[Fiksi] My Colibri (1)

blue_colibri

Prolog

Seperti halnya kolibri, burung kecil berbulu indah, meskipun ukuran tubuhnya tidak sampai 10 cm saja, tapi gerakannya lincah dan berenergi, meskipun kicauannya indah, tapi dia jarang bersuara, dan diapun hanya memakan sesuatu yang baik seperti nektar dan madu dari kuntum-kuntum bunga. Begitupun dirimu, makhluk indah yang tidak betah berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang berguna untukmu dan lingkunganmu, kehadiranmu menghadirkan energi untuk siapapun yang berada di dekatmu, kamu pun tidak mau mengambil apapun yang menurutmu tidak baik. Begitulah kamu…selalu menjadi kolibri yang mempesona di dalam hatiku.

Pesawat mendarat mulus di landasan bandar udara kota kelahiranku, kota yang dulu sejuk, sekarang tidak lagi karena sudah banyak mall berdiri dimana-mana, udaranya semakin panas dan berdebu. Kota yang terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik, dan mendapat sebutan kota kembang, mungkin yang dimaksud tidak cuma kembang yang berdaun, tapi juga kembang desa/kota yang anggun dan menarik hati.

Bertahun-tahun aku meninggalkan negeri ini, hijrah ke negeri tetangga untuk mengelola perusahaan yang aku bangun bersama sahabat-sahabat terbaik, semenjak kuliah di kampus dimana aku pernah bertemu dengan seorang perempuan yang selalu membuatku ingin melindunginya dari apapun yang akan membuatnya susah dan sedih. Dialah perempuan kedua, setelah ibuku, yang membuatku sanggup untuk melakukan apapun, menyerahkan seluruh yang aku punya, waktu, tenaga, pikiran, harta menjadi tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan waktu untuk selalu berada di dekatnya, bahkan nyawa sekalipun, kalau memang dia menuntutnya juga.

10 tahun lalu, aku menyetujui kesepakatan dengan investor kami untuk memindahkan seluruh infrastruktur dan kegiatan operasional perusahaan ke Putrajaya. Perusahaan yang aku rintis bersama 3 sahabat terbaik semenjak masih kuliah, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan sayap lebih luas lagi, tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga ke hampir seluruh negara di Asia Tenggara. Ketiga temanku yang saat ini sama-sama sebagai founder fee sekaligus owner sebagian besar saham perusahaan, sempat mempertanyakan keputusanku yang ngotot untuk memindahkan seluruh kegiatan perusahaan ke luar Indonesia, tetapi pada akhirnya mereka setuju, dan kemungkinan besar mereka cukup berempati kepadaku, sehingga mau tidak mau, mereka pun turut hijrah, memboyong keluarganya untuk menetap di negeri importir TKI ini.

Kepulanganku kali ini atas permintaan seorang dosen di kampusku, yang mengundang untuk memberikan kuliah umum tentang Microcontroller. Topik Tugas Akhir-ku dulu, dan sekarang sudah menjadi business core perusahaanku. Kembali ke kota ini, seakan membuka lagi lembar demi lembar kisah hidupku bersamanya, seseorang yang sangat aku cintai. Hampir setiap sudut kota ini mengingatkanku pada semua kejadian yang pernah kami alami bersama, seperti slideshow yang bertebaran di depan mataku.

Kolibri-ku…temani aku terbang melintasi waktu, kembali menikmati kota ini bersamamu…

@)– @)– @)–

Di suatu waktu, akhirnya aku diterima di perguruan tinggi terbaik seperti yang diharapkan orang tua dan seluruh keluargaku, supaya aku bisa mengikuti jejak kedua kakakku yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di kampus ini, di jurusan yang menjadi favorit setiap anak yang mau lulus SMU. Meskipun aku lolos setelah mencoba kesempatan kedua, tapi cukuplah membuat keluargaku merasa lega, bahwa si bontot yang bengal ini akhirnya bisa juga diterima perguruan tinggi  yang katanya mahasiswanya adalah para lulusan terbaik dari SMU di seluruh Indonesia.

 Di kampus inilah, aku mengenal seseorang yang mampu mengubah hidupku yang tidak karuan menjadi lebih teratur, dan kalau mengambil istilahnya dia, aku jadi “lebih tahu aturan”. Aku memanggilnya “Adek”. Nanti aku ceritakan, bagaimana asal mula aku memanggilnya begitu.

