Pembantuku Sayang (Bagian.4) episode “Life without PRT/ART”

<< Tulisan sebelumnya ada di sini.

Nampaknya keputusan saya memberhentikan mbak Tn menjadi keputusan besar yang membawa saya pada episode hidup yang memberikan banyak hikmah, dan merupakan periode penempaan diri yang luar biasa mengubah saya menjadi GABAN…eh…menjadi wanita yang lebih baik…insyaAllah, semoga!! Aamiin.

Banyak hikmah yang saya dapat selama mengurus rumah tangga, sekaligus mencari uang, tanpa bantuan PRT/ART. Pada awalnya memang sangat sulit…bahkan sangat…sangaaaatt berat untuk saya jalani. Sebagai manusia biasa, saya akui bahwa saya pernah mengalami semacam shock terhadap rutinitas baru yang mau gak mau harus saya jalani setiap hari, tanpa pilihan lain, selain harus mengerjakan semuanya. Rutinitas yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan saya sewaktu masih memiliki PRT/ART, membuat saya merasa sangat jenuh dan tertekan. Pada awal episode hidup tanpa PRT/ART, dunia saya menjadi tidak karuan…masih mending jika jungkir balik, malam menjadi siang, atau sebaliknya, tapi dunia saya saat itu hanya jungkir saja,tidak berbalik lagi, siang dipakai kerja (mengurus anak dan rumah, menjalankan bisnis sendiri juga), malam pun tetap harus bekerja (mengerjakan proyek). Kuantitas dan kualitas tidur menjadi sering terganggu. Hal ini yang menyebabkan saya menjadi sering sakit, tidak hanya fisik, psikis juga mulai tidak sehat, indikasinya adalah emosi yang tidak stabil, dan yang sering menjadi korban sakit saya tentulah orang-orang terdekat yang saya sayangi, yaitu suami dan anak😦 Apapun yang mereka lakukan selalu salah di mata saya, tapi untungnya, luapan emosi saya hanya berupa intonasi suara yang tinggi saja terhadap mereka,tidak ada yang mengarah ke fisik, alhamdulillah.

Akal sehat dan hati nurani saya bertentangan dengan apa yang saya lakukan, sikap saya menyalahkan mereka, tapi hati saya menyalahkan diri saya sendiri. Kondisi ini menyebabkan tekanan yang luar biasa terhadap jiwa saya. Saya selalu merasa bersalah dan berjanji pada diri sendiri jika memarahi Mika karena Mika melakukan kesalahan yang tidak disengaja, maka itu harus menjadi marah yang terakhir saya padanya. Kesadaran dan keinginan untuk tidak mengulangi kesalahan saya ini membuat saya jadi sering berkontemplasi setiap saat, sambil terus berusaha memperbaiki diri dan kondisi, serta mencari solusi terbaik untuk masalah yang sedang saya hadapi. Singkat cerita, akhirnya saya mulai bisa bangkit dari ketidakjelasan hidup saya, dan berusaha menikmati hidup bagaimanapun keadaannya. Beberapa hal yang saya lakukan antara lain:

Mengukur Kemampuan Diri

Orang-orang terdekat sering menilai bahwa saya itu seorang yang ambisius. Padahal saya sendiri hanya berpikir bahwa hidup itu harus memiliki tujuan. Bagaimana pun caranya tujuan itu harus diupayakan untuk terwujud. Ambisi-ambisi itu bagi saya merupakan mimpi-mimpi yang bisa membuat saya bersemangat untuk menjalani hidup. Saya memiliki banyak mimpi besar yang ingin diwujudkan, tetapi dengan kondisi memiliki anak balita yang masih membutuhkan banyak perhatian, dan tidak ada asisten yang membantu, rasanya mimpi-mimpi itu sangat sulit untuk diwujudkan. Pada saat saya kesulitan membagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk semua kewajiban hidup, saat itulah terjadi konflik, ada ketidakserasian antara semangat dan kekuatan. Saat harapan tidak sesuai kenyataan, saat itulah manusia akan merasa kecewa dan tertekan, atau stres. Alhamdulillah, saat saya stres, kesadaran selalu ada menemani, sehingga saya tetap bisa berpikir sehat untuk keluar dari kondisi tersebut.

