[eMBi]Perjuangan Trimester Pertama

Setelah mendapati test pack terindah, hari itu juga saya dan suami menemui dr.Taufik di RSIA Bunda, untuk memastikan apakah saya hamil atau tidak. Kemudian dokter melakukan USG transvaginal, untuk melihat kondisi rahim.

Berhubung saya datang terlalu cepat(baru 2 hari keterlambatan haid), diperkirakan usia janin baru 2 minggu, sehingga kantung janin belum terlihat. Tapi rahim pada saat itu sudah mengalami pembesaran dan dindingnya menebal. Dr.Taufik menyarankan saya untuk melakukan cek darah untuk mengetahui kadar beta-HCG secara kualitatif supaya kondisi kehamilannya juga bisa diketahui, baik atau tidak. Sedangkan pengujian dengan test pack merupakan uji kuantitatif dari kadar beta-HCG.

Hari itu juga, saya cek darah ke lab. Kemudian keesokan harinya hasil tes sudah bisa diketahui, dan nilai beta-HCGnya adalah 902,8. Sesuai pesan dr.Taufik, saya langsung meneleponnya untuk memberitahukan hasil lab. Dokter sempat kaget juga, dan menyangka saya salah baca hasilnya, dokter menyangka nilainya 602, tapi kemudian beliau mendoakan semoga kehamilan saya baik-baik saja.

Setelah saya googling tentang nilai kadar beta-HCG ini, saya sempat kuatir juga, karena nilai setinggi itu di usia kehamilan yang masih baru(normalnya, nilai beta-HCG di usia kehamilan 2-5 minggu adalah 200 – 500), ada 2 kemungkinan: hamil kembar atau hamil anggur(janin tidak berkembang,tapi berbentuk gelembung-gelembung seperti kumpulan buah anggur). Saya berusaha untuk terus positive thinking, mencari tahu apa itu hamil anggur, penyebab dan gejalanya. Saya cukup tenang saat itu, karena semua gejala hamil anggur, tidak saya rasakan. Saat itu saya yakin saja, saya hamil kembar, karena saya merasakan ada 2 getaran di kiri dan kanan perut saya. Meskipun yang paling sering saya rasakan adalah getaran dan perut agak sakit di sebelah kanan. Setelah itu saya berusaha tenang dan menikmati kehamilan saya, dengan tidak banyak berpikir yang jelek-jelek.

Perjuangan trimester pertama pun dimulai. Selama 12 minggu kehamilan, eMBi menjadi jalan bagi saya untuk merasakan banyak hal tentang hidup terutama perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Saya yang selama ini hampir tidak pernah tahu bagaimana rasanya sakit, (kecuali pada saat menjelang dan beberapa hari setelah haid), akhirnya bisa tahu bagaimana rasanya bersin-bersin berat, pening, badan gak karuan, meriang, kedinginan, pegal-pegal, mual, gak nafsu dan ga enak makan apapun, serta muntah-muntah berat(keringat dingin bercucuran, badan melengkung-lengkung, serta tenggorokan seperti dicekik, sakit sekali). Subhanalloh, akhirnya saya bisa mensyukuri nikmatnya sehat yang sebelum hamil mungkin saya anggap biasa saja.

Banyak kejadian-kejadian penting, selama trimester pertama. Antara lain, saya mengalami pendarahan yang cukup membuat saya,suami, dan seluruh keluarga khawatir. Karena bagaimana pun, ini kehamilan pertama yang kami tunggu-tunggu selama 3 tahun, dan tentunya kami sangat takut kehilangan eMBi.

Cerita lengkapnya lebih kurang seperti berikut:

4 Minggu pertama kehamilan, saya belum merasakan gejala kehamilan yang mengganggu, makan saya masih biasa saja, bahkan cenderung banyak. Badan masih segar, tidak terasa pegal, ataupun lelah dan mengantuk. Semuanya masih biasa saja. Makanya pada saat kontrol, berat badan saya naik 2 kg dalam waktu 2 minggu.

