Rumah Cileuweung

Pada saat keluarga saya tinggal di Cimahi, ada beberapa rumah yang pernah kami diami. Salah satu rumah yang menyisakan banyak cerita aneh adalah sebuah rumah besar di Kampung Cileuweung. Leuweung dalam bahasa Sunda, berarti hutan. Dan seperti namanya, kampung ini terletak agak jauh dari pusat kota Cimahi, akses untuk sampai ke Cileuweung ini harus melalui perkebunan sayur yang luas, atau lewat perkebunan bambu yang jalannya sepi berkelok dan jauh dari pemukiman. Sebenarnya kalau kita ke sana pada siang hari sih, pemandangannya indah sekali, dan hawanya sejuk, karena berada di kaki gunung Burangrang, salah satu gunung tidak aktif yang bersebelahan dengan gunung Tangkuban Perahu yang melegenda itu.

Orang tua saya membeli rumah Cileuweung ini sekitar tahun 2002, ketika saya sudah jarang pulang ke rumah, karena kost di dekat kantor di kota Bandung. Kakak sulung saya pun saat itu sudah menikah, dan tinggal di rumahnya sendiri. Sehingga tinggal kakak kedua saya yang masih pulang setiap hari dan tinggal bertiga dengan orang tua kami.

Kakak kedua saya ini, meskipun laki-laki tapi lumayan penakut jika dibandingkan dengan kakak sulung. Jadi setiap kedua orang tua saya pergi ke pasar dini hari, biasanya sekitar jam 2 atau 3 pagi, kakak selalu mengajak anjing penjaga rumah kami, untuk dibawa masuk ke kamarnya, menemani dia sampai kedua orang tua kami pulang dari pasar.

Suatu pagi, ketika orang tua saya pamit ke pasar, kakak pun langsung ngajak masuk anjingnya ke kamar, kemudian mengunci kamarnya. Beberapa menit setelah orang tua saya berangkat, suara kendaraannya pun sudah tidak terdengar, kakak berusaha untuk tidur, ketika tiba-tiba terdengar suara sendal bakiak berjalan dari arah ruang tamu menuju dapur. Kakak melihat anjingnya bangun, dengan kedua telinganya berdiri, tapi dia tidak menggonggong, hanya mendengarkan suara sendal tersebut, dan kepalanya melihat ke arah pintu.

Kakak saya yakin, itu bukan suara orang, karena di rumah juga tidak ada yang punya bakiak, dan tidak ada orang lain lagi selain dia. Meskipun yakin itu bukan manusia, tapi kakak tetap berjaga-jaga, karena takut ada maling yang masuk rumah. Ketika adzan subuh berkumandang, barulah dia tenang. Meskipun belum berani keluar kamar, hingga kedua orang tua kami kembali dari pasar.

Itu pengalaman kakak saya. Sedangkan saya sendiri, karena jarang pulang, terlebih setelah pindah ke Jakarta, paling sering seminggu sekali pulang ke rumah. Suatu saat, karena pulang kemalaman dan kehujanan pula, setelah berganti pakaian saya langsung selimutan di kamar, dan ketiduran. Pada saat terbangun hari sudah tengah malam,  saat itu sedang hujan deras juga. Selain suara hujan, saya mendengar ada suara perempuan menangis di teras rumah kami. Sempat berpikir, mungkin ada orang gila yang ikut berteduh di teras rumah kami. Karena capek, saya berusaha tidur lagi, sebelumnya membaca Ayat Qursi dulu. Kalaupun bukan manusia, saya minta perlindunganNya saja, karena saya pun gak ganggu makhluk itu, begitu pikiran saya saat itu.

Siangnya, saya ceritakan ke kakak bahwa semalam ada yang nangis di depan rumah depan kamar yang saya tiduri. Dia tertawa, sambil bilang, ”Biasalah…banyak di sini mah…”. Saya tanya, apa di kampung ini ada orang gila yang suka kelayapan malam. Kakak saya bilang gak ada, kalaupun ada, bagaimana caranya bisa masuk ke halaman rumah kami yang dipagar tembok dengan pintu gerbang yang digembok. Hmmm…iya juga sih…:D

2 thoughts on “Rumah Cileuweung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s