[Mikaila] Anak Bilingual, Anugerah atau Masalah?

Jika umumnya para orang tua menginginkan anak-anaknya bisa berbahasa asing, terutama Inggeris, dengan cara memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan bahasa, supaya bisa “cas-cis-cus”. Saya dan suami, terutama saya justru sibuk mengajarkan Mika bahasa Indonesia.

Karena keprihatinan kami terhadap tayangan-tayangan televisi lokal yang mayoritas tidak mendidik, maka pada saat Mika berumur belum genap 1 tahun, kami mulai berlangganan televisi berbayar, yang tujuannya untuk memberikan Mika tayangan televisi yang sesuai dengan usianya. Meskipun tidak semua channel televisi dari luar itu tersedia dalam fitur 2 bahasa, tapi kami cukup tenang meninggalkan Mika bersama orang yang jaga di rumah, karena kemungkinan Mika menonton sinetron makin kecil.

Baru beberapa bulan disuguhin tayangan dari luar, Mika sangat tertarik dan cukup kecanduan dengan tayangan-tayangan dari channel itu, contohnya seperti yang ditulis oleh Papa-nya di sini. Tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-2, pengasuhnya Mika resign, saat itu kami masih belum dengar banyak kosa kata dari mulut Mika, seringnya hanya bahasa bayi saja “aiu eo…” gak jelas, sehingga saat itu kami berkesimpulan bahwa Mika belum bisa bicara, kami beranggapan bahwa pengasuhnya yang cenderung pendiam mempengaruhi lambatnya Mika bicara.

Ketika pengasuhnya berhenti, otomatis saya pegang anak secara full, 24 jam, dan mulailah saat itu saya terkaget-kaget dengan anak saya sendiri, bahwa ternyata Mika bukannya telat bicara, tapi memang banyak kata-kata yang bukan bahasa Indonesia. Contohnya seperti kejadian-kejadian berikut:

1. Saat dia minta selotip, dia bilang:”sikitek”, sambil nunjuk-nunjuk dispenser selotip di meja, saya tanya “sticky tape?”, dia ngangguk

2. Setiap melihat buih sabun atau buih pada minuman soda, dia akan berseru “bubbles”, tapi pada saat itu kedengerannya seperti “bobos”, seiring waktu, pelafalannya makin fasih, sekarang dia sudah jelas bilang “bubbles”

3. Kata-kata lainnya hingga saat ini yang “terlacak” dan tercatat oleh saya, sudah +/- 100 kata dalam bahasa Inggeris, sebagian diantaranya Mika sudah bisa mengucapkan dalam 2 bahasa, sebagian lainnya masih kebingungan dan dia lebih familiar dengan istilah Inggerisnya, contoh: Snake, Caterpillar, dan Snail. Jika dengar kata “ulat”, biasanya dia menirukan gerakan ular melingkar, sehingga saya harus mengoreksi, bahwa itu “ULAR” atau “snake”, dan saya harus memberitahunya bahwa yang saya maksud adalah “CATERPILLAR”, barulah Mika ngeh dan menirukan gerakan ulat yang sedang merayap dengan jarinya. Jika ada kosa kata baru yang diucapkan Mika, biasanya saya catat, dan update-nya saya berikan kepada gurunya di sekolah, tujuannya untuk membantu ibu guru pada saat berinteraksi dengan Mika.

4. Ketika umurnya belum genap 2.5 tahun, pertama kalinya saya dengar Mika bicara dalam 1 kalimat bahasa Inggeris, yaitu “Bu, look at that…house!”, sambil menunjuk rumah-rumahan hamster di sebuah pet shop. Kalimat lainnya, jika sedang mencari sesuatu, misalnya mencari boneka Snoopy-nya, dia akan berteriak “Snoop, where are you?”, atau jika saya suruh ambil celananya, dia akan berteriak “Celana, where are you?”. Dan setiap dia berhasil melakukan sesuatu, misalnya menyusun puzzle, selalu berseru:”I did it!”. Pernah suatu saat di sekolah, dia bermain papan luncur aka perosotan, (Mika menyebutnya “sliding”, sedangkan kalau “jungkat-jungkit” dia taunya maen “up and down”), begitu sampai di bawah, dia berseru girang “I dit it!”, tapi teman-temannya pada bengong, mungkin mikir “Ngomong apa sih nih anak?”, hehe…

Buat kami hal ini merupakan anugerah, karena tanpa perlu mendaftarkan les, Mika sudah mengenal bahasa Inggeris tanpa paksaan dan mungkin melalui cara yang dia senangi.

Tetapi anugerah ini, ternyata menimbulkan masalah juga untuk Mika, misalnya dalam hal berinteraksi dengan orang di sekitarnya yang tidak begitu memahami bahasa Inggeris, atau teman-temannya di sekolah yang mungkin belum dikenalkan bahasa Inggeris oleh orang tuanya, sehingga terjadi miss-understanding, dan komunikasi yang tidak nyambung antara Mika dengan lawan bicaranya.

