Kecengan Abadi

Sarjana Jomblo

Entah karena selalu “teringat-ingat pesan mama…” lagunya Oppie Andaresta, dari mulai saya puber, hingga lulus sarjana, saya tidak pernah pacaran. Cinta monyet-monyetan atau cinta pertama apalah itu, saya tidak pernah mengalaminya.

Ibu selalu bilang bahwa semua anaknya, apalagi saya yang satu-satunya anak perempuan di rumah, tidak boleh pacaran sampai lulus sekolah. Ibu tidak pernah menyebutkan sekolahnya hingga tingkat apa, pokoknya harus beres dulu sekolah, baru boleh pacaran.

Mungkin karena terlalu patuh sama pesan ibu, hingga hampir selesai sarjana, saya belum terikat pada satu pun komitmen dengan lawan jenis. Selain itu dari sisi saya pribadi, saya ingat selama sekolah hingga menjelang lulus sarjana, selalu berdoa meminta jodoh setelah selesai kuliah (S1). Sepertinya doa saya dikabul, karena pada saat sidang sarjana, semua pertanyaan ujian sidang bisa saya jawab, kecuali pertanyaan dari seorang dosen penguji yang bertanya seperti ini, “ Tugas akhir kamu tidak ada masalah. Saya hanya punya 1 pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan TA-mu. Yang ingin saya tanyakan adalah, sekarang kamu sudah punya pacar belum?”, pertanyaan itu disambut tawa semua orang yang hadir di ruang sidang saat itu, 2 orang dosen pembimbing saya, dan 2 orang dosen penguji, yang salah satunya adalah yang memberikan pertanyaan tadi.

Saya tidak bisa menjawab, hanya senyum lebar, sambil geleng-geleng kepala, agak malu juga. Dosen penguji tadi, melanjutkan kata-katanya, “Belum punya pacar ya?Oke,gak apa-apa. Tapi pesan saya, setelah keluar dari ruang ini, segeralah kamu cari pacar, karena pengalaman saya, kalau sudah jadi sarjana, terlebih lagi perempuan, bakalan susah cari pacar! Ingat ya, cari pacar…hahaha…

 His Secret Admirer

 Meskipun saya tidak pernah berkomitmen, istilah lainnya tidak pernah pacaran selama sekolah, tapi sebagai perempuan normal, pastilah saya pernah menyukai lawan jenis yang ganteng sesuai kriteria saya. Jujur ya, dari awal saya puber, hingga sekarang, saya lebih tertarik sama laki-laki yang berkulit putih, tidak harus bule, minimal lebih terang kulitnya dari kulit saya. Tidak ada alasan apa-apa, itu hanya masalah selera. Haha.

Selama saya kuliah, ada seorang laki-laki yang dari pertama melihatnya, saya langsung tertarik untuk selalu memperhatikannya setiap bertemu atau melihat dia dari kejauhan. Tidak berharap lebih, hanya senang saja melihatnya. Ya kalau hal itu bisa dibilang ngeceng, berarti saat itu dialah kecengan saya. Saya tidak mengenalnya secara langsung, namanya pun saya tahu dari seorang teman baik, yang kebetulan satu jurusan dengan kecengan saya, jurusan Fisika.

Pertama melihatnya tahun 1997, hanya sebatas teman kampus, tapi  dalam hati sudah ditandai bahwa dia adalah salah satu kecengan saya, ya salah satu, karena di kampus laki-laki berkulit putih kan tidak hanya satu. Haha.

Tahun 1998, saya mendapatkan mata kuliah Fisika Dasar, sudah pasti asistennya anak jurusan Fisika, dan ternyata kecengan saya ini adalah Koordinator Asisten Fisika Dasar untuk jurusan saya. Wow…lumayan, meskipun tidak kenal, tapi frekuensi saya melihat dia makin sering dong…asiiik. Sayangnya, sang Kordas pujaan saya ini, pelit sekali nongkrong di depan kami, dia lebih betah berlama-lama duduk di ruangannya, sedangkan asistensi lebih banyak diserahkan kepada asisten-asisten lain. Ihiikss…sebel gak bisa sering lihat mas Kordas yang jaim banget .