Kesadaran akan keterbatasan kemampuan, membuat saya harus menyimpan dulu mimpi-mimpi saya, berpikir bahwa akan ada waktu yang tepat untuk segala hal. Untuk kondisi yang saya hadapi, saat tidak punya PRT/ART, mungkin saat itulah saya harus berhenti dulu mengejar ambisi, atau saatnya untuk fokus mengurus anak dan keluarga. Jika dianggap cuti, inilah cuti panjang dari hiruk pikuknya dunia kerja, sambil menunggu anak mandiri dan tidak terlalu banyak bergantung lagi kepada saya.

Meningkatkan Kemampuan Manajemen

Tugas yang menumpuk versus waktu, dan tenaga yang terbatas, menuntut saya untuk terus berpikir dan bertindak cerdas. Pada awalnya saya bingung mana yang sebaiknya harus dikerjakan dahulu, tapi saat itu saya tidak hanya diam saja, saya tetap mengerjakan apa yang terlihat dan memang harus dikerjakan. Pekerjaan rumah tangga harian yang hingga kini masih jadi tanggung jawab saya, antara lain: baju, perabot, dan lantai yang kotor, anak yang harus diberi makan, minum, urusan toiletnya(mandi, buang air besar/kecil), rasanya tidak pernah ada habis, dan memang tidak akan habis. Mungkin berkurang, kalau anak sudah mulai mandiri.

Seiring waktu berjalan, lama-lama saya memiliki pola sendiri untuk mengelola semua tugas harian itu. Mungkin karena tuntutan keadaan juga saya dan Mika mulai beradaptasi. Untuk Mika sendiri, kebetulan dari kecil dan masih ada pengasuh sudah terbiasa dengan “jadwal” yang saya terapkan.

Waktu saya masih kantoran, Mika terbiasa bermain bersama ibunya sepulang ibunya kerja, biasanya setelah jam 17. Begitupun ketika masih ada pengasuhnya dan saya bekerja di rumah, Mika sudah terbiasa dan mengerti bahwa sebelum jam 17 ibunya tidak boleh diganggu. Saya ingat sekali, dulu kalau sudah menjelang jam 17, Mika biasanya ketuk-ketuk pintu kamar yang merangkap ruang kerja saya. Ketika saya sudah tidak memiliki PRT/ART lagi di rumah, ada banyak perubahan terhadap jadwal yang biasa. Saya tidak bisa lagi menutup pintu ruang kerja, karena apapun yang saya kerjakan, Mika selalu berada di dekat saya, hal ini juga  untuk memastikan bahwa Mika baik-baik saja.

When I Faced the Big Challenge

IMG_20130515_194002Ada pengalaman paling berkesan ketika saya masih sibuk mengerjakan proyekan, tapi tidak ada satu pun asisten untuk menjaga Mika. Suatu pagi, sekitar jam 8, bos saya telpon dan minta saya untuk menyelesaikan suatu tugas sebelum jam 10 pagi itu juga. WHAAATTT??? Tapi saya tetap menyanggupi perintahnya itu, bagaimanapun saya sudah terikat kontrak, dan saya harus berusaha maksimal untuk semua tugas saya.

Mika yang saat itu sedang bermain, saya panggil dan saya bilang padanya bahwa saya sedang bekerja, saya janji kalau sudah selesai bekerja saya akan menemaninya bermain, bahkan mau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Saat itu saya membuat semacam kesepakatan dengan Mika,  dengan bilang bahwa Mika tidak boleh ganggu saya sampai jam 10 (saya bawa dia ke dekat jam dinding dan menunjukkan angka 10, diapun mengangguk), jika Mika ganggu saya sebelum jam 10, maka saya tidak akan membawanya ke mall. Saya tanya dia,”deal”?? Mika jawab “deal”!! Dan mulailah saya bekerja, dengan terlebih dahulu memasangkan dia diaper, kemudian menyiapkan makanan, minuman, susu botol, susu kotak, menyalakan TV di channel favoritnya, dan mendekatkan semua mainan di dekatnya juga.