31 Oktober 2009, ini kontrol pertama kami setelah saya divonis hamil. Usia eMBi saat itu sudah masuk minggu ke-4, sekarang kantong janinnya sudah kelihatan. Gambarnya seperti berikut:
eMBi@PiBi
Dari gambar terlihat ada 2 badan(kantung janin), sebelah kiri dan kanan yang ukurannya hampir sama, tapi untuk yang kiri(lebih hitam) dan tidak memiliki titik putih yang berkedip-kedip. Sedangkan untuk kantung yang di kanan, seperti yang ditunjukkan oleh tangan dr.Taufik, itu adalah jantung eMBi yang berkedip-kedip, denyutnya masih lemah. Dugaan kami selama ini yang menyangka ada 2 eMBi(eMBi Kiri & eMBi Kanan), mungkin benar adanya, meskipun dokter ragu untuk memastikan badan hitam yang di sebelah kiri itu janin atau bukan(karena tidak ada denyutnya), tapi dokter mengatakan badan tersebut seperti kantung janin yang collapse(pecah/tidak berkembang). Saat itu dokter juga menanyakan, apakah kami ada turunan kembar atau sebelumnya pernah program fertilitas buatan(inseminasio atau bayi tabung), karena selama ini pasiennya dr.Taufik yang mengalami kehamilan kembar kebanyakan adalah yang mengikuti fertilitas buatan. Saya bilang, saya ada turunan kembar, tetapi tidak sempat melakukan inseminasi, ini kehamilan alami saja, seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

First Bleeding
Hari yang sama, setelah mengambil resep kami pulang dan istirahat. Tapi kemudian, pada sore harinya, jam 5an, ketika mau mandi sore, saya kaget mendapati celana dalam yang penuh darah, berwarna merah segar, seperti darah haid. Saya menjerit manggil suami dan menunjukkan darah itu, tapi dia tetap(berusaha) tenang, dan bilang gak apa-apa. Tapi saya tetap gak bisa tenang, sambil gemeteran dan lemes sekali, saya telpon dr.Taufik dan memberitahukan kejadian tersebut. Dokter yang waktu itu sedang praktek di RS.Hermina Jatinegara, akhirnya meminta kami menemuinya segera. Akhirnya berangkatlah kami ke sana. Sepanjang perjalanan, kami berdua banyak diam, saat itu suami mengingatkan bahwa “apapun yang terjadi kita sudah berusaha menjaga sebaik-baiknya, jika yang Memilikinya akan mengambilnya kembali, semua bukan milik kita…”. Saya diam, tapi terus berusaha menguatkan diri untuk menerima kenyataan yang terjelek.

Sampai rumah sakit, saya sempat ke toilet, dan darah itu masih keluar, tetap merah segar. Saya makin lemas, duduk di ruang tunggu menunggu panggilan. Suami tetap berusaha menenangkan, tapi saya tetap gak bisa tenang sampai tahu apa yang terjadi. Karena gak tahan menunggu panggilan, saya beranikan diri sms dr.Taufik, “dokter, saya sudah di lt.4, darahnya masih keluar,banyak”. Tidak lama setelah sms itu dikirim, tiba-tiba ada perawat yang membawa kursi roda memanggil nama saya, ternyata dia disuruh dr.Taufik untuk membawa saya ke ruangan bersalin, karena saat itu dokter sedang ada tindakan di sana.

Setelah di-over kesana-kemari(sempat masuk ruang opname juga), akhirnya saya dibawa ke ruang kuretase, hiks…makin tegang deh…, beberapa perawat memeriksa bagian dalam saya, sambil bertanya, apa darahnya banyak, perut sakit/kram, dan lain-lain. Saya bilang, darahnya banyak(versi saya, hihi), tapi perut gak sakit. Tidak lama kemudian, dokter datang dengan pakaian operasi, dia melihat hasil pemeriksaan perawat, beliau tertawa, “hehe…ini sih gak apa-apa, kirain saya bayinya harus langsung dikeluarkan…abis tadi bilang darahnya banyak”.**hihih…jadi malu, ternyata ukuran “banyak” kita gak sama…**
Setelah itu saya kembali dibawa ke ruangan dokter untuk USG memeriksa kondisi janin dan memastikan sumber darahnya. Ternyata eMBi gak apa-apa, kondisinya baik-baik saja, sedangkan sumber darah itu berasal dari perpanjangan jaringan rahim yang tumbuh ke luar berbentuk polip sepanjang 1 cm, kata dokter, pendarahan bisa terjadi karena gesekan pada polip tersebut, polip ini sering terjadi pada beberapa ibu hamil yang memiliki kadar estrogen dan hormon kehamilan yang tinggi. Pendarahan yang hebat, memang bisa membahayakan janin, untuk menghindarinya ibu hamil harus banyak istirahat, jangan banyak berjalan kaki, dan berhubungan suami istri, karena hal tersebut bisa memicu pecahnya pembuluh darah pada polip.

