September Ceria

Setiap masuk bulan september, saya suka teringat beberapa teman yang menikah di bulan ini. Kebahagiaan yang mereka rasakan pada saat itu, mungkin sama dengan apa yang saya rasakan, karena saya juga diberi kesempatan oleh-Nya untuk memulai hidup baru pada bulan ini.

Hari ini, tiga tahun yang lalu, tepat 16 hari menjelang hari-H, saat itu berbagai perasaan campur aduk menjadi satu, bahagia, deg-degan, stres, bingung, khawatir, juga berbagai rasa lainnya, dan yang pasti capek fisik, karena saya harus bolak-balik Jakarta-Bandung.

Selain persiapan untuk pernikahan, pekerjaan kantor pun cukup menyita energi dan pikiran. Bagaimana tidak, pada saat itu untuk pertama kalinya saya diberi tanggung jawab penuh oleh kantor untuk meng-handle suatu proyek. Tapi pernikahan juga merupakan proyek yang sangat besar sepanjang hidup saya, sama-sama harus diperjuangkan; bahkan lebih harus diprioritaskan dari proyek apapun. Hehe.

Persiapan pernikahan yang hanya lebih kurang 20 hari sejak ditetapkan tanggal, merupakan proyek yang agak “mustahil” bisa berjalan dengan sukses, dengan segala keterbatasan yang ada. Saya sering mendengar, ada orang yang sudah mempersiapkan pernikahan selama 6 bulan sampai 1 tahun pun, acara masih berjalan kurang sukses, dan berasa kurang waktu, apalagi saya yg hanya memiliki waktu 20 hari dikurangi hari kerja saya dan calon suami di Jakarta, efektifnya mungkin cuma 1 minggu setelah saya diizinkan cuti oleh kantor. Tapi saya dan calon suami pada saat itu yakin, bahwa kami berdua bisa mempersiapkan semua dengan sebaik-baiknya.

Bagi anda yang berniat untuk memulai hidup baru, tapi dihadapkan pada segala macam keterbatasan, seperti waktu dan biaya, jangan menyerah!! Mungkin pengalaman kami bisa dijadikan salah satu acuan.

Berikut ini adalah pengalaman kami pada saat persiapan pernikahan:

Urusan KUA
Hal terpenting yang harus diperhatikan pada saat kita akan melaksanakan pernikahan adalah keabsahan pernikahan itu sendiri, jika ingin tercatat secara sah, diakui oleh agama, juga negara. Langkah yang harus dilakukan adalah mengurus dokumen-dokumen penting yang menjadi syarat terjadinya pernikahan. Untuk calon mempelai wanita, harus ada surat keterangan dari RT/RW yang sesuai dengan KTP tempat dimana dia tinggal. Sedangkan untuk laki-laki, harus ada NA(saya ga tau persis, apa singkatannya), tapi semacam surat keterangan juga, dari RT/RW, sampai tingkat Kelurahan. Surat-surat tersebut yang sudah disahkan oleh pejabat setempat, kemudian harus diserahkan kepada pihak KUA, tepatnya diserahkan kepada penghulu tempat dimana pernikahan tersebut akan dilangsungkan(biasanya di tempat tinggal mempelai perempuan).

Tempat Akad dan Resepsi
Untuk yang beragama Islam pemilihan mesjid merupakan tempat yang tepat untuk meresmikan ikatan suci ini,(makanya banyak yang menikah di Mekkah ya, meskipun ga ada jaminan langgeng juga, hehe). Pada saat itu saya memilih Masjid Agung Cimahi menjadi tempat akad sekaligus resepsi, karena kebetulan mesjid ini selain strategis, juga memiliki ruang serba guna yang bisa digunakan untuk pesta kecil-kecilan dengan undangan sampai 300 orang. Ruangannya cukup bersih, dan harganya pun lebih murah dibandingkan dengan gedung. Ada kelebihan lainnya, jika kita melangsungkan pernikahan di area mesjid, yaitu bisa berbagi rezeki dengan saudara-saudara kita yang jadi pengurus di sana.

Kartu Undangan
Jika waktu sudah sangat mendesak, sebaiknya carilah teman yang memiliki kenalan yang kerja di percetakan kartu undangan, karena umumnya kartu undangan dicetak minimal 1 bulan sebelum hari-H. Saya sendiri saat itu memesan di temannya kakak yang kerja di percetakan, desain saya masukkan 2 minggu sebelumnya, seminggu kemudian orang percetakan akan mengkonfirmasi isi undangan dengan memberikan 1 contoh undangan yang akan diperbanyak. Jika tidak ada kesalahan penulisan, maka kartu bisa langsung dicetak sebanyak jumlah yang diinginkan; dan 3 hari kemudian undangan sudah bisa diambil dan siap disebar. Sebenarnya waktu 2 minggu sangatlah kurang, dan cukup beresiko untuk pembuatan kartu, karena kemungkinan salah cetak atau isi yang tidak sesuai,sangatlah tinggi. Selain itu, waktu untuk pengiriman undangan juga sangat kurang.