Selama 2 jam itu saya mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk membuat dokumen yang diminta si bos. Sesekali melihat Mika yang sedang bermain  dan nonton TV, kadang saya menimpali celotehannya, bahkan sambil bernyanyi bersamanya juga. Itu multi tasking terberat yang pernah saya lakukan, di-challenge 2 jam menyelesaikan dokumen-dokumen penting, sambil menjaga anak balita yang sangat aktif.  Setelah dokumen ter-submit, si bos kontak saya lagi, tanya nomor rekening untuk segera mentransfer honor saya. Wow, ternyata tidak ada lagi revisi untuk dokumen yang saya buat, berarti si bos langsung puas dengan hasil kerja saya. Alhamdulillah.

Hingga hari ini, jika mengingat kejadian itu, saya selalu merasa bahagia, karena itu salah satu prestasi besar yang pernah saya capai, tentunya dengan bantuan partner kecil saya, yang saat itu umurnya belum genap 2.5 tahun.

Just Do and Enjoy It!

Lebih kurang 1 tahun 2 bulan saya hidup tanpa PRT/ART, meski awalnya sangat berat, tapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa, dan memiliki pola serta jadwal tertentu untuk setiap tugas.

Pola kerja yang saya lakukan yaitu  dengan mengikutsertakan Mika dalam setiap pekerjaan saya, “sambil kerja, ngasuh anak”. Contohnya, jika saya mencuci baju, Mika juga sibuk main air dan sabun. Jika saya menyetrika, Mika juga ikut-ikutan sibuk melipat atau menyetrika baju-baju dengan setrika mainannya, dan sebagainya. Seru sih, tapi capeknya juga lumayan, karena apa yang Mika lakukan, biasanya selalu menambah pekerjaan yang harus saya bereskan lagi.

Saya bahagia bisa memiliki banyak waktu bersama anak, menyaksikan bagaimana anak tumbuh dan berkembang setiap harinya, rumah juga mulai terawat, meskipun tidak selalu rapi setiap hari, tapi ada saatnya saya ingin beres-beres dan menata rumah dengan tangan sendiri. Meskipun saya bahagia dengan kondisi seperti itu, tapi tetap saja ada yang kurang, seperti kurangnya waktu untuk hiburan, dan beraktualisasi diri. Saya terus berpikir dan berpikir, mencari solusi yang lebih baik untuk setiap masalah yang ada.

When We Have Another “Better” Choice

Setiap keputusan pasti ada resikonya. Tapi karena hidup banyak pilihan, kita bisa memilih resiko yang paling minimal. Untuk kondisi yang saya hadapi, hidup tanpa PRT/ART pun sebenarnya bisa jadi bukan masalah, saya yakin bisa, karena orang lain pun banyak yang bisa. Contoh yang paling dekat adalah ibu saya sendiri, beliau tidak pernah memiliki PRT/ART, tetapi bisa membesarkan ketiga anaknya dengan baik, padahal sambil menjalankan usaha sendiri juga di rumah. Selain itu, saya pernah membaca buku tentang kehidupan di Jepang, yang mana di sana para ibu terbiasa mengurus rumah tangganya sendiri, tanpa bantuan PRT/ART. Kehidupan mereka baik-baik saja, dan kita harus mengakui bahwa negara mereka lebih maju daripada kita yang banyak tergantung pada PRT/ART. Pengalaman saya sendiri, setelah tidak ada PRT/ART, kami terbiasa menjadi disiplin dan mandiri. Misalnya, Mika dari kecil terbiasa untuk bisa makan sendiri, merapikan mainannya sendiri, membuang sampah ke tempatnya, dan hal-hal kecil yang tidak perlu dilayani oleh orang lain. Suami saya pun begitu, tidak lagi menyimpan barang sembarangan, membuat makanan atau minuman sendiri, kadang juga mencuci perabot yang sudah dipakainya. Sedangkan dari hasil didikan ibu saya, dari kecil saya terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mencuci, dan beres-beres rumah.