Morning Sickness
Memasuki minggu ke-5, akhirnya saya mengalami morning sickness, bahkan all day sickness(dari pagi sampai malam). Pagi-pagi setiap bangun tidur, perut rasanya mual banget, tiap bangun tidur gak bisa langsung beranjak dari tempat tidur, karena kepala pusing, badan gak enak banget, pegal dan lemes. Suara “uo-uo”(suara orang mau/sedang muntah) menjadi rutinitas yang menghiasi suasana pagi kami, dan suami saya selalu dengan sigap mengambilkan kantong plastik serta air putih hangat setiap dia mendengar saya mulai ber-“uo-uo”. Dia akan selalu siap memijat punggung, leher, dan kepala saya, sambil berdzikir, setiap mendampingi istrinya muntah-muntah.

Selama jam kantor, semua gejala morning sickness itu gak hilang juga, saat itu merupakan saat yang paling menyiksa, karena harus menahan mual supaya gak muntah di depan teman-teman, hehe…! Jam 17, merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu supaya saya bisa cepat pulang ke rumah, dan bebas untuk ber-“uo-uo” dan tidak perlu menahan muntah.

Minggu ke-5 dan ke-6, merupakan saat tersulit bagi saya, karena susah sekali masuk makanan, minum susu pun pernah sampai dikeluarkan lagi. Tapi saya terus berusaha untuk tetap ada makanan dan minuman yang masuk. Alhamdulillah, buah-buahan dan sayuran masih bisa masuk dan tidak dimuntahkan lagi, begitupun susu hamil yang saya ganti merknya. Selama 2 minggu itu nasi gak bisa masuk sama sekali, jangankan untuk makan, melihatnya pun langsung mau muntah. Saat itu, untuk kebutuhan asupan karbohidrat, saya mengakalinya dengan biskuit gandum, jagung, singkong, dan kentang; bergantian setiap hari.

Karena kondisi morning/all day sickness yang sedemikian menyiksa itu, saya jadi kuatir dengan kondisi janin, setiap sholat saya berdoa supaya diberi kekuatan untuk bisa makan dan minum. Alhamdulillah, walaupun dengan penuh perjuangan menahan mual dan muntah, masih ada makanan dan minuman yang masuk ke tubuh saya, tidak sampai harus dirawat di rumah sakit untuk diinfus. Dan “siksaan” morning/all day sickness itu terus berkurang pada saat memasuki minggu ke-7 sampai ke-12.

eMBi Kiri has gone
7 Nopember 2009, adalah kontrol kehamilan kedua saya, saat itu eMBi memasuki usia 6 minggu. Saat dokter, melakukan USG, kantong janin yang terlihat cuma ada 1, ukurannya makin besar, sedangkan badan hitam yang tampak pada saat kontrol pertama, sekarang sudah tidak ada lagi di tempatnya, meskipun masih ada sesuatu berwarna hitam yang lebih pudar. Akhirnya dokter saat itu memutuskan, bahwa saya hamil tunggal, karena janin yang terlihat cuma ada 1. Suami agak kecewa, karena dia pengen banget punya anak kembar. Tapi kami tetap bersyukur, karena eMBi yang di kanan tumbuh sehat. Alhamdulillah, amanah itu masih kami miliki meskipun cuma 1.

Minggu, 8 Nopember 2009, jam 2 pagi, saya mendadak terbangun karena kebelet ingin buang air kecil. Setelah pipis, saya mendapatkan darah merah agak kecoklatan di tissu yang saya pakai untuk membersihkan bagian pribadi saya. Kaget dan agak shock juga, tapi suami terus menenangkan dan minta saya melanjutkan tidur lagi, dia bilang “paling juga polipnya pecah lagi”. Saya berusaha tenang dan bisa tidur lagi. Tapi saat sholat subuh, bercak darah itu masih tetap keluar, kadang merah segar, kadang merah marun/kecoklatan. Akhirnya saya tidak berani banyak bergerak lagi, semua aktivitas, kecuali BAK, saya lakukan di tempat tidur. Sholat pun saya lakukan sambil berbaring, wudhunya dengan tayamum.

Sampai jam 8 pagi, kondisi belum membaik juga, darah masih terus keluar. Saya terpaksa menelepon ibu yang ada di Bandung, menceritakan kondisi yang sedang terjadi, dan meminta beliau untuk datang mengurus keperluan saya, terutama makan, karena dengan kondisi begitu saya tidak mungkin banyak bergerak, takut pendarahan akan semakin hebat.