Salon dan Fotografi
Pada saat itu salon yang saya pilih kebetulan ada rekanan dengan studio foto, sehingga cukup kontak orang salonnya, 2 kebutuhan terpenuhi, salon dan foto. Bahkan salon yang saya pakai saat itu ternyata menerima pembuatan gaun pengantin juga, hebatnya dia bisa menyelesaikan 1 kebaya dan kerudung berpayet dalam waktu kurang dari 1 minggu, padahal jika dibandingkan dengan tukang jahit sebelumnya dibutuhkan waktu 3 minggu, itupun tidak termasuk pemasangan payet.
Jadi, untuk para calon pengantin, pintar-pintarlah memilih salon.

Katering
Jika biaya anda terbatas dan tidak memungkinkan untuk mengambil katering, pilihan memasak sendiri, mungkin bisa jadi solusi. Kebetulan ibu saya ada teman yang biasa masak di katering, jadi di-hire-lah dia bersama seorang stafnya, dan untuk armada masak lainnya, kami dibantu oleh saudara, kerabat, dan tetangga. Yang pada hari-H mereka bisa merangkap juga sebagai penjaga stan makanan. Hebat kan??:D Sedangkan untuk peralatan, bisa menyewa beberapa barang dari perusahaan katering atau pemberi jasa sewa peralatan pesta. Terhitungnya akan lebih murah.

Souvenir
Waktu 2 minggu, juga tidaklah memungkinkan untuk memesan souvenir, kecuali membeli souvenir yang sudah jadi.
Tapi pada saat itu, saya berinisiatif untuk membuat souvenir sendiri, yang walaupun tidak eksklusif tapi saya punya desain sendiri yang mungkin pada saat itu tidak pernah ada yang sama dengan souvenir-souvenir pernikahan lainnya. Dengan bahan-bahan murah, saya ciptakan souvenir pernikahan saya, sangat sederhana, tapi semoga saja bermanfaat untuk mereka yang mendapatkannya.

Karena bahan yang digunakan adalah manik-manik kecil, saya mengumpulkan sejumlah anak-anak tetangga usia SD untuk membantu, saya memberi upah Rp.100 untuk setiap untai manik-manik yang mereka buat, pekerjaannya sangat mudah, hanya memasuk-masukkan manik-manik ke dalam benang; kemudian untuk finishing touch dan QA, saya sendiri yang melakukannya, dengan demikian saya bisa memastikan kualitas souvenir tetap terjaga,hehe. Anak-anak itu sangat membantu, karena mereka berlomba untuk menghasilkan banyak, supaya upahnya juga banyak. **Senangnya bisa menciptakan lapangan kerja, meskipun sesaat. Ini menjadi salah satu kesan istimewa untuk pernikahan saya yang semoga cuma 1 kali seumur hidup. Aamiin**

Fiuuuhh….capek ya ngurus-ngurus pernikahan, sekarang mari kita bernyanyi, hehe…!Lagu ini saya persembahkan juga untuk teman-teman saya yang menikah di bulan September.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-9(8 September) untuk bu Sussy dan pak Budi; dan
Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-4(10 September) untuk Enggar dan Didi.

Semoga kita semua selalu dalam keberkahan-Nya.

Untuk yang membutuhkan file mp3-nya bisa diambil di sini.

Ini klip jadulnya:

SEPTEMBER CERIA

Di ujung kemarau panjang, yang gersang dan menyakitkan
Kau datang menghantar berjuta kesejukan
Kasih…kau beri udara utk nafasku
Kau beri warna bagi kelabu jiwaku

Tatkala butiran hujan, mengusik pipi yg semu
Kau hadir di sini di batas kerinduanku
Kasih, kau singkap tirai kabut di hatiku
Kau isi harapan baru utk menyongsong masa depan bersama

September ceria, september ceria
Milik kita bersama

Ketika rembulan tersenyum di antara mega biru
Kutangkap sebersit isyarat di matamu
Kasih, kau sibak sepi di sanubariku
Kau bawa daku berlari dalam asmara dan mendamba bahagia

September ceria, september ceria…
Milik kita bersama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s