Bahagia Berjilbab

Bismillahirrahmanirrahim,

Terinspirasi dari pengalaman seorang emak tentang jilbab, sekonyong-konyong saya teringat pengalaman saya sendiri pada saat mulai tertarik untuk berjilbab, dan cerita-cerita lain selama mengenakan jilbab.

Sekitar tahun 90an akhir, ketika itu saya masih SMA (aduh, ketauan deh produksi lawasnya,hihih…), saat itu jilbab masih belum nge-trend seperti sekarang, remaja yang mengenakan kerudung atau jilbab ke sekolah masih terhitung oleh jari. Begitupun dengan masyarakat umum, wanita atau ibu-ibu yang mengenakan jilbab sebagai gaya berbusananya belum sebanyak sekarang. Model dan corak kerudung saat itu tidak banyak, umumnya hanya berupa kain berbentuk segi empat dan warnanya polos. Model bergo juga ada, tapi kebanyakan yang lebar dan berpadu padan dengan gamis atau jubah.

Ketertarikan saya pada jilbab saat itu, bermula dari seringnya bergaul dengan teman-teman yang mengenakan jilbab. Saya melihat, mereka tidak dipusingkan oleh model rambut, aksesoris, dan model baju yang lagi nge-trend saat itu, itu adalah suatu kebaikan untuk perempuan yang banyaknya ribet dengan urusan-urusan tersebut, sehingga hal-hal yang penting seperti belajar malah terabaikan.

Meskipun saya cukup intens bergaul dengan para akhwat/jilbaber saat SMA, tetapi saat itu saya belum mantap untuk menjadikan jilbab sebagai busana wajib, salah satu penyebabnya karena keluarga tidak ada yang memberi dukungan untuk berjilbab. Saat itu bagi keluarga saya, orang yang berkerudung adalah wanita-wanita yang sudah tua(baca: nenek-nenek), atau orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Jadi, pada saat saya mengenakan kerudung ke luar rumah, keluarga mencibir saya dengan panggilan “bu haji”. Meskipun sebelumnya saya pernah mendengar cerita seputar tantangan/ujian orang berjilbab dari teman-teman jilbaber dan teteh-teteh akhwat di majelis/kajian muslimah, tapi pada saat mengalaminya sendiri, tetap saja hati saya belum kuat juga untuk mempertahankan jilbab, ada rasa malu dan tidak percaya diri untuk terus menggunakannya. Selain itu belum ada kekuatan besar yang menyebabkan saya yakin untuk berjilbab, saat itu saya hanya memiliki keyakinan bahwa berjilbab adalah suatu kewajiban seorang muslimah, perintah ini benar-benar perintah Alloh karena termaktub dalam kitab suciNya. Tapi saya tidak tahu, kenapa saat itu saat belum yakin untuk melaksanakannya secara konsisten. Sehingga, sampai saya lulus SMA kemudian masuk perguruan tinggi, saya masih belum menggunakan jilbab. Oiya, ada penyebab lain yang belum memantapkan hati saya untuk berjilbab, adalah adanya sikap/tingkah laku dari para jilbaber yang menurut saya tidak mencerminkan cara berpakaian mereka. Jaman SMA, ada teman-teman yang berjilbab hanya pada saat pergi ke sekolah saja, sedangkan di luar sekolah, dia menanggalkan kerudungnya, bahkan katanya ada yang memakai tank top, berpacaran, bergaul bebas dengan lawan jenis, merokok, dan lain-lain. Fakta lain yang membuat saya belum yakin berjilbab antara lain, adanya kekecewaan terhadap teman jilbaber yang belum amanah menyimpan kepercayaan orang lain untuk menutupi rahasia atau aib temannya. Bahasa sederhananya, kecewa terhadap jilbaber yang masih suka ngomongin kejelekan orang lain. Tuntutan hati saya saat itu, untuk menjadi jilbaber, seorang perempuan haruslah sudah sempurna akhlaknya. Mungkin karena itu juga saya merasa masih jauh dari akhlak yang sempurna, maka saya belum merasa pantas untuk berjilbab.