Setelah semua pekerjaan ditangani sendiri, waktu dan tenaga saya banyak terkuras untuk pekerjaan rumah, dan anak. Waktu untuk bersenang-senang, atau “Me Time” makin sedikit, bahkan seringnya tidak ada. Setelah mengurus rumah, biasanya badan sudah capek, saya lebih memilih tidur daripada melakukan hobi-hobi saya seperti membaca buku, nonton film, berselancar di internet, blogging, bikin pernak-pernik (handmade crafting), dan lain-lain.

Semua orang punya kesibukan, hanya tinggal masalah pengelolaannya, bagaimana supaya semua bisa ditangani dengan baik. Tetapi jika di depan kita masih ada pilihan yang lebih baik, dan memberikan banyak keuntungan yang lebih banyak untuk kita sendiri maupun orang lain di sekitar kita, ya kenapa tidak kita ambil? Yang saya maksud pilihan yang lebih baik ini adalah, meskipun kita bisa hidup tanpa PRT/ART, tapi jika ada orang lain yang bisa membantu meringankan tugas kita dengan baik dan dia memang membutuhkan pekerjaan untuk hidupnya, tidak ada salahnya kita pakai tenaganya.

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa rakyat di negeri ini banyak yang mengadu nasib di negeri orang hanya sebagai seorang PRT/ART. Jadi jika kita membutuhkan banyak waktu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dengan keahlian yang kita miliki, tidak ada salahnya kita membuka lapangan kerja untuk orang-orang yang tidak memiliki keahlian lain selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jadilah hubungan mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.

Setelah terbersit pikiran seperti itu, akhirnya saya mulai membuka lagi pintu untuk orang lain yang ingin bekerja di tempat saya. Dan mulailah saya open recruitment PRT/ART lagi…

Masih Bersambung yaa…^_*

Gambar dari sini dan koleksi pribadi.

4 thoughts on “Pembantuku Sayang (Bagian.4) episode “Life without PRT/ART”

  1. Kalau berkaca ke Jepang, kayaknya ibu-ibu Rumah Tangga di sana banyak terbantu ama sistem yang udah jalan ya. Misalnya aja kalopun mesti naik kendaraan umum sambil bawa balita, pasti mereka dapet seat yang ‘memudahkan’ dong.. gak kayak di sini yang mesti keruntelan dan sikut-sikutan🙂

    Eniwei, saya juga pada akhirnya ga sangguuuuup kalo tanpa ART😛 saya lebih milih ‘delegasi’in segala macem tugas domestik ke pihak ketiga aka ART ato tukang setrika sewaan, supaya saya punya lebih banyak waktu blogwalking #eh maksudnya lebih banyak waktu buat main ama si Kunyil, dan tentunya bisa bobok lebih lamaaa hehehe.. secara ya kalo saya tidur kurang dari 7 jam itu maunya marah-marah terus😛

  2. Saya gak pakai ART. Awalnya memang berat, tapi seiring berjalan waktu, jadi biasa aja. Kalau gak riweuh malah aneh😀

    Lagi jalan-jalan di blog Mak Mia untuk Srikandi Blogger 2014.
    Good luck ya🙂

  3. Dear ibun Pipitta…
    Kalo dari buku yg saya baca, pemerintah Jepang cukup memperhatikan kebutuhan rakyatnya, terutama ibu-ibu, dengan membuat tempat-tempat penitipan anak yang dikelola oleh pemerintah, dengan fasilitas dan pelayanan yang sangat baik, sehingga ibu-ibu di sana bisa menitipkan anak-anaknya dengan tenang, dan mereka bisa tetap bekerja di kantoran, maupun di rumah.Selain itu, as you said, fasilitas2 sosialnya juga cukup ramah terhadap ibu-ibu, sehingga ibu yang membawa anak cukup terbantu pada saat menggunakan sarana umum, baik transportasi maupun fasilitas lainnya.

    • Nahh…. itu dia… jadi selama belum ada fasilitas selengkap di Jepang, makanya perlu banget ART nih… hiihihihi… *ditoyor massa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s