Bahaya Stres

Stres Berkepanjangan Bisa Dorong Pembunuhan
Dokter Teddy, ”Bila ’Nrimo’ tidak Akan Ada Masalah

BANDUNG, (PR).-
Stres sedikit demi sedikit dan berkepanjangan yang tidak teratasi, sangat berbahaya dan bisa mendorong bunuh diri atau pembunuhan. Hal itu bisa terjadi pada seorang wanita dengan kecenderungan berkarier lalu ”dipaksa” untuk menjadi ibu rumah tangga.

Demikian antara lain dikemukakan Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Teddy Hidayat, Sp. K. J., beberapa waktu lalu. Ia dimintai pendapatnya mengenai kemungkinan kondisi kesehatan jiwa Ny. AKS (31) yang diduga melakukan pembunuhan terhadap ketiga putranya.

”Stres semacam itu lebih berbahaya daripada stres besar yang langsung terlampiaskan. Seorang ibu rumah tangga jika sifatnya memang nrimo tidak akan ada masalah. Tapi bisa menjadi sesuatu yang traumatik jika dia pada dasarnya adalah seorang yang berkarier,” ujarnya.

Hal semacam itu, menurut dr. Teddy, akan terungkap dalam penyusunan visum et repertum psikiatrikum. Ini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa Ny. AKS saat dia melakukan pembunuhan. Perubahan (deformasi) sekecil apa pun pada sikap pelaku amat penting untuk diteliti.

Tidak impulsif

Melihat kronologi pembunuhan yang dilakukan tidak dalam waktu bersamaan, dr. Teddy menyimpulkan hal itu tidak dilakukan secara spontan. Pembunuhan impulsif biasanya terjadi secara tiba-tiba, spontan dan reaktif. ”Ini yang sangat menarik, saya kira. Kenapa tidak dalam satu hari?” ujarnya.

Tindakan ekstrem semacam itu, bisa juga dilakukan sebagai pelampiasan adanya persoalan dengan suami. Dalam kasus ini, anak menjadi simbol hubungan dirinya dengan suami. ”Harus ditelusuri juga relasinya dengan suami. Bisa saja ada masalah lalu dialihkan pada anaknya,” ucapnya.

Dugaan lainnya adalah Ny. AKS mengalami epilepsi psikomotorik. Jika sedang kambuh, penderita mengamuk, bicara ngawur bahkan bisa lepas kendali. Namun, kondisi ini bisa dieliminasi melalui pemeriksaan fisik dengan CT-Scan, MRI dan sebagainya.

Ilmu kedokteran jiwa juga mengenal adanya halusinasi dalam kelompok gangguan jiwa berat. Orang bisa membunuh karena halusinasi. ”Halusinasi itu kayak mimpi, cuma dalam keadaan sadar. Lamanya waktu halusinasi tergantung kondisi kesehatan jiwanya. Kalau skizofrenia bisa seumur hidup, tapi ada yang hanya tiga bulan lalu bisa diobati,” ucapnya.

Kemungkinan lain pada kasus penganiayaan anak adalah pelaku pernah mendapatkan perlakuan serupa pada masa kecilnya. Sifatnya sering kali impulsif dan pelaku merasa bersalah ketika melakukan penganiayaan.

Berbagai kemungkinan itu, kata dr. Teddy, bisa dikerucutkan antara lain dengan tes psikomatrik MMPI (Minnesota Multifasic Personality Inventory) versi 2. Tes berisi 567 pertanyaan itu bisa “membedah” kepribadian seseorang hingga kecenderungan untuk melakukan pembunuhan.

”Bagi saya, peran pemeriksaan psikiatrik sangat penting. Kita ingin menegakkan hukum yang benar. Jangan menghukum yang tidak salah tapi juga jangan membebaskan yang salah,” tuturnya. (A-131)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s