Masuk kuliah, pergaulan saya tidak jauh berubah seperti saat SMA, Alloh SWT seperti sengaja mendekatkan saya terus dengan teman-teman yang berjilbab. Jika bisa disebut sebagai gank, saya seringnya gabung dengan gank jilbaber dibandingkan dengan teman-teman yang tidak berjilbab atau non muslim. Saya tetap bergaul dengan teman-teman yang tidak berjilbab, tetapi intensitasnya tidak sesering dengan gank jilbaber. Tapi hingga masuk tingkat 2 kuliah, saya masih belum ketularan juga menggunakan jilbab. Hingga suatu saat, saya merasa saya butuh untuk berjilbab, bukan karena perintah agama, ataupun ajakan dari teman-teman jilbaber, tapi hati saya sendiri yang memintanya.

Kebutuhan saya untuk berjilbab, saya rasakan ketika berada di ruang kuliah, kebetulan saat itu mahasiswinya sangat minim, meskipun saya bukan satu-satunya mahasiswi di ruangan itu, tapi entah kenapa saya merasa semua mata laki-laki tertuju ke tengkuk saya(padahal kalo di luar rumah, saya hampir tidak pernah menguncir rambut, kecuali saat olahraga, sehingga otomatis tengkuk selalu tertutup oleh rambut sebahu saya). Perasaan malu dan tidak nyaman saat itulah yang menguatkan hati saya untuk mantap menggunakan jilbab. Tahun 1999, saya lupa kapan tepatnya, alhamdulillah saya mulai berjilbab. Orang pertama yang kepadanya saya sampaikan niat untuk berjilbab, dan dialah orang yang paling memberikan dukungan secara riil dengan membelikan kerudung secukupnya, adalah seorang sahabat, laki-laki, tapi dia bukan laki-laki yang saya pilih untuk dunia& akhirat saya, hanya seorang sahabat. Sahabat dan saudara terbaik yang pernah saya miliki.

Godaan untuk menanggalkan jilbab dan kembali dengan gaya berpakaian semula terasa berat pada awal-awal saya berjilbab. Dorongan kuat tetap datang dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Salah satu penyebabnya, saat itu ada perdebatan tentang sikap dan cara berpakaian jilbaber yg syar’i versus yang tidak syar’i. Saya mengetahui hal ini dari teman-teman jilbaber yang aktif di kegiatan mesjid kampus. Saya pernah baca juga di buletin kampus, lebih kurang isinya begini “lebih baik mana, sikap atau cara berpakaian?”. Perdebatan ini menimbulkan peperangan lagi dalam hati saya, apakah saya sudah pantas untuk berjilbab atau belum, karena saat itu saya juga merasa belum berada di track yang benar sebagai seorang muslimah. Saya belum bisa menjaga sikap seperti idealnya seorang muslimah. Entah pengaruh atmosfir kampus yang mayoritas laki-laki atau saya memang nyaman dengan cara berpakaian yang “kurang girly”, dari mulai saya diterima di kampus itu sebagai mahasiswa baru, hingga lulus 4 tahun kemudian, saya hampir tidak pernah memakai rok, kostum kebangsaan saya saat itu adalah celana jins, kaos berkerah, atau kemeja kedodoran, pokoknya “gak cewek banget deh”, sebelum berjilbab, biasanya saya suka pakai topi, kalau gak topi gunung ya topi biasa, yang penting warnanya hitam. Tapi dengan kostum itulah yang membuat saya nyaman pada saat kumpul-kumpul dengan teman-teman gank di jurusan tetangga yang semua anggotanya laki-laki. Gank ini sebut saja namanya “d’Runtah” (yang orang Sunda, pasti tau artinya…;-) ).

Kebiasaan saya nongkrong di markas d’Runtah atau maen bareng mereka, sudah menimbulkan asumsi sosial dari teman-teman jurusan, banyak lah yang menyangka saya pacaran dengan kepala gank-nya. Wajar mungkin, karena intensitas saya jalan sama anak-anak d’Runtah jauh lebih banyak dibandingkan jalan dengan teman-teman di jurusan, terutama kepala gank-nya yang sering mengantar jemput saya ke kampus. Sulit dijelaskan dengan kata-kata kenapa saya lebih nyaman jalan dengan teman-teman d’Runtah, yang sebenarnya tidak pernah secara resmi menerima saya sebagai anggotanya, dikarenakan saya masih rajin mandi:D Tapi saya selalu diterima dengan tawa ceria, kapan saja saya mendatangi mereka. Termasuk pada saat saya baru berjilbab, dan datang ke markas dengan jilbab berwarna hitam. Ini dia sambutan dari anak-anak d’Runtah…”Weisshh…cantik euy pake jilbab…kayak pengungsi Kosovo…”, disambut tawa kami bersama-sama.