Yang sering saya saksikan adalah pada saat Mika berkomunikasi dengan orang-orang di sekolahnya, saya pernah mendengar dan melihat sendiri, bagaimana teman-teman dan gurunya Mika tidak memahami apa yang dikatakan Mika. Misalnya kejadian-kejadian berikut:
1.Pada hari-hari awal sekolah, Mika sempat bingung dengan instruksi gurunya yang menyuruh Mika berdiri di lingkaran berwarna “HIJAU”, dia diam saja tidak beranjak ke atas lingkaran hijau. Saya yang berdiri di dekatnya, melihat kebingungan Mika, kemudian menghampirinya, memberitahunya bahwa dia harus ke lingkaran hijau, saya bisikan :”Mika, go to green circle…green!”, eh Mika langsung berlari ke lingkaran hijau dan berdiri di atasnya. Legalah saya…:-)
2. Salah seorang teman Mika, sebut saja Dylan (bukan nama sebenarnya), pada saat makan siang, dia bertanya Mika makan sama apa, Mika menjawabnya “sama egg”, Dylan bingung apa itu egg, kejadian ini sempat saya catat di timeline saya.


3. Suatu saat Mika pernah dikasari sama teman-teman perempuannya, saya gak tau persis penyebab dan kapan hal itu mulai terjadi. Pernah suatu saat, saya melihat dari tempat yang agak jauh dari Mika, dia sedang diajak ngobrol oleh temannya, saya lihat Mika menjawab, tapi gak tau apa sebabnya, temannya itu malah mencubit Mika. Karena Mika tidak menangis, maka saya masih diamkan saja kejadian itu.
Kemudian besoknya ketika sedang berbincang dengan para orang tua, nenek dari anak yang melakukan kekasaran pada Mika, mengatakan bahwa cucunya itu cerita waktu ngobrol sama Mika, dia tidak ngerti apa yang dikatakan Mika, “ngomongnya tidak jelas”, lebih kurang begitu.
Dari situ, nampaknya saya bisa sedikit mengetahui penyebab Mika dikasari, mungkin karena ada komunikasi yang tidak nyambung antara Mika dengan temannya, seperti pada saat mengobrol dengan Dylan; mungkin hal ini yang membuat temannya kesal dan mencubit Mika.
4. Suatu saat ada sesi menggambar bebas, anak-anak disuruh bebas menggambar apapun yang dia mau. Saya lihat, Mika menggambar sesuatu berbentuk lonjong, dengan garis-garis seperti berpasang-pasang kaki di kedua sisinya. Pada saat dikumpulkan, gurunya bertanya:”Mika gambar apa nih?”, Mika menjawab:”Spaidah” (maksudnya: spider), bu guru tertawa sambil bilang:”haha…masa gajah kakinya banyak?”, Mika:*bingung*
5. Pada saat pembagian rapor, saya mendapatkan laporan dari gurunya bahwa Mika belum mengenal bentuk lingkaran, persegi, segi tiga, dan bujur sangkar. Saya kaget sekali, karena Mika di rumah sudah hapal sekali bentuk-bentuk itu, karena kebetulan di acara favoritnya di CBeeBies ada sesi mengenal bentuk-bentuk, tapi hingga saat ini Mika belum terbiasa mengucapkan nama bentuk-bentuk itu dalam istilah bahasa Indonesia. Mika lebih terbiasa bilang “circle”, “rectangle”, “triangle”, dan “square”.

Melihat kondisi Mika di sekolah ini, akhirnya saya dan suami sepakat untuk mencarikan lingkungan sekolah yang mungkin lebih cocok dengan kondisi Mika, terutama jumlah dan kompetensi guru yang memadai untuk memantau perkembangan Mika, dan alhamdulillah, di sekolahnya sekarang, Mika tidak sendirian, ada beberapa temannya yang mengalami hal yang sama, sudah mengenal bahasa Inggeris sejak dini. Tetapi kewajiban kami sebagai orang tua, tetap harus mengajarkan Mika bahasa Indonesia, demi kemudahan dia berinteraksi dengan orang lain yang tidak familiar dengan bahasa Inggeris. Salah satu cara saya adalah dengan meminta Mika menyebutkannya dalam 2 bahasa, misal: jika dia menyebut “fish” saya akan bertanya “fish atau…?”, Mika harus menjawab “ikan”, dengan demikian dia akan mengerti jika ada orang yang bilang ikan, itu artinya sama dengan “fish” yang dia maksud.

Demikian sharing saya. Semoga ada manfaatnya.

Salam,

Jakarta Selatan, ketika hari sudah beranjak sore, dan Mika masih tidur siang.

4 thoughts on “[Mikaila] Anak Bilingual, Anugerah atau Masalah?

  1. owwwhhh… ini sama aja ama anak saya.. dan sepertinya penyebabnya juga sama. Di rumah si Kunyil ga dibiasin nonton tv lokal, karena acaranya yang… begitulah… jadi dia terbiasa dengan cbeebies, babytv, disney junior… dan sudah mulai nyerocos dengan bahasa inggris.

    saya sendiri masih kesulitan untuk gak nyampur2 bahasa. kadang masih sering nyempil satu dua kata bahasa inggris dalam satu kalimat bahasa indonesia. Padahal untuk ngelatih bilingual yang betul katanya satu kalimat penuh harus dalam bahasa yang sama -_-‘

    orang terdekat seperti nenek dan ART juga kadang masih bingung si Kunyil ngomong apa, karena pelafalan inggrisnya pun kan kadang masih belum jelas.. sepertinya cuma emaknya aja yang ngeh -_- so, emang mesti nyari sekolah yang bisa handle anak-anak model begini juga ya…

  2. @pipitta: kayaknya fenomena anak2 skarang emang banyak yg diajarin ngomongnya sama TV. Di sekolah Mika sekarang hampir semuanya bilingual, tapi mereka kalau ngobrol nyambung, mungkin karena tontonannya hampir sama…:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s