Sore jam 16, saya terbangun karena merasa ada rembesan darah yang bikin gak nyaman. Pas dilihat, memang ada darah merah di celana dalam, saya bersihkan dengan tissu, kemudian tayamum dan sholat ashar. Selama sholat saya berusaha tetap tenang, sampai selesai sholat, rasanya udah gak tahan lagi untuk memeriksa rembesan darah, selain itu juga saya merasakan ada suatu benda yang keluar, rasanya lebih padat daripada darah. Pas saya ambil dengan tissu, masyaAlloh…gumpalan seperti daging sebesar kelingking berbalut darah merah tua. Saya langsung sms dr.Taufik, “dokter, maaf mengganggu, saya pendarahan lagi, dan keluar gumpalan sebesar kelingking”. Sambil menunggu balasan dari dr.Taufik, saya sms suami untuk cepat pulang, karena saat itu dia sedang menebus resep ke apotek. Suami mengingatkan saya untuk tetap tenang, kalau tidak nanti eMBi ikut kebawa stres, bahaya.

Tidak lama kemudian, balasan sms dari dr.Taufik, “tolong telp saya”. Saya langsung meneleponnya. Kira-kira begini percakapannya:

dr.Taufik(dr.T) : “gumpalannya seperti apa?”
saya: “kenyal seperti daging,dok. Sebesar kelingking saya.”
dr.T : “Coba cari botol bekas air mineral, isi air, masukkan gumpalannya ke situ, biar nanti diperiksa di lab.”
saya: “iya,dok”
dr.T : “terus sekarang gimana?masih ada rembesan gak?”
saya: “masih,dok. Saya harus gimana?”
dr.T : “kamu datang ke Hermina aja, biar dicek sama bidan, nanti saya tanya dia hasilnya apa.”
saya: “baik, dok!”
dr.T : “Sekarang bedrest!”
saya: “Iya, dok. Makasih.”

Besoknya saya gak masuk kantor, izin ke rumah sakit lagi. Dari hasil pemeriksaan saat itu, janin dalam keadaan baik-baik saja, polip juga tidak mengeluarkan darah, tapi jaringan yang ada di dalam botol belum bisa dipastikan apa, karena harus diteliti dulu di lab.

Saya ingat, gumpalan daging itu ada bagian yang menggelembung di salah satu sisinya, agak-agak bulat, dan dia tidak hancur di dalam air. Sampai saat ini saya belum tahu pasti, apa sebenarnya jaringan itu, karena sampai saat ini saya belum sempat lagi ke Hermina. Tapi saya pernah ngobrol sama teman yang keguguran di usia kehamilan 1 bulan, katanya janin yang keluar itu sebesar kelingking dan gambarannya persis seperti jaringan yang saya kirim ke lab itu. Wallohu’alam, jikapun benar itu bakal anak kami(saudara kembarnya eMBi yang ada di perut saya saat ini), kami sudah ikhlas melepasnya, semoga menjadi tabungan amal di akhirat nanti. Aamiin. Selamat jalan eMBiKi…

9 thoughts on “[eMBi]Perjuangan Trimester Pertama

  1. eMBi sayang….
    baek2 di perut mama Mia ya. semoga eMBi sehat selalu hingga hadir di dunia terang ya. Mama Mia n papa na eMBi sayang sama eMBi..

    terharu*

    Tetap semangat ya bunda.

  2. perjuangan seorang ibu mi….semoga sampe lahiran gak ada lagi yg mengganggu eMBI nya ya mi….amin…ibu hamil sama gak hamil gak sama loh mi…hati-2 ingat-2 perut hehehe…:-D

  3. Mbak saya terharu membaca tulisan mbak,g bs dibayangkan kalo saya yang ada di posisi itu.Saya telat seminggu dan dokter blg kantung janin blum terlihat jls.jd saya diberi penguat dan tggu 3 minggu lagi.

  4. wahhhh mba mia…. baca tulisan ini bikin aku nangiiiiiiiiiiiiiiiis…. inget wkt BO kmrn…😦 sama bgt, yg kluar gumpalan daging gt…
    semoga kehamilan ku yg skrg ini lancar2 aja dan bayinya jg sehat…

  5. @Sabrina & Anggi: semoga qta bisa menjaga amanah-NYA ini ya…tetap tenang, dan positive thinking. semoga semua baik2 saja yaa…

  6. mba saya sempet panik karena tgl 4 maret saya usg transvaginal kok ndak keliatan apa2, dan sempet keluar flek, tp testpack 2x hasilnya positif. tgu kontrol kedua baru tgl 18, masyaAllah lah bener sabar diuji yah sekarang ini.

  7. @tanti: selamat menunggu yaa…sabar saja, tetap berpikir positif dan menjaga diri dan si kecil dg sebaik2nya.insyaAllah semuanya baik2 saja…aamiin!!

  8. ‎​​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Semoga emBIKanya tttp sehat ya….
    Skrg dah brp bulan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s