Mbak Mika Minta Dedek….

Kemarin malam, Papanya Mika dapat tugas untuk membuat Mika tidur. Sementara saya masih asyik membaca novel di kamar sebelah, saya mendengar Papanya Mika mulai membujuk Mika untuk tidur, lebih kurang begini kata-katanya “Mbak cepet tidur…besok sekolah, Papa juga harus kerja…”, Mika dengan nada sedih dan memang kata Papanya sampai hampir menangis begitu dia bilang “Papa ga boleh kerja…”, saya dengar Papanya masih membujuk “Lho…ya harus kerja dong…”, dengan nada yang masih sangat sedih, Mika bilang “Aku pengen dedek…”, Papanya jawab “Bilang sama Bubu…”, eh Mika dengan terburu-buru berlari mencari saya, kemudian teriak “Buu…aku pengen dedek…”, kaget dan bingung, saya jawab “Iya…nanti…”, haha…seperti minta donat saja.

Snoop BlueMika kembali ke kamarnya dimana Papanya masih di sana juga, menemani Mika untuk segera tidur, tapi pada kenyataannya Papanya duluan yang sukses tidur, Mika tidak, mungkin masih banyak yang dia pikirkan sehingga susah tidur. Mika datang ke kamar dan saya langsung menyimpan novel yang sedang saya baca, untuk kemudian menemani Mika untuk tidur. Mika masih belum terlihat ngantuk, wajahnya nampak tidak tenang. Saya bilang, “Mbak…ayo tidur, besok kan sekolah”, dengan wajah cemberut dia bilang, “Papa jangan kerja…!!“, saya bilang,“Kalau Papa gak kerja, siapa yang mau cari uang?Emang Bubu boleh kerja lagi?”, dia langsung jawab, “Nggaaa…”, saya bilang lagi, “Kalau Papa gak kerja, kita gak punya uang…nanti gak bisa jalan-jalan lagi ke Kebun Binatang, kan masuk ke sana harus pake tiket, belinya pake uang…”, Mika langsung menimpali, “Ke Pejaten juga…”, Pejaten itu nama mall dekat rumah kami, dan saya jawab “Iya…”. Mika nampak masih sedang berpikir, tak lama kemudian dia bilang, “Bu…aku mau dedek…nanti tidur di sini…”, Mika bilang begitu sambil nunjuk tempat yang kosong diantara saya dan dia. Dalam hati pengen ketawa, hahaha…dia masih ingat kata-kata saya pada saat dulu pernah bujukin Mika untuk punya adik, bahwa dengan punya adik, dia punya teman untuk tidur dan bermain, tapi saat itu dengan tegas dan nada tidak suka, Mika selalu menolak untuk punya adik, dia bilang “Dedek Snoop aja…Snoop Aulia”, Snoop adalah boneka Snoopy kesayangan Mika. Tapi malam kemarin itu, Mika tidak mau lagi mengangkat Snoop sebagai adiknya.

Karena Mika masih gusar, saya coba jelaskan, bagaimana kalau Mika nanti punya adik, dan Mika mendengarkannya dengan seksama waktu saya bilang, “Kalau punya dedek, mbak harus udah bisa makan sendiri, mandi sendiri, mpup sendiri, pipis sendiri…,karena apa? Karena Bubu harus mengurus dedek yang belom bisa mandi dan mpup sendiri…minum susu aja masih sama Bubu…ya kan?”, Mika gak jawab, tapi wajahnya seperti sedang mencerna omongan saya. “Udah sekarang bobo’…nanti kalau udah ada dedek, mbak ada teman untuk bermain…”, saya lihat Mika udah tenang, setelah beberapa saat diam, akhirnya tertidur juga.

Setelah Mika dipindahkan ke kamarnya, saya dan suami mulai…ngobrol!!Hehe…masa langsung bikin dedek untuk Mika?? Maaf ya, prosesnya tidak perlu diblogkan:-p Saya mulai menduga-duga apa penyebab Mika tiba-tiba minta adik, padahal sebelum-sebelumnya dia sering menolak, dan bilang “gak mau”, setiap ada yang tanya,“Mika mau punya adek?”.

Saya dan suami nampaknya memiliki hipotesa yang sama, bahwa permintaan Mika ini karena pola asuh kami berdua yang mendidik Mika untuk mandiri, tidak pernah memanjakan yang berakibat Mika merasa takut kehilangan perhatian kedua orang tuanya jika nanti memiliki adik.

