Pembantuku Sayang (Bagian.6 – eps.Tersengal-sengal)

Hai emak-emak “sayang” ART, apakabar semuanya?? Semoga dalam kondisi baik, tidak sedang mengatur nafas karena bengek musiman akibat mikirin kelakuan para ART-nya yaaa…terima kasih untuk yang sudah menanti kelanjutan sharing saya ini…mohon maaf kalo kelamaan nunggunya. *menyamar jadi penulis buku best seller :D*

Silakan…

Prolog

Tidak ada niat mempublikasikan kejelekan orang lain. Hanya ingin berbagi pengalaman, suka-duka hidup dengan ART. Saya hanya berharap ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari apa yang saya alami. Meskipun tidak sama persis, tapi mungkin ada pelajaran dan kiat-kiat yang bisa dilakukan untuk menghadapi ART yang sangat beragam sikap dan tingkah lakunya. Jika ART anda menyenangkan, maka bersyukurlah dan sayangi dia. Jika ART anda cukup ajaib, maka bersabarlah, dan yakin, bahwa bukan anda sendiri yang menderita, haha. Untuk yang tidak punya ART, semoga hari-hari anda selalu menyenangkan🙂

Semoga bermanfaat. Kalaupun tidak bermanfaat, harap dimanfaatkan saja😀


Pembantu Ketujuh – Mbak NL

Setelah proses rekrutmen selesai,maka saya menerima mbak NL untuk bekerja di rumah saya. Bismillah.

Jika mengacu kepada pandangan emak Junita Siregar bahwa mencari ART itu ibarat mencari belahan jiwa, jodoh-jodohan. Benar juga. Mungkin apa yang sedang saya alami sekarang dapat diibaratkan seperti masa pacaran dalam rangka mencari ART yang cocok dengan saya dan berjodoh langgeng…:-)

Minggu Pertama – Penjajakan

Mungkin karena NL ini belum pernah punya pengalaman menjadi ART, di hari pertama dia bekerja di rumah saya, pola kerjanya seperti orang baru belajar ngurus rumah, padahal dia tuh sudah punya 3 orang anak, anaknya sudah SMP, SD, dan yang bungsu seumuran Mika, sekitar 4 tahun.

Setiap selesai mengerjakan satu pekerjaan, biasanya dia datang ke saya, ngomong gini, “Sudah,bu…apalagi ya?”, sikapnya seperti kebingungan mencari apa yang harus dikerjakan. Saya sempat bengong, soalnya pas dia ngomong begitu, rumah masih berantakan, sampah belum dibuang, baju belum disetrika, kamarnya Mika belum dibereskan juga. Saya masih bersabar, karena ingat dia baru pertama kerja sebagai ART, masih perlu bimbingan dan pembinaan.

Akhirnya saya tunjukkan apa saja yang harus dikerjakan. Meskipun tidak semua yang saya tunjukkan dikerjakan oleh NL, saya tidak menegurnya, saya berusaha memaklumi bahwa dia masih belum menguasai medan tugasnya, atau mungkin masih “gagap” pekerjaan.

Hari pertama, hari kedua, hari ketiga, NL masih datang tepat waktu, jam 7 pagi sudah ketuk pintu, dan mengerjakan tugas-tugasnya, meskipun tetap tidak semua jobdesk dikerjakannya. Saya tidak mau banyak omong, karena lagi sibuk juga mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh. Tapi meskipun begitu saya tetap memantau hasil pekerjaannya, dengan menanyakan tugas-tugas utama yang harus dia kerjakan setiap hari, pada saat dia pamit mau pulang.

Hari keempat, ada sms dari NL, bahwa dia sakit dan tidak datang ke rumah untuk bekerja. Oalah…baru 3 hari kerja sudah kecapekan kah dia??? Gak apa-apa, mungkin badannya kaget dengan beban pekerjaan barunya.

Hari kelima, tidak ada kabar apa-apa dari NL, saya sms pun tidak dibalas. Mau telp??Belum isi pulsa😀 Eh ga usah lah…mungkin saja dia masih sakit.