Seperti tadi saya bilang, sulit mengungkapkan dengan kata-kata kenapa saya nyaman bersama anak-anak d’Runtah, semua hal yang tidak saya sukai, seperti berkumpul untuk menceritakan kejelekan orang lain, selalu memamerkan kelebihan dan menutupi kekurangan diri, berpura-pura/munafik, khianat, tidak pernah ada di d’Runtah. Menjadi seorang d’Runtah, menjadi seorang manusia apa adanya. Kami sering pergi jalan bersama ke suatu tempat, dengan menggunakan motor, biasanya tanpa perencanaan, kalau mau pergi ya pergi saja. Kemana?Ya kemana saja inginnya. Di tempat tujuan ngapain?Ya ngapain saja, yang penting tidak berbuat salah yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tempat yang sering kami kunjungi antara lain: Dago Pakar, Dago Tea House, Kantin Selasih, tempat-tempat makan di Bandung, dari yang murah, agak mahal, sampai yang mahal. Pernah kami mau makan di kafe sebuah hotel, tapi dilarang oleh satpamnya, dikarenakan kami menggunakan sendal jepit dan motor butut. Aneh ya, padahal bayarnya kan bukan pake STNK motor.
Perjalanan jauh d’Runtah tidak sebatas Bandung lho…tapi hingga Surabaya, dan Pangandaran. Pakai motor ya??Nggak lah kalau ke Surabaya mah…naik kereta api saja, kan ada lagunya “Naik kereta api, tut tut tut…siapa hendak turut?Ke Bandung, Surabaya…”. STOP!

Yang paling saya sukai pada saat berkumpul dengan d’Runtah adalah obrolannya. Anak-anak d’Runtah itu ngomongnya sederhana, bahasanya juga sederhana, jauhlah dari gaya Vickinisasi, yang dibahas juga masalah-masalah yang dialami sehari-hari. Contohnya, “Kenapa kita harus sholat?”, “Sebenarnya Tuhan itu dimana?”, sering juga kami membahas ayat, hadits, dan sebagainya, sudah banyak yang saya lupa percakapannya, dan menurut saya pemikiran mereka ini tidak untuk dihapalkan, tapi lebih baik diamalkan. Ngomong-ngomong, mohon maaf saya jadi berpanjang-panjang bahas d’Runtah, padahal kan sekarang temanya untuk membahas bagaimana pengalaman saya selama berjilbab.

Sudah sampai mana tadi ya sebelum bahas d’Runtah?? Oiya, sampai terjadinya peperangan dalam hati saya untuk menanggalkan jilbab. Peperangan itu berkobar hebat, pada saat saya selesai mengikuti kajian muslimah dengan gank jilbaber yang waktu itu mengundang akhwat senior. Pembahasannya adalah bahwa perempuan tidak boleh bepergian berdua selain dengan mahramnya. Apa itu mahram?Silakan baca di sini. JLEB!! Rasanya forum saat itu seperti sedang mendakwa saya dan seorang kakak jurusan yang kebetulan dia sudah memiliki pacar, kami sering sekali melihat mereka duduk berduaan, atau bepergian berdua kemana-mana. Sedangkan saya, mereka hanya berasumsi saya pacaran dengan anak jurusan lain. Di forum tersebut saya tidak melakukan pembelaan diri apapun, saya diam dan membiarkan mereka dengan semacam kata-kata sindiran dan tatapan mata menyalahkannya. Buat saya saat itu, mereka adalah mereka, saya adalah saya, yang tahu mereka dan saya sebenarnya hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Tetapi saya tetap harus mengapresiasi kepedulian mereka terhadap kami sesama muslimah. Apa yang mereka sampaikan niatnya baik, untuk kebaikan kami, dan kebaikan umat.

