Pembantuku Sayang

pembokatPembantu, atau orang yang memberikan bantuan kepada kita untuk meringankan pekerjaan rumah sehari-hari, bagi sebagian orang mungkin pekerjaan ini dianggap remeh dan hina. Tapi untuk orang-orang tertentu, misalnya pasangan suami istri yang bekerja dua-duanya, peran pembantu ini menjadi sangat penting.

Meskipun kadang pembantu memberi masalah yang rumit bagi majikannya, tetapi tetap saja keberadaannya selalu dibutuhkan. Kasarnya banyak orang yang tidak kapok memiliki pembantu meskipun sudah berapa puluh orang yang sudah jadi mantan pembantunya; entah dijadikan mantan karena dipecat secara tidak hormat, si pembantu yang mengundurkan diri atau pergi tanpa kabar dan tidak kembali.

Ada banyak cerita di sekitar kita tentang pembantu, mulai dari yang polos, ganjen, o’on, tulalit, malas, suka mencuri, kerjanya jelek, ga jujur, dan lain sebagainya. Beberapa teman saya memiliki pengalaman yang beragam tentang pembantunya, ada yang suka berpakaian seksi, handphone maniac(tidak pernah berhenti ber-HP ria, kapanpun dan dimanapun), tulalit/o’on, suka berbohong, sering minjam uang(kasbon), bahkan ada yang suka berpacaran di rumah majikannya pada saat yang punya rumah sedang tidak ada.

Bagi saya sendiri, pengalaman memiliki pembantu dimulai pada saat baru menikah. Dari kecil sampai beberapa bulan setelah menikah, saya tidak terbiasa dengan keberadaan pembantu, karena ibu saya selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, selain itu anak-anaknya terutama saya selaku anak perempuan satu-satunya, selalu dibiasakan untuk membantu beliau memasak, mencuci dan mengurus rumah. Tetapi kondisi setelah menikah, ternyata sangatlah berbeda, terlebih lagi kondisi saya selaku ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah, sangatlah sulit mengatur waktu, tenaga dan pikiran supaya semua tugas bisa ditangani dengan baik. Tangan saya yang cuma dua, ternyata memang tidak cukup mampu untuk mengerjakan semuanya, walaupun semangat masih berkobar-kobar, tapi apa daya tangan tak sanggup.

Jika pekerjaan rumah terselesaikan dan rumah rapi jali, maka hobi saya terabaikan, saya tidak sempat baca-baca buku, tidak sempat yoga, apalagi pergi ke spa. Dan sebaliknya, jika saya keasyikan mengerjakan hobi, maka rumah akan kotor, berantakan seperti kapal pecah. Akhirnya, pada bulan ketiga pernikahan, saya mulai hunting pembantu, tanya-tanya upah umum pembantu, mulai tarif yang cuma cuci-gosok saja, atau pembantu yang all day care, mengerjakan semua pekerjaan rumah.

Inilah cerita mengenai pembantu-pembantu saya:

Pembantu pertama, orangnya tipe “pebisnis” sekali, benar-benar gak mau rugi, penuh dengan tawar menawar, dari sebelum bekerja saja sudah nawar, padahal saya juga sudah tahu “harga pasaran” untuk tenaganya dia. Karena saya orangnya malas ngotot-ngototan, ya sudah, ngalah saja, dengan niat pengen liat dulu kerjanya dia, kalo tidak memuaskan ya pecat saja, cukup sebulan pake dia, begitu pikir saya waktu itu. Mulailah dia bekerja, sebut saja namanya mbak P.

Mbak P ini sebenarnya kerjanya cekatan, malah cenderung terburu-buru, mungkin karena dia kejar setoran di tempat lain juga(setau saya dia bekerja di 3 rumah). Entah karena rumah saya adalah rumah ketiga yang dia kunjungi setiap harinya, sehingga dia bekerja di tempat saya dengan sisa tenaganya, dan tentulah hasil pekerjaannya mengecewakan, terutama untuk cuci piring, saya sering sekali menemukan alat makan yang masih kotor, atau masih bau sabun. Akibatnya, suami saya lah yang paling sering uring-uringan, bahkan dia sampai ngotot pengen memecat si mbak P ini secepatnya, padahal baru juga kerja beberapa hari…hehe…

Ada lagi yang saya gak suka dari mbak P ini, orangnya ngatur banget, mungkin karena dia melihat saya lebih muda darinya, dia berani banget untuk kerja semau-maunya, penuh tawar-menawar. Mulai dari waktu kerja, asalnya saya minta dia kerja pagi-pagi, sebelum kami pergi ngantor, terus dia nawar lagi, gak bisa katanya, karena pagi harus kerja di tempat lain, dia minta kerja siang-siang pas saya di kantor. Saya ijinkan saja, dengan catatan dia harus ambil dan antar kembali kunci rumah ke kantor saya, yang kebetulan jaraknya ga terlalu jauh, 5-10 menit jalan kaki. Sehari dua hari, dia masih mau bolak-balik ambil kunci, tapi hari ketiga, dia nawar lagi, katanya malu sama satpam kantor saya karena harus bolak-balik nganterin kunci, trus dia minta pegang kunci duplikat. Ya sudah, saya buatkan juga. Minggu pertama sampai minggu kedua, tidak ada keluhan, cukup damai. Masuk minggu ketiga, dia mulai komplen lagi, katanya dia kecapean kerja, terlalu banyak yg dia pegang, terus dia minta naik gaji…dia cerita bahwa dia sedang berjuang untuk menyekolahkan anaknya. Aseem dah…belom juga kerja sebulan, dah minta naik gaji. Saya mulai jengkel, saya bilang ke dia kalau emang kecapean kerja, tolong carikan orang buat kerja di tempat saya. Eh dia bilang, katanya sudah ditawarkan ke temannya, tapi gak ada yang mau….**jadi mau loe apa,mbok??**. Akhirnya, saya gak terlalu menggubris lagi keluh-kesahnya dia, toh sudah mantap dalam hati, pas saya ada uang, saya mau bayar gaji dia, sekaligus PHK. Selesai!