Hari keenam, kebetulan hari sabtu, dan saya memberikan aturan bahwa sabtu dan minggu, NL libur. Tapi lihatlah, baru 2 hari saja baju yang harus dicuci dan disetrika sudah menumpuk di tempatnya. Bahkan Mika mulai pakai baju yang belum disetrika.
Sabtu juga adalah jadwal teman saya, si mbak penjual minuman sehat langganan datang ke rumah, dia itu yang “ngasi” NL ke saya, dan kebetulan juga tetangganya NL. Maka sambil iseng, saya tanya, NL sakit apa? Teman saya ini malah kaget, bingung, dan agak bagaimana gituh waktu saya cerita bahwa NL sudah 2 hari tidak masuk. Mungkin sebagai “mak comblang”, dia merasa oke/tidaknya kinerja NL adalah tanggung jawabnya. Teman saya ini sampai bilang, “Saya jadi gak enak sama mbak Mia…nanti saya mampir ke rumahnya deh…”. Waduh, padahal saya pribadi tidak berpikir begitu, bagi saya setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya sendiri, bukan tanggung jawab orang lain, kecuali anak yang masih belum baligh yaa…

Malamnya NL sms, katanya besok paginya mau ke rumah untuk kerja. Dilema…karena sabtu dan minggu adalah hari bebas untuk kami, tidur sampai siang atau pergi ke luar untuk jalan-jalan. Tapi karena pekerjaan domestik ini sudah menumpuk, saya persilakan NL untuk datang, dengan resiko kami keluar rumah menunggu dia selesai mengerjakan tugasnya.

Minggu Kedua – Menyesakkan

Di minggu ke-2 ini, NL bilang ke saya bahwa dia menerima pekerjaan lain, yaitu di rumah depan. Dia cerita jobdesk dan gaji di rumah tetangga kami itu, dia juga bilang bahwa di sana kerjanya setelah selesai dari rumah saya. Karena hal itu pemberitahuan untuk saya, maka saya gak bisa banyak komentar, cuma bilang “Oo…ya gak apa-apa, silakan saja.” Dalam hati saya langsung teringat pengalaman dengan ART yang dulu-dulu, kalau dia kerja di tempat lain alias multi-boss gituh, siap-siap saja si ART bakal kecapean, dan tugas-tugasnya di tempat kita pun akan “terganggu”.

Hari ke-2 di minggu ke-2 ini, NL mulai bekerja di rumah tetangga depan. Pagi, NL datang sekitar jam 7-an, lebih-lebih dikit sih, dan sekarang datangnya bersama anak bungsunya. Dari awal bekerja, begitu tahu dia punya anak kecil, saya langsung menanyakan perihal anaknya ini, dengan siapa di rumah pada saat NL bekerja. Minggu pertama NL bekerja, kebetulan masih libur anak sekolah, sehingga anaknya yang paling kecil ini masih bisa dijaga oleh kakak-kakaknya, tapi setelah libur sekolah berakhir, NL minta izin untuk membawa serta anaknya pada saat bekerja. Saya bilang, tidak apa-apa, suruh bermain aja, ada mainan Mika yang bisa dipinjamnya. Mungkin karena harus bekerja di rumah tetangga depan, NL mulai terlihat buru-buru menyelesaikan pekerjaan di rumah saya. Karena jumlah baju yang harus disetrika belum terlalu banyak, dia izin menyetrika baju hari besoknya. Saya pun mengizinkan, mau bagaimana lagi, daripada dia kecapean. Bahkan untuk mengantisipasi dia kecapean, saya pun mulai mengatur jumlah baju yang harus dicuci, karena kebiasaan saya sendiri, biasanya baju kotor dikelompokkan menjadi 3 kelompok dalam 3 keranjang yang berbeda, terdiri dari kelompok baju Mika, underwear, dan baju saya dan suami(non underwear). Baju-baju kotor ini ada jadwal cuci masing-masing, tidak selalu dicuci bersama-sama di hari yang sama.

Akhirnya setelah menyimpan baju-baju yang baru diangkat dari jemuran ke kamarnya Mika, NL segera pamitan dan pergi.

Saya yang lagi sibuk dengan pekerjaan, mengiyakan saja sambil bilang terima kasih.

