Pembantuku Sayang (Bagian.5) – eps.Open Recruitment

PRT_wantedSetelah memutuskan untuk menggunakan jasa PRT/ART lagi, saya mulai menyebar info lowongan kerja ini. Karena saya butuhnya PRT/ART yang datang pulang saja, saya menyebarkan info ini hanya ke beberapa kenalan yang tinggalnya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Iklan lowongan kerja ini saya broadcast di grup emak-emak teman sekolahnya Mika, pernah juga saya pasang iklan yang ditempel di tembok toko langganan saya di pasar dekat rumah kami, tidak hanya itu, kadang jika bertemu kenalan-kenalan di sekitar rumah, sambil basa-basi saya sampaikan bahwa saya sedang cari PRT/ART, untuk cuci gosok, sekalian pengasuh juga, kalau ada.

Dari hasil open recruitment ini, mulai berdatanganlah para kandidat PRT/ART untuk saya wawancara. Sebetulnya sih lebih dari 3 orang peserta *halah* yang mengikuti proses open recruitment ini, tapi 3 orang ini yang paling memberi kesan…kesan negatif dan positif.

Interview Kandidat Pertama – St

St ini masih tetangga juga, profesi utamanya berjualan sayur. Waktu pertama saya melihat dia di depan pintu dan apply untuk jadi PRT, betapa kagetnya saya, saat itu juga langsung memutar otak bagaimana caranya menolak orang ini dengan cara yang baik-baik. St ini memiliki reputasi yang jelek di lingkungan rumah kami, terkenal culas dan tidak punya etika yang baik.

Waktu dia tanya berapa gajinya, *tring…light bulb* saya langsung sebut nominal di bawah rata-rata upah tukang cuci gosok di lingkungan kami. Kirain mau nolak, ternyata si St setuju, dan bilang mau datang lagi besok untuk mulai bekerja, tapi setelah dia selesai berjualan sayur, sekitar jam 10 pagi dan dia janji akan mengusahakan datang sebelum jam 10. Tidak terkira bingungnya saya, bagaimana kalau dia benar-benar jadi bekerja. Bukannya senang karena mau punya PRT lagi, saya malah bingung. Lebih baik saya kerjakan sendiri deh, daripada ada orang lain di rumah yang bikin saya gak tenang.

Malamnya saya diskusi dengan suami, memikirkan bagaimana caranya menolak tanpa menimbulkan masalah baru. Suami menyarankan untuk mencoba menerima St, hanya 1 bulan saja. Setelah itu pecat. Baiklaaaah!!

Besok paginya, karena sudah ada yang janji mau kerja, saya tidak mengerjakan semua kerjaan rumah, hanya menyiapkan apa saja yang harus ditugaskan ke St.

Menjelang jam 10, belum ada yang datang juga. Jam 10.00…10.15….hingga 10.30, belum keliatan juga itu si St. Karena gak tahan dengan kondisi rumah yang belum dibenahin, akhirnya saya kerjakan saja sendiri. Pas lagi sibuk ngepel, tiba-tiba pintu ada yang ketuk, begitu dibuka, yang nongol orang yang pengen saya tonjok batang hidungnya…hahaha…preman yaa…gak kok aslinya saya masih bisa menahan emosi, dengan sikap dingin, saya bilang “Sudah saya kerjain,mbak…“, sambil terus mengepel, pintu gak saya tutup, bagaimanapun jengkelnya, saya tidak ingin mengusir dia. Meskipun dalam hati sudah yakin dan bertekad bulat, sebulat-bulatnya…bahwa saya tidak akan menerima dia sebagai PRT/ART saya.TITIK!!!

Di luar dugaan, tanpa malu, dia nyelonong masuk, padahal tidak saya persilakan, menginjak lantai yang sudah saya pel dan duduk manis di sofa saya. Sangat…sangat tidak sopan!!! Aarrrggghhh!!

Berikut percakapan yang masih saya ingat…

St: “Anu,bu…bisa gak gajinya ngga segitu…tambah 50 ribu kek…

Saya: “Ngga bisa, mbak…

St: “Tapi saya juga punya bayi,bu…dan dia minum susu *sebut merk*…terus dia juga pakai pengasuh, jadi saya butuh untuk bayar pengasuh juga…

Saya: “Ngga bisa,mbak…kerjaannya dikit,kok…ga kerja tiap hari juga...” *haduh, kenapa saya musti ngomong panjang-panjang, kan gak penting banget yaa…hhhhhhh….*

St: “Sekarang bayar pengasuh mahal,bu…

Saya: *senyum asal, sambil ngomel di dalam hati “Kalau tahu mahal, kenapa juga maksain pake pengasuh, gaya benerrrr…”*

St: “Jadi gak bisa ditambah lagi ya,bu? Trus kalau misalnya saya gak masuk, apa gajinya dipotong,bu?

