[eMBi] Akhirnya 40 Minggu(bagian.2)

Akhirnya datang juga
Rabu, 16 Juni 2010, jam 02.30 pagi, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tanda-tanda persalinan yang saya tunggu selama 40 minggu itu akhirnya datang juga. Seperti malam-malam sebelumnya, lebih kurang seminggu sebelum terjadi persalinan, pola tidur saya mulai terganggu dengan berbagai posisi tidur yang sudah tidak nyaman, konstraksi-konstraksi palsu yang makin sering terjadi, serta ingin buang air kecil(BAK) yang makin sering.

Rabu pagi itu, setelah BAK, saya mencoba untuk kembali tidur, tapi rasanya kok masih ada cairan yang keluar, akhirnya saya periksa dan…voila…ada bercak darah bercampur lendir di celdam saya. Bukan kaget apalagi panik, justru saya senang sekali, alhamdulillah…penantian panjang kedua saya akan segera berakhir…saya langsung menelpon suami yang saat itu memang sedang berada di Jakarta. Diapun senang, dan mengingatkan saya untuk tetap tenang serta menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke klinik, tidak lupa juga mengingatkan saya untuk memperbanyak doa. Sementara suami juga bersiap-siap untuk segera meluncur ke Bandung.

Konstraksi yang Menyenangkan
Sambil menunggu siang, saya menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa ke klinik, sambil menikmati konstraksi-konstraksi yang mulai sering terasa. Tiada siksaan yang saya rasa, yang ada hanya hal menyenangkan setiap konstraksi itu datang. Awalnya konstraksi datang setiap 20-30 menit, kemudian 15 – 5 menit sekali.

Dari jam 2 pagi sampai menjelang adzan subuh, saya sudah tidak bisa tidur lagi, tidak sabar rasanya ingin segera siang dan berangkat ke klinik. Karena saat itu suami saya belum datang, dan kami di rumah hanya berdua, saya dan ibu, akhirnya saya telpon kakak untuk minta mengantarkan saya ke klinik.

Mungkin karena default pembawaannya yang kalem, atau memang dia sudah pengalaman menghadapi 2 kali persalinan istrinya, kakak tidak kaget sewaktu diberitahu bahwa saya akan melahirkan. Dengan tenangnya dia bilang…”Tunggu ya…mau ke mesjid dulu, sholat subuh…”, saya semakin tenang, dan yakin persalinan itu tidak akan langsung terjadi, karena dari buku dan literatur yang saya baca, setelah ada tanda-tanda primer persalinan, minimalnya butuh 10 jam untuk membuka mulut rahim sampai cukup untuk memberi jalan keluar bagi bayi.

Jam 5.00, kami bertiga menuju klinik, yang jaraknya lebih kurang 15 menit perjalanan. Sampai di klinik, saya dibawa ke ruang bersalin untuk memeriksa bukaan. Bidan jaga menyatakan bahwa saya baru bukaan 1, sehingga menyarankan untuk menunggu di rumah saja, karena persalinan masih cukup lama terjadi.

Akhirnya kami bertiga kembali ke rumah. Ada sedikit kecewa, karena masih disuruh menunggu, ceritanya saat itu saya sudah bener-bener pengen banget melahirkan…hekekekeke…
Setiap konstraksi datang, saya selalu melakukan relaksasi pengaturan nafas, dengan menarik dan menghembuskan nafas se-rileks mungkin.

Jam 7.30, suami saya sampai di rumah, dan kami berdua pun langsung beredar keliling kompleks, sambil mencari sarapan pagi.
Sepanjang siang, kami mengisi waktu dengan berjalan-jalan keliling kompleks, latihan jongkok berdiri(1-2 set; 1 set = 10 kali jongkok-berdiri), makan makanan yang bergizi, serta beristirahat/tidur dalam rangka mengumpulkan energi untuk proses persalinan.

12 jam konstraksi ternyata hanya terjadi 2 bukaan, hal ini kami ketahui pada saat sore hari kami bertemu dengan dokter di klinik. Dokter mengatakan saat itu, sudah terjadi bukaan 3 menuju 4, dan kami diharuskan untuk segera masuk ke kamar perawatan karena setiap 4 jam akan selalu diperiksa bukaannya.

Jam 19.30 akhirnya kami masuk kamar perawatan, sengaja memilih VIP, supaya kami lebih tenang berdua saja menikmati detik-detik menjelang kehadiran amanah yang sudah kami tunggu selama bertahun-tahun hadir ke dunia ini. Rasanya bahagia sekali, tidak akan lama lagi kami akan jadi orang tua. Sambil menunggu saat persalinan, kami menonton televisi, yang kebetulan saat itu sedang berlangsung perhelatan akbar Piala Dunia.

