[eMBi] Akhirnya 40 Minggu(bagian.1)

Alhamdulillah, ini adalah postingan pertama setelah saya melahirkan. Cukup lama sekali tidak update, kira-kira hampir 4 bulan dari postingan terakhir.

Setelah embi lahir ke dunia, tidak berarti perjuangan itu selesai, mungkin tidak akan pernah selesai sampai dia menjadi tanggung jawab orang lain(suaminya nanti), hehe.

Okelah, mari kita mulai ceritanya…

‘Perpisahan’ dengan dokter Taufik
Memasuki minggu ke-37(22 Mei 2010), saya dan suami kembali menemui dr.Taufik di RS.Bunda, dan sekaligus ini adalah pertemuan terakhir dengan beliau menjelang kelahiran embi ke dunia. Saat itu selain ingin mengetahui kondisi embi, kami sekalian pamit dan mengatakan bahwa akan melakukan persalinan di kota Bandung.

Berdasarkan instruksi dari dokter, sebelum masuk ruangan dokter, saya diharuskan masuk ke ruang bersalin untuk melakukan CTG(cardiocarthography), yaitu tindakan untuk mengetahui detak jantung janin, caranya dengan memasang alat pada perut, dan ibu memegang tombol yang harus ditekan setiap merasakan ada gerakan bayi.

Dari literatur-literatur yang saya baca, normalnya detak jantung bayi antara 110 – 160. Pada saat itu pemeriksaan CTG dilakukan sekitar jam 10an, dan saya tahu pada jam-jam itu biasanya embi lagi tidur/tidak banyak bergerak. Hal ini mengakibatkan hasil rekam medik cenderung rata/tidak banyak terjadi lonjakan denyut jantung ke nilai yg paling tinggi. Karena hal tersebut, mbak perawat terpaksa melakukan pengukuran ulang, supaya si embi bangun dan bergerak, katanya “biar hasilnya bagus!”, akhirnya saya dan suami berusaha untuk membangunkan embi, saya memanggil embi sambil menepuk-nepuk perut dengan lembut, sedangkan suami berbicara ke embi sambil menempelkan kepalanya ke perut saya. Alhamdulillah, akhirnya embi bangun dan bergerak-gerak, dengan demikian saya jadi sering mijit tombol dan hasil CTG-nya pun menjadi bagus.

Setelah selesai CTG, kami kembali ke ruang tunggu dokter untuk menunggu giliran masuk. Saat dokter melihat hasil CTG-nya, beliau mengatakan bahwa bayinya sehat, dan sudah ada konstraksi berupa gerakan-gerakan bayi yang teratur, tetapi belum diikuti oleh pembukaan, sehingga konstraksinya masih konstraksi palsu(Braxton Hicks). Kemudian kami melakukan USG, diketahui pada saat itu embi sudah pada posisi yang benar, tetapi belum masuk ke jalan lahir. Pada saat sesi konsultasi, akhirnya kami mengatakan bahwa saya akan melakukan persalinan di Bandung, dokter masih tetap baik seperti biasanya, beliau membuatkan surat pengantar untuk dokter yang akan membantu persalinan saya di Bandung. Akhirnya pertemuan itu menjadi acara perpisahan kami dengan dokter yang selama ini membantu perjuangan kami untuk mendapatkan keturunan, dari mulai program, menolong pada saat terjadi pendarahan, sampai trimester ke-3 kehamilan. Terima kasih, dokter Taufik Jamaan, semoga segala jasa dan kebaikan dokter kepada kami dibalas dengan segala kebaikan yang lebih banyak dari-Nya. Aamiin YRA.

eMBi goes to Bandung
25 Mei 2010, akhirnya kami berangkat ke Bandung. Karena kami belum mendapatkan dokter yang tepat untuk membantu persalinan, akhirnya kami tentukan 2 pilihan tempat, RS.Hermina Pasteur dan Klinik Bersalin Bunda Nanda.