Lulus mata kuliah Fisika Dasar, frekuensi melihat mas Kordas makin sedikit, karena kami beda jurusan, dia pun 2 tingkat di atas saya, jadi pasti banyak mata kuliah yang tidak bisa barengan. Tapi hal itu tidak mempengaruhi semangat belajar saya untuk mendapatkan nilai yang baik, dan bisa segera jadi sarjana, tentunya. Saya tetap semangat kuliah, meskipun jarang melihat kecengan saya lagi. Saat itu saya pun tidak berharap lebih, hanya suka sebatas bentuk mengagumi ciptaan Tuhan yang enak dilihat. Cieeee…

 Pedekate yang Aneh

Tahun 2000, saat itu saya sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir, sehingga saya lebih sering berlama-lama di lab jurusan. Sebetulnya tidak hanya mengerjakan TA sih, tapi mulai gaul juga lah…gaul online, tepatnya. Lewat jaringan kampus, saya mulai mengenal teman-teman dari jurusan lain, yang ternyata banyak sekali yang memanfaatkan internet kampus sebagai media untuk cari pacar, wkwkwkwk…

AOEAkhir tahun 2000, saat itu sedang nge-trend game online Age of Empire (AOE). Kami di lab jurusan sering melakukan pertempuran online dengan jurusan lain, saya termasuk salah satu yang sering ikut perang, sehingga kenal para villager (sebutan untuk orang-orang yang senang main AOE) dari jurusan lain, termasuk jurusan Fisika.

Setiap ada peperangan AOE, biasanya saya mengamati siapa saja yang sedang berperang, saya tidak tertarik nama-nama lain, kecuali 1 nama villager “kamikaze”, yang katanya hebat banget maennya, selalu memenangkan setiap peperangan. Dari teman-teman, saya tahu bahwa “kamikaze” itu nama perangnya si “banzai” (bukan nama sebenarnya).  Deghhh…ada yang terusik di hati saya, itu kan kecengan saya, sang mantan Kordas Fisika yang selalu saya kagumi. Uhukkk. Tapi teteup saat itu saya tidak berharap apa-apa, dia hanya teman sekampus yang saya keceng.

Desember 2000, sore yang romantis, saya masih betah di lab, ketika tiba-tiba chating box di komputer saya berkedip-kedip, pertanda ada message dari orang yang sedang sama-sama online di jaringan kampus. Penasaran saya buka, dan pengirim pesan itu adalaaaahh…BANZAIIIII…..!!! Serasa mau loncat dari kursi yang sedang saya duduki, kaget dan seneng bangeettt disapa kecengan dong. Setelah basa-basi perkenalan, dia tanya, apa saya sejurusan dengan Nika(bukan nama sebenarnya). Ya, saya jawab ya, karena memang Nika itu selain sejurusan, seangkatan juga dengan saya. Dia bilang bahwa temannya sedang pedekate dengan Nika, dia ingin bantu temannya untuk cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Nika. Memang akhirnya Nika dan temannya Banzai jadian, bahkan sekarang mereka sudah menikah dan punya 2 anak.

Saya tidak pernah menyangka bahwa obrolan kami sore itu, akan terus berlanjut. Dari mulai dia minta ditraktir karena saya kan baru ulang tahun bulan Desember itu, hingga akhirnya kami jadi sering miskol-miskolan untuk bangun tengah malam, tahajud sekalian mengerjakan TA. Meskipun beda 2 angkatan, tapi kami bisa mengerjakan TA sama-sama. Sayangnya wisudanya duluan saya. Ehem.

Periode Desember 2000 hingga Juni 2001, interaksi kami memang makin intens, tapi selama itu saya tidak pernah mendengar kata-kata gombal atau menyiratkan bahwa dia menyukai saya. Saya merasa dia menganggap saya teman biasa saja, karena yang saya tahu dia juga memiliki banyak teman perempuan, jadi saya tidak perlu ge-er lah. Anehnya, saya pun tetap tidak berharap lebih, meskipun dia tipe laki-laki yang saya suka. Selama itu, saya hanya merasa dia teman yang baik dan enak diajak ngobrol, dan setiap kami jalan berdua maupun bersama-sama teman villager, bawaannya pasti ketawa-ketiwi, sikapnya yang lucu dan ceplas-ceplos, jauh sekali dari yang saya bayangkan sebelumnya waktu dia masih  jadi Kordas di Lab Fisika Dasar. Ternyata mantan Kordas saya ini tidak jaim, tidak kaku, dan tidak galak. Benar-benar saya sudah tertipu oleh penampilannya dulu, haha.

 Pendamping Wisuda dari Langit

Awal Juli 2001, sms-smsnya yang kocak mulai ada perubahan, jadi lebih serius dan romantis. Lebih tepatnya romantis yang agamis.Halah. Saya hanya mengira, itu pengaruh situasi hatinya yang sedang patah hati. Mungkin ditolak lagi sama gadis pujaannya. Sebagai teman saya hanya berusaha menghibur, dengan sms-sms yang agamis juga, untuk menenangkan hatinya. Selama 6 bulan perkenalan, kami memang banyak berbagi cerita tentang pengalaman kami dengan lawan jenis. Dari cerita-ceritanya saya tahu bahwa dia menyenangi perempuan yang berkulit putih, mata sipit, dan berwajah oriental. Ngekk…gak gue banget dong. Jadi makin gak banyak berharap lah, lagian menjadi teman atau sahabatnya pun saya sudah bahagia, karena sikapnya yang senantiasa ceria itu, membuat saya selalu betah ngobrol berlama-lama.

