Mbah Utung dan Tukang Pantik Korek Api

korekTahun 1985, keluarga kami pindah rumah dari Bandung ke Cimahi. Cimahi merupakan sebuah kota di utara Bandung, yang saat itu hawanya sangat sejuk, dan masih sangat dingin, karena masih banyak sekali pohon, dan perkebunan.
Sebelum bisa mendiami rumah sendiri yang belum selesai dibangun, kami numpang dulu di kediaman kakek yang terletak di sebidang tanah yang luas, di atasnya ada beberapa bangunan bekas pabrik cat yang sudah tidak beroperasi, dan tanah kebun di sekelilingnya.

Keluarga kami, dan beberapa keluarga saudara kandung bapak, menempati beberapa ruangan bekas pabrik tersebut, ada yang tinggal menetap di sana, karena harus mengolah tanah kebun, ada juga yang seperti bapak, hanya numpang beberapa waktu hingga bisa pindah ke rumah sendiri. Karena bekas ruangan pabrik yang luas, biasanya sebuah keluarga hanya membuat sekat dengan papan triplek saja untuk memisahkan ruangan antar kamar, dan penerangannya hanya sebuah lampu di tengah-tengah ruangan, begitu pun dengan kondisi kediaman kami saat itu.

Selama tinggal di bangunan pabrik ini, banyak cerita horor yang saya dengar dari sepupu dan keluarga kami yang lain, setiap berkumpul bersama di rumah kakek.

Dari cerita bersama keluarga itu, saya tahu ternyata setiap ruangan di bangunan yang ada di situ memiliki cerita yang berbeda, karena “penghuni lain”-nya juga berbeda. Saya tidak tahu pasti, apakah itu hanya cerita rekaan orang-orang dewasa saja, untuk menakuti saya dan sepupu yang saat itu masih anak-anak, atau memang mereka betul-betul mengalaminya sendiri.

Terlepas dari cerita mereka, saya sendiri pernah mengalami hal-hal yang sulit dicerna akal sehat.

Suatu malam, semua sudah pada masuk rumah masing-masing. Saya dan kedua kakak saya, saat itu tidur bersama di satu tempat tidur. Kedua orang tua saya sudah di tempat tidurnya, dan lampu di ruangan pun sudah dipadamkan.

Ketika kedua kakak saya sudah terlelap, saya masih sulit untuk tidur. Tiba-tiba saya mendengar suara seperti batang korek api yang berusaha dinyalakan, suaranya berasal dari tempat masak, “cekess…cekess….cekesss…”, lebih kurang begitulah suaranya. Saya bingung, kok suaranya gak hilang-hilang, apa koreknya basah? Terus siapa yang mau menyalakan korek malam-malam begitu, bapak saya bukan seorang perokok, ibu juga gak mungkin masak jam segitu. Terus kalau memang mau beraktivitas di tempat masak, kenapa lampu ruangan tidak dinyalakan? Aneh sekali. Karena penasaran, tapi ada rasa takut juga, akhirnya saya panggil bapak saya, “Paak…”, eh bapak saya menyahut dari tempat tidurnya, yang berada di sebelah tempat tidur kami, hanya terhalang papan triplek dan sebuah lemari. Tidak lama ibu saya juga menimpali, “Tidur aja,Nak…”. Ouw…berarti yang lagi maen korek api itu, pasti bukan kedua orang tua saya, sangat pasti juga bukan kedua kakak saya. Jadi siapa yang ada di ruangan bersama kami saat itu??? Wallohualam. Yang pasti bukan maling juga, karena kalau maling, kedua orang tua saya pasti akan bertindak, dan esok harinya mungkin ada barang yang hilang. Alhamdulillah, selama tinggal di sana kami tidak pernah kemalingan. Tapi aneh juga, semuanya seperti sudah tahu dengan kejadian itu, tetapi kami tidak perlu membahasnya.

Hingga suatu saat, setelah kami pindah dari sana, saya dan kedua kakak sedang berkumpul bersama ibu di rumah baru kami. Setelah cerita kemana-mana, saya tanya, ada gak diantara mereka yang pernah dengar suara orang menyalakan korek api waktu masih tinggal di pabrik cat itu? Kakak kedua saya langsung jawab, bahwa dia juga pernah dengar, bahkan gak Cuma sekali. Tapi dia pun seperti saya, setelah mendengar suara itu, besoknya tidak langsung cerita, kami seperti punya kesepakatan, bahwa selama masih tinggal di sana, jangan membahas apa yang terjadi di sana.

Akhirnya ibu saya menanggapi cerita kami, beliau bilang bahwa di ruangan pabrik cat yang pernah kami diami itu, ada “seorang kakek” dengan tubuh yang tidak memiliki kedua tangan dan kedua kaki alias buntung. Ibu saya menyebutnya “mbah Utung”. Kata ibu, mbah Utung tidak mengganggu, hanya tinggal di situ saja, si mbah ini menghampiri ibu dengan cara menggelinding, seperti bola, heuheu…#eh. Kok jadi gak horor yaa…hahaha. Untungnya selama di sana, saya tidak pernah didatangi si mbah Utung, gak di mimpi, tidak juga dalam kondisi sadar. Sedangkan si tukang pantik korek itu, kemungkinan makhluk gaib yang lain, kalau menurut ibu, mungkin semacam “jurig jarian”, karena kediaman kami dekat dengan semak belukar. (Jurig = hantu, jarian = semacam tempat untuk pembuangan sampah yang tidak terurus). Gak tau deh…:D

2 thoughts on “Mbah Utung dan Tukang Pantik Korek Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s