Pembantu kedua, orangnya lugu, cantik, dan look smart; sebut saja namanya Mawar(hihi…seperti nama korban di berita kriminal). Si Mawar ini pada saat mulai bekerja di saya, belum 3 bulan tinggal di Jakarta, dia ikut suaminya yang sudah lama kerja di sini sebagai tukang angkut sampah yang sering lewat rumah saya. Mawar lebih muda dari saya, meskipun sudah punya 1 orang anak dan ditinggal di kampung bersama neneknya.

Ada yang saya suka dari Mawar, cara berpakaiannya yang rapi dan sopan, dan dia tidak suka membuka jilbabnya pada saat bekerja, jika kebetulan suami saya sedang di rumah. Saya juga suka, jika dia disuruh merapikan buku-buku saya, dia kadang membacanya bahkan suka meminjam beberapa untuk dia baca di rumahnya. **Saya jadi curiga, jangan-jangan dia mahasiswi yang sedang menyamar jadi pembokat** Saya dan suami juga cukup puas dengan hasil kerjanya yang bersih, rapi, dan punya inisiatif sendiri untuk bekerja, tanpa perlu saya capek-capek ngasih instruksi. Tapi sayang sekali, hubungan kerja kami dengan Mawar tidak bisa bertahan lama, dia kembali ke kampung dengan alasan anaknya gak mau diajak ke Jakarta, dia juga bilang sebenarnya dia betah kerja di saya, tapi dia berat ninggalin anaknya. Ya sudah, selamat jalan,Mawar…terima kasih untuk pengabdiannya kepada kami.

Pembantu ketiga, sebut saja ibu koming.com; sudah hampir 2 minggu bekerja di rumah saya, mengerjakan semua pekerjaan rumah, kecuali masak. Hasil kerjanya lumayan memuaskan, hasil cuciannya bersih, dan setrikanya rapi, ngepelnya juga bersih, yang agak kurang adalah hasil cuci piringnya, kadang suka kurang bersih untuk kotoran berupa lemak atau sisa-sisa makanan yang berkerak, selain itu juga cara menata peralatan di rak pengering tidak memuaskan, padahal saya sudah memberi tahu sekaligus memberi contohnya, tapi entahlah, mungkin sudah kebiasaan. Untuk kebiasaan yang satu ini, kadang saya suka cuci piring sendiri saja.

Begitulah kisah para pembantu saya sampai saat ini, semua ada lebih dan kurangnya, tapi yang pasti saat ini saya cukup terbantu. Dengan keberadaan mereka saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk kesenangan saya seperti membuat pernak-pernik, membaca buku dan majalah favorit saya, menonton film sambil mengemil, yoga tiap hari, blogging, belajar masak lagi, dan yang lebih penting saya memiliki banyak waktu bersama suami, seperti jalan-jalan di akhir pekan tanpa harus ‘bekerja bakti’ dulu mencuci baju kotor selama seminggu, nonton film ke bioskop dalam kondisi yang masih fresh, bukan sisa tenaga; dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Ternyata memiliki pembantu banyak untungnya, selain kita memiliki lebih banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal-hal yang lebih penting, kita juga turut membuka lapangan kerja untuk orang-orang di sekitar kita yang memiliki keterbatasan skill, keterbatasan ilmu, dan keterbatasan modal untuk berusaha. Semoga dengan begitu, kita bisa mengurangi jumlah “ekspor” TKI ke luar negeri.

Memang gaji di sini tidak lebih tinggi daripada pembantu di luar negeri, tapi setidaknya mereka bisa tetap berada di negeri sendiri, dekat dengan keluarga dan saudara-saudaranya. Meskipun kita tidak bisa memberi gaji yang tinggi, karena pertimbangan “tidak ingin melanggar standar gaji umum”, tapi kita juga bisa memberi lebih kepada mereka, misalnya memberi makanan jika kebetulan kita berlebih, atau pakaian layak pakai, atau goodwill lainnya.

Bagaimana dengan anda??

–eh ada cerita sambungannya lho…baca aja di sini ya…!😉 —

One thought on “Pembantuku Sayang

  1. alhamdulillah mi….hehehe ternyata….sama mia….semua ternyata juga sama selalu bermasalah dengan beberapa prt nya yg mantan-2 walau gak semua berhenti karena bermasalah dgn kita…..sekarang aq bersyukur ada prt yang gak ngitung-2 tenaga jarang-2 nih dapat yg kayak begini, walaupun minta ampun joroknya,hehehe…:-D, sampe-2 aku selalu membersihkan apa yg dia kerjakan, kalo disuruh ngasih makan anak-2 sampe ke rambut-2 nasinya,hahaha…..sering barang-2 yg dia pegang asal taruh, ikut main sama anak-2 tapi gakberesin kembali, grrrhhhhh…..baju-2 kotor sembarang lempar serasa dirumah dia sendiri aja, yg paling susah suruh nyuci botol susu selalu tercium susu basi, dan juga kebiasaan dia ngomong kayak orang mau berantem emang style nya dari dulu gitu dari pertama kerja ….dgn segala usaha dan kadang naik pitam juga yah..sekarang dah 2 tahun lumayan ada peningkatan 30% lah..hihihihi….tapi anak-2 sayang banget ma dia walaupun kurangnya banyak karena dia orangnya polos bener-2 sayang ama anak-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s