Tiba di Bandung masih pagi, sekitar pukul 10, sengaja kami keluar di tol Pasteur, karena aksesnya sangat dekat ke Hermina. Cek dokter yang sedang praktek saat itu, akhirnya kami menemui dr.Anna. Beliau sangat ramah, dan komunikatif; meskipun beliau sempat heran dan menanyakan selama ini kontrol ke dokter siapa, (karena baru pertama kali bertemu kandungan saya sudah tua), akhirnya saya mengeluarkan surat pengantar dari dr.Taufik; barulah dr. Anna ngeh dan takzim, bahwa dokter kami sebelumnya sangat perhatian.(Alhamdulillah…:)) Mengingat kondisi embi saat itu sudah masuk jalan lahir, akhirnya dokter memberi surat pengantar untuk booking ruangan, supaya saya bisa kapan saja masuk jika persalinan akan segera terjadi.

Keluar dari Hermina, selanjutnya kami menuju Cibiru, tujuannya adalah mencari dokter di Klinik Bunda Nanda. Alhamdulillah, ada dokter perempuan yang praktek hari itu, namanya dokter Ani Supriyatni; orangnya kalem, dan enak buat konsultasi.

Keluar dari klinik, akhirnya diambilah keputusan, bahwa kami memilih Klinik Bunda Nanda untuk tempat kelahiran embi. Meskipun peralatan tidak selengkap Hermina, tapi faktor jarak dari rumah menjadi pertimbangan utama kami. Klinik Bunda Nanda lebih dekat ke rumah kami, selain itu biaya di sini lebih murah, dengan fasilitas ruangan yang bersih dan tenang.

Akhirnya 40 Minggu
Setelah yakin akan melahirkan dengan dr.Ani, akhirnya tiap minggu saya menemui beliau untuk kontrol. Minggu pertama, saya masih ceria, minggu kedua sudah mulai mengeluh karena setiap kontrol kondisi embi sudah masuk jalan lahir, konstraksi pun sudah semakin sering, tetapi tanda-tanda kelahiran belum ada juga. Bahkan dari pertemuan pertama, dokter pun sudah membuatkan surat pengantar untuk saya bawa jika persalinan akan segera terjadi.

Tunggu punya tunggu, embi belum mau keluar juga. Hampir 3 minggu saya melakukan jongkok berdiri, jalan kaki setiap hari(+/- 3 km), dan meminum VCO(virgin coconut oil) untuk memperlancar proses persalinan.

Memasuki minggu ke-3 di bulan Juni, atau 40 minggu kehamilan, saya sudah hampir putus asa, meskipun due date masih tgl 19 Juni(akhir minggu ke-3), tapi rasanya sudah gak sabar menunggu. Jika sebelumnya saya takut sekali menghadapi persalinan, saat itu justru sangat-sangat saya tunggu. Flek yang sebelumnya sangat ditakutkan, saat itu justru hal yang paling diharapkan. Hampir semua tips dan pengalaman orang untuk mempercepat proses persalinan saya lakukan, tapi hasilnya tidak ada, embi masih betah diem di perut.

Berikut ini beberapa pengalaman orang untuk mempercepat proses persalinan:
1. Meminum soda
Jangankan saat hamil muda, sebelum hamil pun saya pantang sekali untuk minum soda(selain krn ada maag, sy emang kurang doyan minuman soda); tapi mulai masuk minggu ke-37, saya jadi sering sekali minum soda,hehe…hasilnya??? embi malah makin anteung…nampaknya dia ngikutin bapaknya doyan minum soda. Padahal pengalaman orang lain, menurut cerita teman saya, ada yang sedang hamil 9 bulan, minum salah satu softdrink berwarna merah, besoknya melahirkan.