  Seluruh keluargaku, terutama Mama, melihat perubahan drastis sikapku. Mereka bilang, semenjak kenal si Adek, aku jadi selalu pulang ke rumah, tidak kelayapan kemana-mana, tidak kebut-kebutan lagi kalau pakai motor. Bahkan Ayah, saat itu sudah mengizinkanku untuk bawa mobilnya lagi. Kakakku pada ngeledek bahwa sekarang aku sudah jinak, dikasih mobil pun tidak akan ditabrak-tabrakan lagi, aman asalkan ada si Adek.

 Aku mengenal Adek pada saat Penataran P4 mahasiswa baru. Love in the first sight! Sepertinya itulah yang aku rasakan. Tapi bukan karena wajahnya yang mirip mantanku yang kedua. Entah apa,aku hanya melihat dia lain daripada yang lain, dibandingkan dengan teman-teman perempuan sejurusannya yang tidak terlalu banyak, sehingga aku tidak sulit melihat dia sebagai satu orang yang berbeda di tengah-tengah kelompoknya.  Adek, bisa dibilang anak kampung yang mengadu nasib di kota. Dia lulusan terbaik, dari SMU daerah asalnya di luar kota Bandung. Pakaiannya yang sangat-sangat sederhana jauh dari kesan modis, dia ke kampus dengan celana jeans dan kemeja laki-laki, yang belakangan aku tahu bahwa itu kemeja kakaknya. Tapi penampilannya inipun yang membuat aku tertarik, karena dia bukan gadis biasa, yang terbawa arus mode yang sedang ngetrend, meskipun harus pakai baju yang ngepas dan cenderung kesempitan, kurang bahan, entah apa enaknya pakai baju yang sempit di seluruh bagian badan, tersingkap sewaktu-waktu jika badan bergerak terlalu cepat.  Aku lebih suka dia, yang dengan pakaian kedodoran menyembunyikan hampir semua bentuk tubuhnya, tapi bisa membuat darahku berdesir membayangkan bagaimana bentuk asli tubuh di balik baju yang modelnya sama dengan yang aku pakai. Meskipun aku menyayangkan, kenapa dia berpenampilan mirip laki-laki, padahal aku yakin dia lebih menarik jika berpakaian perempuan. Tapi saat itu aku berpikir, dia berpakaian seperti itu karena sifat malunya yang besar, atau memang dia gak punya baju lagi?? Sepertinya dia lebih memilih baju seperti itu, asalkan tidak banyak bagian tubuhnya yang terbuka dan terbentuk. Tidak hanya berpakaian, rambutnya yang selalu digerai menutup tengkuk, caranya bicara dengan lawan jenis, sedikit, dan tidak banyak melihat mata atau wajah lawan bicaranya. Dia tipe gadis yang tertutup,jadi jika ada orang yang dia curhati, pastilah orang itu sangat dipercayainya.

Mungkin karena aku sudah sering mendapatkan materi penataran P4, atau memang topiknya yang sudah aku kuasai, bahkan sangat biasa, jauh lebih sedikit dari informasi yang sudah aku tahu, lewat televisi, koran, internet, dan perbincangan  umum. Materi P4 begitu ceteknya untukku, dengan malas-malasan pun, aku tetap bisa mengikuti apa yang sedang dibahas. Sebenarnya, setiap di ruang penataran itu, aku ingin tidur, bosan sekali dengan materinya, untung ada sesosok makhluk yang membuatku bisa tetap mau datang  ke kampus dan masuk ke ruangan, ikut nimbrung dalam diskusi yang membosankan, memberi tanggapan-tanggapan yang out of the box dari pemikiran para mahasiswa baru yang masih culun-culun itu, dan sering ternganga serta ruangan menjadi  lebih sepi setiap aku bicara. Aneh, padahal menurutku aku bicara hal-hal yang biasa saja. Tapi lumayan lah, meskipun wajahku tidak cukup ganteng untuk menarik perhatian si Adek, minimal aku bisa membuat matanya fokus kepadaku setiap aku bicara di tengah-tengah diskusi. Salah satu tujuanku memang itu. Aku ingin membuat perempuan itu terpikat padaku. Apakah usahaku berhasil? Entahlah, tapi waktu aku menjadi juara ke-3 peserta terbaik penataran, sepertinya aku menjadi salah satu orang penting yang harus dikenal Adek. Aku tahu hal ini, sewaktu dia bilang bahwa aku mahasiswa yang hebat, aku bisa melihat kejujuran dan kekagumannya padaku dari balik matanya yang tidak bisa berbohong. Dan hal ini juga yang menambah terus poin-poin sukaku padanya. Dari sekian perempuan yang aku kenal, jarang sekali yang tertarik kepadaku karena hal-hal selain materi.

 

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s