CIMG0199
Kebiasaan saya akhir-akhir ini yang sering menyuruh Mika bermain sendiri pada saat saya sedang mengerjakan sesuatu, mungkin menjadi pemicu untuk Mika merasa butuh memiliki seorang teman bermain di rumah. Itulah, kenapa dia tidak mau Papanya pergi kerja, karena selama ini kalau ada di rumah, Papanya selalu menemani Mika bermain, kadang kalau akhir pekan, mereka pergi berdua jalan-jalan, dan Mika dengan senangnya bilang, “Bubu di rumah aja yaa…dadaaahh…!!”.

Dulu saya dan suami, sempat punya rencana, akan memberikan adik pada Mika, pada saat Mika memintanya. Keinginan kami saat itu didasari oleh pengalaman di keluarga, dan orang-orang yang kami kenal, selain itu kami berdua terutama saya sebagai ibu, masih khawatir tidak bisa memperlakukan anak-anak secara adil, yang akan menyebabkan Mika atau adiknya tidak bahagia. Entah kenapa, walaupun ada orang tua yang mencibir, “Mana ada anak yang minta adik…ya kita kasih aja,nanti juga sayang sama adiknya…”. Prinsip itu tidak berlaku untuk saya dan suami. Kami sepakat, dan selalu berusaha tidak mau memaksakan kehendak pada anak, meskipun niat kita baik, tapi jika caranya salah, anak bisa jadi korban, karena merasa kurang perhatian sehingga menjadi sedih dan tertekan. Banyak kejadian di sekitar kami, dimana anak sulung membenci adiknya. Seorang teman baik saya pernah cerita bahwa tetangganya memiliki seorang bayi yang berusia beberapa bulan, tapi meninggal, dan pembunuhnya adalah kakaknya sendiri yang masih balita, katanya kepala si adik ditutup bantal, sehingga tidak bisa bernafas, akhirnya meninggal. Seorang kenalan juga bercerita, bahwa anak sulungnya stres pada awal-awal dia punya adik, bentuk stresnya adalah matanya yang tiba-tiba menjadi minus. Masih ada beberapa cerita lain tentang anak sulung dan adiknya, tapi pada intinya kemungkinan si sulung “berulah” karena dia merasa memiliki saingan, dan merasa kehilangan perhatian serta kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Jadi menurut saya, berilah adik pada saat si kakak memintanya, jika kakak belum meminta, jadikan saat penantian itu sebagai persiapan; untuk kedua orang tua supaya mempersiapkan moril/mental dan materilnya agar lebih baik dalam mendidik dan menjaga anak-anaknya kelak; sedangkan untuk si kakak menjadi masa pembelajaran supaya dia merasa butuh memiliki adik sebagai teman baiknya, bukan sebagai saingan yang akan merenggut kebahagiaannya.

3an_10Cara kami mempersiapkan mental Mika sebelum punya adik, antara lain:
1. Membiasakan Mika untuk mandiri, dari hal-hal kecil, seperti: mengambil makanan atau minuman sendiri, dengan sebelumnya memberikan latihan tanpa mengabaikan keselamatannya.
2. Tidak memanjakan Mika. Dari mulai Mika sudah bisa belajar berjalan, kami sudah jarang menggendongnya. Hal ini memberikan efek positif untuk kedua belah pihak, bagi orang tua, meringankan beban dan menghemat energi, sedangkan untuk anak, dia diberi kebebasan untuk mengeluarkan potensinya, dan ruang eksplorasi untuk keingintahuannya.
3. Membawa Mika ke lingkungan “adik&kakak” yang baik, supaya dia bisa melihat dan menganalisis sendiri bahwa memiliki saudara kandung adalah sesuatu yang mengasyikan, mudah-mudahan dia berpikir bahwa memiliki adik itu adalah suatu kebutuhan bukan persaingan. Lingkungan yang paling sering kami berikan kepada Mika adalah dengan membawanya bertemu sepupu-sepupunya.

Itu hanya pengalaman kami, mungkin ada kiat lain yang lebih baik dari para orang tua lain yang lebih berpengalaman dan telah memiliki lebih dari seorang anak.

Tugas saya dan suami adalah untuk membuat Mika bahagia, semoga jika kelak dipercaya lagi mendapatkan tambahan amanah, kehadirannya akan menambah kebahagiaan keluarga kami. Aamiin.

Demikian sharing ini, semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Mbak Mika Minta Dedek….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s