Saya: *agak mendelik saya melihat dia, belom jg kerja kok udah niat ga masuk, setelah atur nafas, saya jawab dia…* “Pembantu-pembantu saya sebelumnya kalau ga masuk, biasa ganti di hari lain, kalo gak diganti, ya dipotong gajinya…
St:”Ooo…gituh ya,bu…ya sudah,bu…eh eh,bu…boleh liat dapurnya yaaa…?”, dia bilang begitu, sambil nyelonong ke dapur saya, matanya jelalatan mengamati barang-barang yang ada di dapur.

Saya jadi curiga dia sedang survei isi rumah, ntah tujuannya apa. Sambil mengamati kondisi dapur, dia sibuk berkomentar….”Wah, enak ini ya,bu…luas….jemurnya di atas yaa…?”, saya jawab secukupnya aja.
Setelah puas survei dapur, dia duduk lagi di sofa saya.

St:”Bu, kenapa nyucinya harus pagi, saya biasa nyuci baju siang-siang,kering kok,bu…
Saya:”Ngga ah,mbak…saya biasa nyuci pagi-pagi, kalo jam segini nyuci, nanti bajunya ga kering-kering banget…bau apek…
St:”Kan diperesnya kuat-kuat,bu…jadi cepet kering…
Saya:”Kalo terik, mungkin kering…tapi kalo mendung mah belum tentu…” *hadooh…nih orang kayaknya keukeuh banget pengen kerja di saya*

Setelah ngoceh gak jelas temanya, akhirnya dia nyerah juga, dan pulang tanpa bilang salam. Kesel banget kayanya gak bisa bujuk saya, haha…

Mungkin karena saya tidak dalam kondisi “ART emergency”, proses rekruitmen saya lakukan dengan santai dan cukup selektif. Saya tidak ingin terburu-buru menerima orang, hanya karena ingin segera terbebas dari urusan domestik yang cukup menguras waktu dan tenaga.

Tapi meskipun saya open recruitment “butuh gak butuh” a.k.a “seperti gak terlalu serius”, kenalan-kenalan baik saya tetap saja berusaha membantu mencarikan sang calon ART. Diantaranya ada seorang ibu cantik dan awet muda nan baik hatinya, ehmm….semoga bisa tersenyum pas baca tulisan saya ini, meskipun kandidatnya tidak memenuhi kualifikasi saya. Tanpa mengurangi rasa terima kasih, saya mohon maaf, semoga segala kebaikan dibalas kebaikan yang lebih banyak. Aamiin.

Interview Kandidat Kedua – Nr
Pada saat datang ke rumah saya untuk interview, mbak Nr ini sudah sedang bekerja di tempat lain. Karena alasan sudah bekerja juga, seandainya diterima bekerja di tempat saya pun, dia tidak bisa datang pagi, tapi datang setelah selesai bekerja di majikannya sekarang, sekitar jam 10 atau 11.

Begitu masuk rumah, dari wajahnya saja dia nampak seperti setengah hati untuk bekerja di rumah saya. Pernyataan-pernyataannya begitu tidak enak menyentuh gendang telinga saya.

Begitu dia duduk di sofa, dia mengamati rak kecil tempat saya menyimpan peralatan-peralatannya Mika, ada tas sekolah, buku-buku, dan mainan tersimpan teratur di tempatnya masing-masing.

Sambil mengamati benda-benda itu, mbak Nr komentar begini “Kalau punya anak kecil, rumah ya begini ini, susah rapi ya,bu…?

Mmmhh…apa yang salah dengan benda-benda itu? Oke, mungkin tidak serapi di perpustakaan, tapi setidaknya saya sudah menempatkannya di tempat yang tepat, tidak berserakan dimana-mana. Meskipun rumah saya tidak rapi-rapi amat, tapi saya pernah berkunjung ke rumah, yang berantakannya lebih mengerikan daripada rumah saya.Baiklah…saya terima saja…mungkin dia biasa di tempat yang sangat rapi.

Dengan sedikit gelagapan karena kaget dengan komentarnya, saya jawab begini, “Ya namanya juga punya anak kecil,mbak…maklum saja…kita bereskan di sini…dia berantakin di tempat lain…hehe…”