Alhamdulillah, mulasnya konstraksi bisa teralihkan, dengan berbincang apa saja yang menyenangkan. Pada saat tidak terjadi konstraksi, saya manfaatkan untuk mengemil makanan yang kira-kira bisa memberi energi yang banyak untuk proses persalinan; seperti roti, susu, coklat, dan biskuit.

Jam 23.30 perawat masuk untuk memeriksa saya, ternyata saat itu baru terjadi bukaan 5 menuju 6, phewww…saya mulai stres…*kok lama ya…padahal saya udah pengen cepet-cepet melahirkan*…kegelisahan saya keluar juga lewat kata-kata…”baru bukaan 5 ya,mbak bidan?”, mbak bidannya tersenyum…”Sabar ibuuu…anak pertama emang lama, itu di kamar depan juga anak pertama…hehe…istirahat aja ya,bu…nanti jam 02.30 saya periksa lagi…”, dan bu bidan pun keluar. Saat kami sudah berdua lagi, saya mulai stres, kenapa kok tidak sesuai teori, katanya bukaan itu terjadi setiap 1 jam, dan saya kembali berusaha supaya bukaan lebih cepat dengan cara melakukan latihan jongkok berdiri dan berusaha tetap rileks, karena menurut teori-teori yang saya baca, dengan rileks, otot-otot rahim menjadi lebih lentur, sehingga bukaan bisa lebih cepat terjadi. Efek lainnya, dengan jongkok berdiri otot-otot di sekitar panggul pun menjadi lebih lentur/tidak tegang, sehingga badan terasa lebih nyaman. Lewat tengah malam, kami sudah mulai mengantuk, dan saya pun sempat tertidur.

17 Juni, jam 02.30, pintu kamar diketuk, saya senang sekali, ingin segera mengetahui hasil usaha saya jongkok berdiri sudah menghasilkan berapa bukaan, hehe…; bidan jaga masuk lagi untuk memeriksa, dia sempat kaget dan bertanya…”Bisa tidur ya,bu?”, saya jawab, “Iya,emang ga boleh ya,mbak?”, mbak bidan tersenyum, “Gpp…”, dan ternyata bukaan saat itu adalah 6 menuju 7. Hmm…ternyata masih 2 cm per 4 jam. Mbak bidan pun keluar lagi, sambil bilang…”Kalo masih bisa tidur, tidur aja ya,bu…mungkin lahirannya sekitar besok pagi…”. Glek…agak kecewa lagi saya, ternyata masih harus menunggu untuk segera melihat wajah anak kami.

Entah karena stres atau memang sudah harusnya begitu, makin lama konstraksi makin sering terjadi, dan mulasnya pun semakin kuat. Awalnya, setiap konstraksi saya bisa atur nafas(tarik dan hembus)/relaksasi sebanyak 10 hitungan(10 detik), makin lama makin banyak hitungannya sampai 60 hitungan(1 menit), dan jeda antar konstraksi makin pendek, dari 10 menit, 5 menit, sampai 3 menit. Menjelang adzan subuh, konstraksi semakin kuat, saya sampai nangis menahan mulas dan berusaha tidak mengejan. Meskipun dorongan untuk mengejan itu sangat kuat, alhamdulillah saya ingat sekali teorinya, bahwa sebelum bukaan 10, sangat dilarang untuk mengejan. Sambil menahan mulas dan relaksasi yang ritmenya semakin cepat, saya pegang tangan suami untuk mencari kekuatan, suami mendekap saya sambil bilang…”Kuat,Hun…Sebentar lagi kita jadi orang tua…sebentar lagi kita lihat wajahnya eMBi…:)”, saya tersenyum sambil menangis…hihi…gak jelas deh rasanya…bahagia sambil menahan sakit…”Ya Alloh…beri hamba kekuatan…”, hanya itu yang bisa saya ucapkan…

Miracle Baby is Mikaila
Jam 04.30, bidan jaga masuk kembali ke kamar, memeriksa saya, dan ternyata sudah bukaan 8. Bidan mengajak kami untuk masuk ke ruang bersalin dan membawa perlengkapan baju bayi. Pada saat memapah saya ke ruang bersalin, mbak bidannya bilang gini…”Ibu hebat…udah bukaan 8 masih kuat begini, ini bagus, berarti nanti ada tenaga buat ngeden…”. Saya jawab,”Hehe…aamiin.”

Jam 05.oo, hampir bersamaan dengan saya, masuk ke ruang bersalin seorang ibu lain, yang dipapah ibu dan suaminya, dengan 1 tiang infusan. Nampak sekali jalannya kepayahan, dan pada saat sudah berada di atas kasur, beberapa kali saya mendengar dia menjerit-jerit, para bidan dan keluarganya berusaha menghibur dan menenangkan.

