segala niat baik kita.
    Makasih pak Ade…udah mampir dan kasih komen:) Ngeblog juga ateuh?!😀

  2. Saya sering merenung, apa bedanya nasib dan takdir. Banyak berpandangan bahwa takdir adalah kejadian saat ini ke masa lalu, sedangkan nasib dari saat ini ke masa depan.
    Takdir tidak bisa ditolak atau dikembalikan lagi tetapi nasib bisa.

    Ada kalanya ketika ingin mencapai suatu tujuan sangat susah sekali tercapai. Pada saat itu kita harus bercermin pada diri sendiri dan mengkaji niat, ikhitiar kita dengan kenyataan.

    Apakah niat itu sudah 100%, ternyata seringkali kenyataannya tidak 100%, tetapi 99,99%, masih ada 0,1% penolakan/keraguan dalam diri kita.

    Seringkali kita merasa ikhtiar yg sudah dilakukan sudah paling optimal, tetapi masih banyak jalan yang belum ditempuh.

    Ketika kita melihat kenyataan sangat menyakitkan tetapi kita tidak sadari bahwa itu adalah hasil perbuatan kita.

    Berusaha, berusaha, berusaha tanpa lelah dan terus menerus mengkoreksi diri sendiri, Insya Allah tujuan akan tercapai. Allah tidak akan menyia-nyiakan umatnya yang selalu berusaha untuk menggapai tujuan dijalanNya.

    Nyontek dulu yah :
    ”Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).

    Allah tidak akan mengingkari janjinya yaitu Surga yang disediakan bagi yang sudah melewati ujianNya. Apakah kita satu diantaranya??

    Jadi ingat pepatah produktivitas :
    “Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok hari harus lebih baik dari hari ini”

    Semoga ceramah ini bisa bermanfaat untuk khotib pada khususnya dan pembaca pada umunya (asa Jum’atan, hehehe).

    Mangga kanggo Mia, selamat berjuang untuk segala hal kebaikan, salah sahijina 30 tidak terlampaui.

    betul banget pak Ade…
    terima kasih banyak khutbah jumatnya…hihihih…
    yang terpenting pada saat kita gagal di ujung suatu usaha adalah memikirkan cara lain utk terus berusaha supaya sampai ke tujuan. Jadi ingat salah satu thread “Belajar dari Semut“.
    Kalau prinsip saya dalam berusaha:”Jika kita gagal di langkah ke 100, lakukan lagi langkah berikutnya, mungkin sukses itu ada di langkah ke -101, …dst”
    Dan kadang, usaha yang sama untuk hal yang sama, belum tentu hasilnya sama untuk semua orang, karena ALLAH SWT juga memberikan ujian yang berbeda untuk masing2 orang. Makanya, kita dituntut untuk terus terampil menyiasati setiap persoalan, dan yang tak kalah pentingnya(selain terus berusaha) adalah kita harus tetap bersyukur dengan kondisi yang ada sekarang.

    untuk pak Ade…jangan bosen untuk ngasih wejangannya di sini yaaa…Jangan lupa ‘subsidi’nya juga…hihih…!!

    semoga kita bisa memaknai setiap detik hidup kita dengan hal yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s