Mbak Nr ini sikap dan cara bicaranya banyak yang tidak berkenan, saya merasa dia juga gak berniat kerja di tempat saya, jadi sikap dan kata-katanya cenderung bersikap menolak. Contohnya saja pada saat kami membahas masalah cucian. Mbak Nr mengatakan bahwa dia tidak terbiasa mencuci dengan tangan, karena di majikannya biasa menggunakan mesin cuci, kemudian dia bilang bahwa dia tidak biasa mencuci banyak-banyak. Yang saya ingat, kata-katanya begini, “Tapi saya gak bisa mencuci banyak-banyak ya,bu…apalagi kalau mencucinya pakai tangan, kan sambil jongkok-jongkok gituh yaa…pasti pegel…”, degghh….saya jadi gimana gituh, gak enak hati, sebal juga, karena setiap hari saya cuci pakai tangan, tapi hingga saat ini tangan saya tidak sekasar karung goni…ehemmm;-)  Saya tanggapi begini, “Mbak…kami juga dulu punya mesin cuci, tapi tukang cuci saya yang dulu, lebih senang pakai tangan, supaya cuciannya lebih bersih, katanya. Karena sering gak dipake, kemudian di sini dapurnya kecil, gak ada tempatnya…jadi itu mesin cuci saya berikan ke sopir kantor saja, gituh…”  * :-pppp*

Setelah obrol sana-sini, si mbak Nr nanya kapan dia bisa mulai kerja. Karena saya tidak tertarik untuk memberi pekerjaan kepadanya, saya jawab diplomatis, bahwa saya dan suami mau berunding dulu, besok akan memberitahukan hasil rundingannya kepada mbak Nr lewat sms. Setelah memberikan nomor ponselnya, mbak Nr pamit.

Suami saya yang mendengarkan proses interview dari kamar kami, langsung ngakak dan geleng-geleng kepala, dia pun heran dengan sikap mbak Nr, yang cenderung tidak mau bekerja keras.

Besoknya seperti yang sudah saya janjikan, saya kirim sms kepada mbak Nr, lebih kurang isinya seperti berikut,”Mohon maaf mbak Nr, saat ini saya membutuhkan orang yang bisa datang pagi. Terima kasih sudah menyempatkan datang ke tempat saya ya.Salam”

Interview Kandidat Ketiga – Nl
Meskipun saya sudah mulai enjoy tanpa PRT/ART, kadang saya masih iseng juga tanya teman, siapa tahu masih ada stok PRT/ART yang OK. Salah satunya adalah distributor minuman sehat langganan saya, yang selalu datang tiap minggu ke rumah.

Waktu saya tanya apa dia punya teman yang mau kerja di rumah saya, teman saya ini malah seperti bingung dan tanya balik sama saya, “Ada sih,mbak…tapi mbak Mia yakin mau pake pembantu lagi??”, saya jawab,”Ya kalau ada orang yang bagus, bolehlah…”. Sepertinya dia bingung, karena setiap ke rumah, biasanya saya lagi asik beres-beres rumah sambil bermain sama Mika, atau jika dia datang pas saya lagi cuci baju, saya gak pernah menunjukkan sikap tersiksa karena harus mengerjakan pekerjaan kasar tersebut.

2 hari kemudian, datanglah kandidat ke-3 ke rumah saya. Setelah basa-basi, ada percakapan yang membuat saya tertarik untuk memberikan pekerjaan domestik saya kepada si mbak Nl ini.

Saya bilang, “Di sini cucinya tidak pakai mesin, saya biasa cuci baju pakai tangan…”, di luar dugaan, mbak Nl bilang,”Gak apa-apa,bu…saya biasa mencuci pakai tangan juga, kalau mesin saya gak bisa…tapi kalau diajarkan dulu, mungkin bisa…

Setelah saya menyampaikan jobdesk dan aturan kerja, diapun menyanggupi semuanya. Biasanya para kandidat tidak bisa datang di pagi hari, karena kebanyakan mereka sudah bekerja di tempat lain, tapi Nl ini sanggup datang jam 7.

Meskipun mbak Nl ini belum berpengalaman menjadi PRT/ART, tapi saya melihat sikapnya yang bersemangat untuk bekerja hari itu juga, membuat saya ingin memberikan kesempatan. Sehingga, resmilah mbak Nl ini menjadi pembantu ke-7.

Bagaimana performa mbak Nl, dan bagaimana saya menyikapinya? Silakan ditunggu di tulisan selanjutnya yaa…;-)

BERSAMBUNG (LAGI)🙂

9 thoughts on “Pembantuku Sayang (Bagian.5) – eps.Open Recruitment

  1. iya…kayak org pacaran…kalo ada yg nyatain…ya “coba jalani dulu deh…”, di tengah jalan makin menyebalkan…putusin aja…dan seperti lagunya ST12…”cari pacar lagi….”:D

  2. wah..akhirnya NI yang jadi juaranya ya. semoga dia bekerja dgn amanah. dlu pengalaman ibu saya punya pembantu yg menjengkelkan…suka pke telpon di rumah diem2 sampe tagihan telepon kami melonjak drastis hadewwh.
    salam kenal…ditunggu lanjutannya😀

  3. Pingback: Drama ART part 2 | Chez Pipitta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s