Ketidakberesan mulai diketahui pada saat saya mengecek tugas-tugasnya dia, sampah yang ada di dapur masih ada di keranjangnya, begitupun yang ada di ruang tengah, kamar mandi, dan kamar tidur, semua masih tersimpan manis di tempatnya. Hiks…saya mulai tarik nafas panjang. Tidak apa-apa, mungkin dia buru-buru. Besok saya harus mengingatkan NL, supaya jangan lupa membuang sampah.

Selesai mandi, begitu akan menyimpan baju kotor ke keranjangnya, saya kebingungan nyari keranjang baju kotor, karena saya hanya melihat keranjang dengan baju kusut yang belum disetrika dan keranjang baju-baju bersih yang belum dimasukkan ke lemari…bolak-balik saya cari keranjang baju kotor, tidak ketemu juga…akhirnya saya curiga keranjang baju kotor sudah diambil alih oleh baju-baju bersih yang belum disetrika…seperti orang bodoh, saya ciumin baju itu satu-satu…baju yang ada di bagian atas dan yang di bagian bawah keranjang….dan arrrrrgggghhh…..NL mencampurkan baju bersih dengan baju kotor….:((( Sekali lagi saya menarik nafas dalam…eh bukan 1 kali malah…tapi berkali-kali….sampai saya bisa bernafas normal lagi.

Sambil memisahkan baju-baju bersih, saya berpikir, apakah saya lupa untuk memberitahukan NL mana keranjang untuk baju bersih, mana yang untuk baju kotor. Rasanya tidak mungkin saya lupa, karena sudah jadi SOP(Standard Operating Procedure) setiap ada ART baru, saya akan menunjukkan apa-apa yang harus diketahui oleh ART yang berkaitan dengan jobdesk-nya dia. Dan setelah keenam ART saya, sepertinya baru sekarang saya menemukan hal seperti ini. Pengalaman baru!

Saya yakin bahwa saya tidak lupa memberitahu NL.Hhhhhh…sudahlah…mungkin pada saat saya menunjukkan keranjang-keranjang itu, NL sedang memikirkan hal lain, sehingga tidak fokus dengan apa yang saya sampaikan, atau mungkin dia lupa.

Besoknya, karena hujan dari subuh, dia datang lebih siang dari biasanya, jam 8 baru ketuk pintu. Begitu masuk, dengan tenang saya bilang, “Mbak…nanti lagi baju yang dari jemuran disimpan dulu di plastik hitam yang ada di kotak tempat setrika yaa…jangan disimpan di keranjang baju kotor lagi.”, NL kaget, “Keranjang baju kotor,bu?”, saya ajak dia ke kamar tempat baju kotor, dengan sabar saya lakukan SOP seperti di hari pertama dia mulai kerja, menunjukkan keranjang-keranjang baju, dan kotak tempat peralatan untuk menyetrika. Dia ngangguk-ngangguk sambil salah tingkah, “Oya, maaf,bu…”, katanya.

Saya tenang dan berharap semoga NL tidak melakukan hal konyol lagi. Dan hari itu, saya ‘merayakan’ ketenangan saya dengan jalan-jalan bersama para mahmud (mamah muda) teman sekolahnya Mika. Pulang jalan-jalan hati masih senang dan riang gembira.

Malamnya seperti biasa, saya membereskan baju-baju yang sudah disetrika ke lemari, dan mengambil cucian kotor untuk direndam semalaman. Hal ini saya lakukan sendiri, karena setelah mengamati cara kerjanya NL, dia boros sekali deterjen dan sabun colek. Dibandingkan ART yang dulu-dulu, NL ini punya kebiasaan mencuci baju lama sekali, 1 ember saja bisa 1 jam, disikat bolak-balik dan meskipun sudah merendam dengan deterjen yang banyak, dia masih juga menambahkan sabun colek selama menggosok baju yang dicucinya, jika sabun colek habis, dia akan izin untuk memakai deterjen bubuk selama prosesi pencucian bajunya. Menyetrika baju pun begitu….lambreta alabama…1 keranjang bisa 1 jam, padahal ART saya sebelumnya 1 jam setengah, kadang kurang, pekerjaan sudah beres semua. Tapi saya akui, hasil kerjanya bagus sih…hasil cucinya bersih, setrikanya pun rapi. Jadi, saya anggap ini bukan masalah besar. Dan yang jadi masalah adalah…jreng jreng…malam itu saya kebingungan mencari underwear kotor yang akan dicuci…bolak-balik saya ke kamar mandi dan tempat keranjang cucian kotor…jangan-jangan ada yang sudah lebih dulu merendam baju-baju kotor itu. Tapi ember-ember masih kosong, begitupun keranjang tempat underwear kotor, kosong semuanya. Saya bingung, kemana perginya para underwear kotor itu???