Sambil menunggu dokternya datang, saya dan suami masih sempat mengobrol dan ketawa cekikikan(padahal sebenarnya saya mengalihkan ketegangan menjelang persalinan), ngebahas komentar bidan pada saat tadi memapah saya ke ruang bersalin. “Cint…masa tadi si mbaknya bilang aku hebat…hihih…”, suami saya bilang, “Hahah…gak tau dia, tadi ada yg sampe nangis-nangis nahan sakit yaa…!”.

Tak lama kemudian, dr. Ani masuk ruangan, beliau tersenyum dan menyapa saya…”Hai Mia…kok lama banget ya bukaannya, padahal saya tungguin dari tadi malem lho…hehe…”, saya cuma nyengir aja. Dokter kemudian memeriksa saya, ternyata sudah bukaan 10, beliau menusukkan semacam logam ke dalam, (ternyata itu untuk memecah ketuban), kemudian menyuruh saya berbaring ke arah kiri. “Ini akan membuat lebih mulas, tapi jangan mengejan dulu ya, sebelum saya datang”, begitu pesan dr.Ani sebelum pergi ke tempat tidur sebelah, ternyata tetangga sebelah diberi kesempatan untuk melahirkan duluan. Saya mendengar dia menjerit satu kali, kemudian terdengar tangisan bayi. Pada saat yang hampir bersamaan, tiba-tiba saya juga merasa mulas yang sangat kuat dan membuat saya menjerit juga, sekuat tenaga saya tahan untuk tidak mengejan, dan kemudian saya berbaring terlentang lagi, karena kalau berbaring ke arah kiri konstraksinya kuat sekali.

Akhirnya dokter dan para bidan asistennya kembali ke tempat tidur saya, menyuruh saya dalam posisi melahirkan, dan memberi instruksi supaya saya mengejan BAB ketika konstraksi datang.

Pada kesempatan pertama konstraksi datang, saya malah relaksasi(tarik hembus nafas), hahaha…para bidan tertawa….”Ibu, ini bukan waktunya relaksasi, tapi ibu harus mengejan, kalo relaksasi terus bayinya gak akan keluar…”, upppss…hihihi…jadi malu, kemudian konstraksi itu datang lagi, tapi saya keburu-buru sehingga tenaganya gak kuat untuk mendorong eMBi keluar, tapi dokter bilang bahwa rambutnya eMBi sudah keliatan tinggal didorong lebih kuat lagi. Kemudian konstraksi ketiga datang lagi, saya berusaha lebih tenang dan ambil nafas panjang, saya dorong sekuat tenaga, seperti pada saat mengalami sembelit, hahaha….dan akhirnyaaaaaa….flusssshhh….Miracle Baby kami seperti loncat dari dalam perut saya…kemudian dokter dan para bidan bilang….”Perempuaaaann….”, terdengar tangisnya eMBi yang kencang serta matanya melihat ke arah saya, heheh…alhamdulillah…ternyata malaikat kecil kami perempuan, dialah….Mikaila Arhami Syakira Aulia…Malaikat pembawa rezeki, kasih sayang, dan kesyukuran keluarga Aulia(Mikaila –> Mikail=malaikat pembawa rezeki; Arhami –> Arham=kasih sayang; Syakira –> senantiasa bersyukur).

Di Bandung, hari kamis, tanggal 17 Juni 2010, jam 06.33, kami resmi menjadi orang tua.

Selamat datang di dunia eMBi Mika…semoga kami mampu menjadikanmu manusia yang lebih baik dan membawa kebaikan untuk kehidupan. Aamiin Yaa Rabbal Alamien.

4 thoughts on “[eMBi] Akhirnya 40 Minggu(bagian.2)

  1. Mbak Mia… sebentar lagi dlm hitungan hari aku juga akan mengalaminya.. doakan ya mbaak..biar aku kuat juga kaya mbak… pengalaman mbak Mia sungguh menguatkan…
    Miss u sister!! sun sayang ya buat Mikaila..^_^

  2. @Ina: Miss u,too..Sister!!selamat menunggu detik2 episode baru kehidupan, sebagai orang tua.semoga lancar dan sehat semuanya.aamiin.

  3. waw pengalaman yg menakjubkan.. Saya alhamdulillah jg sedang hamil 22 minggu. Doakan lancar ya mba. Tulisan mba banyak membantu memberi masukan dan gambaran u saat bersalin nanti.. Makasih mba.. Titip cium untuk Mikaila yg cantik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s