5 Juli 2001, hari itu saya harus gladi resik acara wisuda. Saat miskol tahajud, mas ex-Kordas sms bahwa hatinya sedang gundah gulana, tapi setiap mengingat wajah seseorang dia selalu merasa hatinya menjadi sejuk. Halaaah…bisa juga dia ngegombal,haha. Saat itu dengan bercanda saya tanya, siapa sih penyejuk hatinya itu?Bukan larutan untuk obat sariawan kan?Haha. Dengan serius dia balas, bahwa dia akan memberitahukan penyejuk hatinya itu besok siangnya pada saat kami ketemuan, dan dia ngajak saya jalan-jalan ke BIP (Bandung Indah Plaza) kalau sudah selesai acara persiapan wisudanya.

Di depan SC (Student Center) Barat, kampus Gajah, (sayang sekali sekarang bangunannya sudah tidak ada), kami berjalan berdua menuju parkiran. Karena dia diam saja, dan cenderung kaku, saya coba mencairkan suasana dengan menanyakan “si penyejuk hati” yang dia janjikan itu. Bukannya menjawab pertanyaan saya, dia malah balik bertanya, “Bawa hape gak? Periksa deh hapenya, ada sms tuh!”. Saya ambil hape dari tas, dan memeriksa pesan yang masuk. Loh, kok pengirimnya orang yang sedang jalan bareng saya. Kaget sekaligus geli, sebelum buka pesannya, saya tanya dia sambil tertawa, “Loh, kok kirim sms sih?”, dia jawab,”Udah baca aja!”. Waktu saya buka, isi pesannya, “Mau tau gak siapa penyejuk hatiku saat ini?Orangnya sedang baca sms ini”. Gubraaaaakkk….:)) Sejenak saya berhenti melangkah sambil melihat wajahnya yang saat itu mendadak lebih putih dari biasanya…pucet bo’…keringetan juga…wkwkwkwk….tapi tetap ganteng…hahaha…sambil nyengir saya tanya, “Kok bisa????”, dia yang biasanya ceria mendadak kaku dan jawab “Gak tau…ya bisa aja kan…hehe…”. Keceriaan dan kegokilan yang biasanya menghiasi kebersamaan kami, saat itu berubah menjadi kaku dan malu-malu. Haduh, udah bukan teman biasa lagi ini mah, sikap saya yang biasanya lepas, sekarang jadi pake mikir, mulai jaim, takut tidak nampak cantik dan menarik di matanya.

Meskipun, di mulut terucap, “Ya, kita coba aja yaa…jalani dulu…”,ini sebenarnya kata lain untuk “Iya, gue terima!!!”, tapi dalam hati, saya yakin banget untuk menerimanya, gak perlu mikir-mikir lagi deh, ditembak kecengan gituh loh…mana 2 hari lagi wisuda belum punya PW, kenapa gak dari dulu coba?? Pasti diterima lah!! Hahahaha.

7 Juli 2001, akhirnya saya punya PW (Pendamping Wisudawati) yang sebenarnya baru dapat 2 hari sebelumnya. Dialah yang dikirim olehNya sebagai jawaban dari doa yang terpanjat ke langit di setiap sujud dan akhir sholat saya, atau mungkin di salah satu doa sholat malam saya. Wallohualam.

12thn_amia_02

Dan setelah melewati perjuangan bersama selama 5 tahun setelah sms penembakan itu, doa saya untuk mendapatkan jodoh setelah selesai sekolah pun dikabulkannNya…

 dialah sang imam dan pembimbing hidup saya,

teman dan sahabat terbaik dalam segala hal,

 teman berbagi tangis dan tawa,

orang yang pertama disusahkan pada saat saya sakit

 dialah yang namanya saya sematkan di akhir nama anak saya,

dan saya pun rela membawa namanya di belakang nama saya setelah embel-embel Nyonya.

Tahun ini, tahun ke-13 saya mengenalnya…

meskipun fisiknya sudah banyak berubah, tidak lagi se-sixpack dulu…

wajahnya tidak lagi se-imut dulu…

tapi saya selalu ingin menatap gambar dirinya pada saat kami berjauhan,

…dan tidak pernah bosan menikmati wajahnya saat menghabiskan waktu bersama…

karena dia kecengan saya…selamanya.

** Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat, yang dibuat oleh sang penulis buku, Leyla Hana.**

GA_PerjanjianYangKuat_LeylaHana

Sumber gambar:

Koleksi pribadi, dari sini, dan sini.

10 thoughts on “Kecengan Abadi

  1. Pingback: Give Away “8 tahun Tn&Ny. Aulia” | embiku miracle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s