2. Minum Minyak Kelapa
Pengalaman tetangga saya, pada saat hamil 9 bulan pas, dia iseng minum minyak kelapa buatan sendiri(bukan minyak goreng yang dijual di pasar), kalau di Bandung, orang Sunda menyebutnya minyak keletik. Besoknya dia mules, dan terus melahirkan.
Pengalaman saya, memasuki minggu ke-37 awalnya saya hanya minum VCO 3x sehari, 1x minum 1 sendok makan; kemudian karena jengkel gak ada tanda-tanda kelahiran juga, akhirnya saya minum langsung dari botolnya, tanpa takaran…hihih…hasilnya??embi tetep anteung, boro-boro ada mules. Tapi khasiat VCO ini saya rasakan pada saat persalinan, bayi jadi lebih mudah keluar karena mungkin jadi sangat licin. Selain itu, rambut bayi jadi lebih mengkilat karena seperti berminyak terus. Pengalaman sampai sekarang, rambutnya embi selalu mengkilat dan lembut…:)

3. Jongkok berdiri
Tips ini saya dapat dari internet. Kalau posisi bersujud, membuat kepala bayi mengarah ke jalan lahir, maka setelah itu sebaiknya ibu melakukan latihan jongkok-berdiri. Sebaiknya latihan ini dilakukan 20-100 kali setiap hari.
Pengalaman saya, setiap hari melakukan jongkok berdiri 100-300 kali.

4. Memperbanyak jalan kaki
Dianjurkan untuk memperbanyak jalan kaki pada saat kehamilan sudah tua, hal ini akan memancing terjadinya pembukaan jalan lahir. Katanya jalan kaki sekitar 3 km setiap hari akan mempercepat proses kelahiran, bahkan ada yang menganjurkan untuk jalan-jalan ke mall, supaya target 3 km jalan kakinya tercapai…hihi.
Pengalaman saya, setiap hari jalan kaki antar kompleks yang jaraknya kira-kira 2,5 km(kebetulan kakak saya tinggal di kompleks tetanggaan dengan kompleks rumah saya) berarti bolak-balik sekitar 5 km. Saya terus melakukan jalan kaki ini sampai menjelang persalinan.

5. Berhubungan suami isteri
Tips ini saya letakkan di posisi terakhir, karena resikonya cukup tinggi, meskipun ada beberapa kenalan yang berhasil setelah melakukan tips ini,hehe…!!
Menurut dokter, orgasme bisa memancing terjadinya konstraksi dan bukaan mulut rahim, tetapi juga bisa menyebabkan pecahnya ketuban dini yang bisa membahayakan janin. Oleh karena itu tips ini harus dilakukan dengan posisi yang tepat dan sangat hati-hati. Posisi yang cukup aman adalah posisi duduk, dimana istri duduk di pangkuan suami.

Demikian postingan kali ini saya tutup dengan tips, dan semoga saja bermanfaat untuk yang sedang menantikan proses persalinan. Selamat mencoba, semoga berhasil.

8 thoughts on “[eMBi] Akhirnya 40 Minggu(bagian.1)

  1. salam kenal mb Mi..selamat ya atas kelahiran Embi…smoga menjadi anak yg membanggakan bt keluarga

    Mohon maaf nih, mau numpang info ya…

    buat para bunda yang pengen punya penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarga & si buah hati, coba lirik usaha online yuks…info lengkap nya bs dilihat di

    http://UsahaBunda.Net

    Salam jumpa…🙂

  2. Pertama2, selamat ya mba atas kelahiran embi..
    kedua, thanks for the tips..
    ketiga, saya mau tanya.. dimana ya kita bisa beli VCO, merek yg bagus apa??

    thanks

  3. @mbak Farah: trimakasih atas infonya
    @mbak Nisa: utk merk VCO, sy tidak bisa kasi rekomendasi,maaf yaa…waktu itu sy beli sembarang merk saja, bkn yg paling mahal, bkn yg paling murah jg.sy lupa merknya.

  4. hallo bunda embi…melahirkan di bunda nanda ya dgn dokter aNI, rencananya bln depan saya jg mw melahirkan disana dengan dokter ani…mw nanya dunk mengenai biaya total persalinannya hehehe…biar ada persiapan..makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s