Pembantuku Sayang (Bagian.3)

<< Cerita tentang PRT/ART saya sebelumnya ada di sini dan sini.

Setelah mbak Tn, masih ada lagi beberapa PRT/ART yang saya rekrut pada saat mbak Tn masih bekerja. ART tersebut lebih tepatnya ditujukan untuk jadi pengasuh dan perawat anak saya.

Pembantu Kelima, At

Pembantu kelima saya adalah seorang gadis kecil baru lulus Sekolah Dasar, sebetulnya dia tidak ditujukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena tugas itu sudah dipegang oleh mbak Tn. At ini tetangga ibu saya di Cimahi, dia saya minta untuk menjaga anak saya, karena ibu tidak bisa selamanya menjaga Mika, ada bapak yang lebih wajib untuk diurusnya. Karena begitu sulitnya mencari pengasuh yang sesuai keinginan kami, akhirnya At yang masih sangat muda dan belum berpengalaman ini pun kami terima untuk ikut bersama kami di Jakarta. Jobdesk yang saya berikan kepada At antara lain adalah menemani Mika bermain, membuatkan susu botol, mencuci dan menyetrika pakaian Mika, dan sesekali memasak dan mencuci piring di dapur pada saat mbak Tn tidak ada jadwal kerja. Satu bulan At bersama kami, ibu saya masih ikut menjaga Mika, sambil mendidik At juga supaya bisa menjadi asisten rumah tangga yang baik untuk keluarga saya. Tapi mungkin karena masih sangat muda dan belum berpengalaman, At sangat sulit dididik, bahkan 1 bulan dididik dan dilatih, sepertinya tidak ada perkembangan berarti. Semakin mendekati saat-saat terakhir ibu saya bersama kami, semakin ketar-ketir saya meninggalkan Mika bersama At. Sikap At belum bisa membuat saya yakin dan tenang meninggalkan Mika pada saat saya tidak ada. Karena kekhawatiran tersebut, saya kemudian mencari lagi seorang pengasuh lain yang lebih pengalaman dari At, dan tentunya hanya pengasuh paruh waktu saja, yang hanya datang di pagi hari, dan pulang di sore hari. Sebetulnya saya dan suami ingin mbak Tn yang rawat anak kami, karena Mika juga sudah akrab dengan mbak Tn. Kami pernah mengajukan tawaran tersebut kepada mbak Tn, tentunya dengan imbalan upah yang lebih tinggi, dengan perhitungan bahwa upah tersebut harus dapat menggantikan upah mbak Tn di majikan-majikannya yang lain, selain itu juga kami menghargai lebih tinggi kualitas kerja dan kepercayaan kami kepadanya. Sayangnya, mbak Tn tidak mau menerima tawaran tersebut, tapi dengan baiknya dia mencarikan orang lain untuk kebutuhan mengasuh dan merawat Mika. Pada saat saya masih sibuk mencari pengasuh lain untuk Mika, saya melihat sikap At belum ada kemajuan juga, alih-alih bisa menjadi pengasuh yang baik untuk Mika, yang ada malah bisa membuat Mika celaka. Untuk kekurangan At yang belum terbiasa mengerjakan rumah dengan baik, saya masih bisa mentolerir untuk tetap mempertahankannya, tapi begitu saya lihat sendiri bagaimana At membiarkan Mika mau memegang setrika yang sedang digunakan At untuk menyetrika, saya sudah habis batas toleransi untuk terus mempertahankannya. Begitu saya sudah mendapatkan pengasuh lain, kebetulan dia adalah temannya mbak Tn, sehingga tanpa ragu dan ringan hati saya berhentikan At dan mengantar pulang ke kampungnya, meskipun saat itu baru masuk bulan ke-2 At bekerja di rumah kami.

Pembantu Keenam, Mr

Meskipun Mr masih muda, saat itu umurnya sekitar 23 tahunan, tapi dia sudah berpengalaman bekerja sebagai pengasuh dan ART juga. Sebelum merawat Mika, Mr pernah merawat anak dari umurnya 7 bulan hingga 3 tahun. Alasan berhenti di majikan sebelumnya dikarenakan tidak ada izin dari suaminya untuk bekerja inap di rumah majikan, suaminya Mr ingin Mr bekerja paruh waktu saja, sehingga bisa pulang setiap hari ke rumah.

Mungkin karena sudah berpengalaman momong anak, Mr langsung bisa membuat Mika nyaman, dan saya pun tenang melihat cara Mr memperlakukan Mika. Saya lihat Mr sayang anak kecil, mungkin karena dia juga sedang menantikan kehamilan dari hasil pernikahannya. Sikap Mr ini membuat saya tenang meninggalkan Mika di rumah, karena saya yakin Mr bisa diandalkan dan bisa dipercaya kejujurannya. Sepertinya halnya mbak Tn, Mr juga memiliki sifat yang sama, lebih banyak bekerja daripada bicara, Mr juga kadang mengerjakan tugas-tugas mbak Tn jika mbak Tn sedang tidak masuk. Kualitas kerjanya memang lebih bagus Mr daripada mbak Tn, banyak nilai plus yang dia lakukan selama bekerja di tempat saya, diantara para ART saya, sepertinya Mr paling smart, terlihat dari cara dia menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan, dan mau banyak belajar dengan cepat. Yang paling kelihatan adalah setiap menemani Mika menonton TV, meskipun dengan pelafalan yang kurang tepat, Mr tetap berusaha untuk belajar bahasa Inggeris dari tontonan yang biasa dilihat Mika, dia juga sering membaca buku-buku koleksi saya, jika semua pekerjaannya sudah selesai. Tanpa perlu saya suruh, biasanya Mr sudah berinisiatif melakukan tugas-tugasnya membereskan pekerjaan rumah. Hal ini juga yang memantapkan hati saya untuk memberhentikan At, karena Mr sudah lebih dari cukup untuk bisa mengambil alih semua tugasnya At.