Tidak lama saya sadar…bahwa underwear yang seharusnya direndam malam itu, semuanya sudah berpindah ke dalam lemari dan bercampur dengan underwear yang bersih. Rasanya kepala ingin meledak, jengkel, marah, sekaligus geli…ingin ketawa dan menangis dalam saat yang sama….aarrrrrgggghhhhh…..mamiiiiiihh…emaaaakk….ibuuuu….dosa apa aku ini, hingga pembokat menyetrika baju kotor sekeranjang penuh banyaknya…listrik dan pewangi, juga tenaga terbuang percuma….hiks…hiks..hiks…ha…ha…ha…hiks…hiks….ha…ha…hiks…

Dengan histeris keluarlah omelan-omelan dari mulut saya, Mika dan Papanya yang lagi asyik main, kaget dan bingung ada apa gerangan…Mika malah ikut heboh…dan bikin saya makin jengkel, tapi untung Papanya segera menenangkan Mika, sehingga hanya saya yang masih ngomel-ngomel. “Papa….tau ngga, si NL nyetrika apa tadi siang?”, suami saya sambil bengong jawab,“Ngga…”, “Cucian kotor tauuuukk….dan aku udah simpan semua hasil setrikaannya ke lemari…”, itu saya ngomong setengah menjerit, jengkel, sambil mengeluarkan semua underwear dari lemari, dibawa ke kamar mandi untuk direndam. Saya ambil semua, karena sudah sulit membedakan mana yang bersih dan kotor. Dibau-in pun percuma, semua sudah samar oleh bau pewangi setrika. Dari penampakan pun sulit juga, karena penyebab kotornya paling cuma keringat.

Suami saya pun meledak juga ketawanya, tapi cuma sebentar, selanjutnya dia berusaha diam dan menyembunyikan ketawanya. Dia pasti berempati dengan penderitaan yang sedang saya alami.

Di kamar mandi, saya masih ngomel-ngomel juga…“Seumur-umur punya pembantu, baru sekarang ada yang bolotnya seperti ini…sabar-sabar…”. Begitulah kira-kira omelannya, heuheu…

 

Epilog

Setelah Mika tidur, saya dan suami pun membahas kejadian tragis hari itu. Suami tahu saya masih jengkel, dan dia membiarkan saya mengeluarkan unek-unek saya sampai habis. Setelah melihat saya lebih tenang, suami menyarankan untuk “mengamankan” keranjang cucian, sehingga NL tidak boleh menyentuh keranjang itu lagi. Selama diskusi saya lihat dia tidak bisa menyembunyikan rasa geli ingin tertawa ngakak, tapi mungkin gak tega juga lihat saya, akhirnya cuma senyum-senyum aja, dan penutupnya adalah mengecup kepala saya sambil bilang, “Sabar ya,Hun…”, dan kemudian tertawa lepas….”Hahahahahhaha….”, eh saya ikut ngakak juga akhirnya…sudahlah…life is beautiful…kita bisa bahagia dari setiap kejadian, meskipun pada awalnya hal itu adalah penderitaan🙂

Sekian dulu episode kali ini, karena sudah cukup panjang, supaya tidak capek juga bacanya. Silakan ditunggu, ada kejadian apalagi setelah keranjang cucian diamankan???

BERSAMBUNG.

Sumber gambar:

Dari sini dan sini.

6 thoughts on “Pembantuku Sayang (Bagian.6 – eps.Tersengal-sengal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s