Pulang kajian saya lupa waktu itu masih ada kuliah atau nggak, tapi seperti biasa setelah kegiatan kampus selesai, kepala gank nan baik hati, sudah siap untuk mengantar saya pulang ke rumah. Sempet bingung juga saat itu, antara ingin langsung menjauh dari lelaki itu, atau tetap seperti biasa seperti tidak ada apa-apa. Saat itu saya benar-benar galau, tapi mungkin lebih baik diobrolkan saja, itulah fungsi teman, ada di saat kita butuh. Termasuk saat itu saya sedang butuh menentukan satu pilihan yang untuk saya cukup berat. Jadilah saya ajak dia untuk ngobrol, saya bilang “Eh,loe masih ada waktu gak?Gimana kalo kita mampir dulu kemana gituh, mau ada yg diobrolin…”, “Siaplah…”, dia jawab begitu sambil menghidupkan mesin motornya. Kemudian kami tiba di suatu tempat, alam terbuka yang biasanya selalu bikin hati dan pikiran saya segar kembali kalau sudah bermumet-mumet ria. Di sana saya bilang, “Aku gak akan pake jilbab lagi…”, dia bilang, “Ooo…ya buka aja…”,aneh dia seperti tidak kaget atau mencoba melarang saya untuk membatalkan niat, tidak ada dalil-dalil agama yang dia lontarkan untuk menceramahi saya, sama sekali tidak ada dakwaan atau penghakiman kalau saya akan berbuat salah. Dia gak nanya alasan saya, aneh, orang aneh…jadinya saya deh yang cerita kenapa saya gak mau pake jilbab lagi, saya cerita isi kajian muslimah tadi, saya malu karena pake jilbab tapi masih bergaul sama lawan jenis, dan curhat-curhat galau lainnya. Tapi terus saya tanya, seperti pada diri saya sendiri, “Tapi gimana kalau nanti aku ketemu sama pak Joko ya?”, pak Joko itu Dosen Wali saya, dia cukup perhatian sama semua mahasiswa angkatan saya, “Terus kalau ketemu teman-teman…aku mesti bilang apa ya kalau ditanya kenapa gak pake jilbab lagi?”, si kepala gank ini malah tersenyum, “Gampang lah…kalau ketemu pak Joko, bilang aja…”Pak, tolong tunjukkan saya pada kebenaran!”. Kemudian saya tanya dia, “Kalau ketemu teman-teman gimana?”, dia jawab, “Ya bilang aja…”Tolong tunjukkan saya pada kebenaran!””. Habis ngobrol sama dia, sebenarnya tetap bingung sih, tapi beban galau lumayan berkurang, setidaknya saya sudah mengeluarkan unek-unek. Waktu mau pulang, saya bilang…”Ya udah, mulai besok, aku gak akan pake jilbab lagi…”, dia bilang “Iya”.

Di rumah, saya jadi berpikir lagi, apakah besok harus pakai jilbab lagi atau ngga? Saya mulai berpikir, kenapa saya harus berjilab? Dari sisi orang-orang terdekat, tidak ada lagi yang menyuruh atau melarang. Bahkan jika mau dibuka lagi pun tidak ada yang melarang, itu hak saya. Saat itu saya coba menimbang-nimbang, untung ruginya untuk saya sendiri jika menggunakan atau melepas jilbab. Saya ingat, bagaimana tatapan laki-laki terhadap wanita yang tidak dijilbab, seperti mata ibu-ibu melihat big sale…eh…hehehe…ya kira-kira seperti itulah…inginnya mendekati kemudian memegang-megang. Tapi kalau saya masih dijilbab, berarti saya harus meninggalkan d’Runtah, tempat dimana saya nyaman untuk menjadi diri sendiri dan memiliki mereka, teman-teman terbaik saya, dimana saya tidak pernah ketakutan, merasa susah sendiri, apalagi sedih. Ada perasaan kecewa, kenapa mereka laki-laki, makhluk berbeda kelamin dengan saya, jadi saja saya tidak bisa bebas untuk terus bergaul dekat dengan mereka. Duuuh, bingung, dan saya pun tertidur.

Besok paginya, begitu mau ke kampus, akhirnya saya putuskan untuk tetap memakai jilbab. Meskipun saya belum tahu pasti, yang mana jalan yang benar itu, rasa yang mendorong saya untuk memakai jilbab saat itu adalah “malu”. Rasanya malu saja kalau tidak ada yang menutup leher, rambut, dan bentuk dada saya. Hanya itu alasan saya untuk tetap berjilbab hingga saat ini. Rasa malu.