Dengan segala kelebihan Mr, ada juga kekurangannya, diantaranya dia sering nebeng masak di dapur saya, menggunakan segala fasilitas yang ada, kompor, minyak goreng, dan bumbu-bumbu. Kadang izin dulu, kadang juga masak dulu, baru setelahnya bilang ke saya. Kebiasaannya ini membuat konsumsi kebutuhan domestik rumah kami jadi lebih banyak, gas jadi lebih boros, karena Mr sering ikut masak untuk ungkeb daging dan ikan miliknya😦 Selain gas, sabun cuci piring dan air (efeknya ke tagihan listrik) menjadi lebih boros, karena dia pasti mencuci perabot yang bekas dipakainya.

Berdasarkan kesepakatan awal dengan Mr, jam kerja dia adalah dari jam 07.00 hingga 17.00, jika saya pulang ke rumah lebih dari jam 17.00, maka saya akan berikan uang overtime sebesar Rp.10.000/jam. Tapi meskipun selalu saya beri uang OT kadang juga ditambah dengan makanan siap saji untuk dia dan suaminya, Mr selalu saja tanya jam berapa saya pulang, sering juga ngatur-ngatur supaya saya pulang sesuai keinginan dia, dengan alasan dia ada jadwal pengajian atau harus masak untuk suaminya. Saya sering sebel jika dia sudah ngatur-ngatur begitu, karena jika sedang meeting dengan client, sulit sekali mengatur jam selesainya, terlebih lagi jika perjalanan pulang lebih lama karena macet, makin besarlah uang OT yang harus saya berikan. Ada hal lain lagi, Mr tuh sering mengajukan kasbon, dan sering berhari-hari gak masuk dengan berbagai alasan, biasanya cuti pulang kampung, atau alasan sakit.

Pernah suatu saat, mbak Tn tanya kenapa Mr tidak datang ke rumah saya. Saya jawab bahwa sudah beberapa hari itu Mr sakit, jadi izin gak kerja. Mbak Tn kaget, dan dia bilang bahwa kemarinnya dia bertemu  Mr di rumah salah seorang majikan mbak Tn, karena suami Mr bekerja di situ. Saat itu mbak Tn nampaknya jadi gak enak sama saya, karena bagaimana pun dialah yang membawa Mr kerja di rumah saya. Saya juga kaget, kenapa Mr bisa berbuat begitu. Padahal selama ini saya percaya dengan kejujurannya. Di sms Mr bilang bahwa dia sakit dan ingin istirahat di rumah, saya izinkan meskipun sedang hectic dengan pekerjaan. Tapi saya berusaha berpikir positif saja, mungkin dia memang ingin istirahat, tapi bingung cari alasan yang bisa saya izinkan.

Di penghujung libur lebaran tahun 2012, Mr sms saya tanya apakah gajinya naik? Mungkin karena dia sudah bekerja 1 tahun di tempat saya, sehingga dia merasa berhak untuk mendapatkan kenaikan gaji. Dengan pertimbangan bahwa gaji yang kami berikan sudah lebih Rp.200 ribu dari gaji rata-rata untuk seorang pengasuh paruh waktu (tidak menginap), maka saya jawab bahwa untuk saat itu saya belum bisa memberi kenaikan, saya gak bilang alasannya apa, dan ternyata hal tersebut dijadikan alasan oleh Mr untuk tidak melanjutkan bekerja di rumah kami. Dengan demikian, Mr hanya 1 tahun menjadi ART kami.

Hingga saat ini, saya kadang masih bingung, keputusan saya untuk tidak mempertahankan Mr apakah tepat atau tidak. Mr sepertinya tahu, bahwa saya membutuhkan asisten seperti dia, sehingga dia bisa bersikap seenaknya, termasuk minta kenaikan gaji. Jika saya turuti terus kemauan dia, saya khawatir lama-lama saya tidak ada wibawa, dan posisinya jadi terbalik, yang jadi majikan bukan saya, tapi dia yang dengan seenaknya bisa mengatur-ngatur saya😦 Di sisi lain, tidak mudah juga menemukan ART dengan kualitas seperti Mr. Tapi untungnya dengan posisi saya sekarang sebagai pekerja freelance, saya masih memiliki pilihan lain, sambil mencari lagi ART yang lebih baik. Semoga masih ada stok ART yang kualitasnya lebih baik dari Mr. Aamiin.

MASIH BERSAMBUNG YAAA…🙂 Sambungannya di sini.

Gambar diambil dari sini.

2 thoughts on “Pembantuku Sayang (Bagian.3)

  1. Wah… emang dilema banget ya kalo udah nyangkut urusan ART. Saya juga sering pusing dengan masalah ini. Plus heran juga. Perasaan udah dibaikin, diperlakukan seperti saudara, makan ga dijatah, ga dipisah, dikasih honor ekstra kalau kerja di luar jobdesk, kadang juga saya nyuci sendiri supaya dia ga kecapean, ehhh… malah seringnya pada nglunjak.. Saya juga lagi ketar-ketir nih sekarang, karena ART sedang pulang kampung dengan alasan mau Mauludan. Janjinya sih balik lagi… semoga saja gak bohong..

    Btw salam kenal ya mak….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s