Setelah kegalauan itu, saya memutuskan untuk tetap berjilbab, sedangkan sikap jilbaber yang sering membuat saya kecewa, mulai saat itu tidak lagi mengeruhkan hati saya toh saya pun belum tentu lebih baik dari mereka yang menurut saya tidak baik itu. Jika ada jilbaber yang sikapnya belum seperti diharapkan banyak orang, jangan salahkan agamanya, dan jangan salahkan semua jilbaber, itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya. Lalu, bagaimana dengan saya sendiri?? Setelah peristiwa penting itu, saya mulai mengurangi intensitas jalan berdua dengan lawan jenis, meskipun itu anak d’Runtah sekalipun, jika tidak kepepet karena pulang kemalaman, saya memilih pulang sendiri naik angkot atau minta dijemput ayah atau kakak saya. Alhamdulillah juga, Alloh SWT mengabulkan doa saya untuk mempertemukan saya dengan jodoh setelah lulus sarjana, dengan demikian tidak ada acara pacaran selama sekolah atau kuliah. Jodoh yang diberikanNya pun seorang yang pro jilbab, sehingga dia bisa jadi “satpam” cara saya berpakaian.

Saya bersyukur, saat ini jilbaber bukan lagi dipandang sebagai “alien”, sudah lazim, bahkan sudah menjadi salah satu fashion style dunia, buktinya itu salah satu desainer busana muslim terkenal kita udah buka pagelaran di luar negri, ga perlu disebut namanya ya…pasti udah pada tahu siapa orangnya😉 Tapi untuk saya sendiri, berjilbab bukan untuk mengikuti trend berpakaian, meskipun jilbab yang dipakai ya mengikuti model yang ada sekarang. Untuk saya sekarang, berjilbab adalah kebutuhan, kebutuhan untuk merasa nyaman pada saat bertemu dengan orang lain yang berbeda kelamin dan bukan mahram, atau mahram karena pernikahan (adik ipar laki-laki).

Dari dalil yang saya tahu, dan konon katanya shahih juga, adik ipar laki-laki itu adalah mahram, berarti sebenarnya kita boleh tidak berkerudung jika ada adik ipar laki-laki ke rumah, tapi kalau saya, merasa jauh lebih nyaman kalau tetap berkerudung dan menutup semua yang hanya boleh dilihat oleh suami dan mahram, pada saat si adik ke rumah. Pada awalnya adik ipar saya bingung dengan sikap saya, mungkin dia juga tidak enak karena membuat saya harus berkerudung di rumah di tengah panasnya hawa Jakarta. Tapi saya tidak pernah menunjukkan rasa ketidaknyamanan(misal: kepanasan) dengan itu semua, dan saya sampaikan juga ke suami, yang saya harap sudah disampaikan juga ke adik-adiknya bahwa saya memang lebih nyaman berkerudung pada saat mereka berkunjung ke rumah.

Ada pengalaman lain yang membuat saya bahagia dengan cara berpakaian saya sekarang, yaitu pada saat kami baru pindah ke lingkungan dimana mayoritas tetangga adalah non muslim. Kebiasaan saya selalu menggunakan baju panjang dan berkerudung pada saat keluar rumah, sempat mengundang ekspresi keanehan di wajah para tetangga. Pernah suatu saat, tetangga saya tanya, “Mau kemana,bu?”, saya jawab, “Mau buang sampah”. Dia bingung, karena tetangga lain yang muslim hanya berjilbab jika mau bepergian jauh saja, sedangkan kalau ke warung atau sekedar ngobrol di depan rumah dengan para tetangga, dia tidak pernah berjilbab. Awalnya saya sempat takut juga akan dikucilkan oleh mereka karena cara berpakaian saya, tapi syukurnya mereka orang yang baik semua, tidak pernah mempermasalahkan hal seperti ini untuk membatasi pergaulan. Yang penting kami tetap saling menghargai, dan saya pun melakukan ini karena saya merasa lebih nyaman.

Demikian sharing saya, semoga ada manfaat yang bisa diambil. Maaf tidak ada gambarnya yaa…hehe…!!

Jakarta, tanggal tua Oktober 2013 Masehi, ketika udaranya dingin dan tanahnya masih basah setelah disiram hujan.

Semacam salam manis:
Untuk d’Runtah, dimanapun kalian berada…I miss u,all! dan untuk suamiku, kamulah yang terbaik!!

3 thoughts on “Bahagia Berjilbab

  1. membayangkan dirimu pakai celana jeans dn bertopi mak***tuing-tuing* he he,,berjilbab itu urusan hati kita kok,,siap ngga siap pd akhirnya kn berjilbab emang wajib,,cukup ngos2an jg nih bacanya tanpa foto bwt jeda soalnya*ambil air putih minum dulu* tapi aku setuju penggunaan kata mahram mak,,bukan muhrim,,setahuku memang seharusnya pakai mahram ya,,tp udah pd terlanjur bilang muhrim,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s