Image
0

[Fiksi] My Colibri (2)

blue_colibri

Setelah kegiatan penataran selesai, sempat aku takut kehilangan dia, tapi aku tidak mau menyerah, dan terus mencari jalan untuk terus bisa mendekatinya. Sebagai temannya dulu, tidak apa-apalah, yang penting bisa tetap ada interaksi.

Begitu masa perkuliahan dimulai, alangkah bahagianya aku, melihat jadwal mata kuliah banyak yang sama dan digabung dengan jurusannya. Kesempatan besar, 2 semester selama tahap persiapan bersama(TPB) lumayan lah, dan  ini harus aku manfaatkan sebaik-baiknya.

Hari itu sabtu sore, mata kuliah olahraga, salah satu mata kuliah dimana jurusanku digabung dengan jurusannya. Kesempatanlah untukku bisa mendekatinya.

Dia sedang istirahat, setelah menyelesaikan tugasnya lari 8 keliling lapangan sebagai test awal fisik mata kuliah tersebut. Aku lihat teman-temannya yang lain masih berusaha menyelesaikan tugasnya. Aku hampiri dia yang sedang duduk berselonjor di koridor gelanggang olahraga, yang katanya termegah di Asia Tenggara, ya minimal se-Bandung lah.  Wajahnya masih kemerahan, dan tangannya memegang botol air mineral.

Hai,Mel…” itu aku menyapanya. Namanya Amelia, dan memang saat itu belum ada panggilan “Adek”, jadi aku memanggilnya seperti orang lain memanggilnya juga. Dia kaget, tapi nampaknya senang juga aku datangi. Sambil membalas sapaanku dengan ramah, dia ingin aku mendekat dan ngobrol dengannya lebih lama, dan kelihatannya dia sedang kebingungan.

Basa-basi aku bilang, “Hebat ya kamu udah selesai, itu teman-temanmu masih pada lari…”. Aku lihat dia sedikit tersipu, “Hehe…gak lah…biasa aja…aku cuma ketiga…eh, Kuh…punya buku Kalkulus gak?”, dia bilang begitu dengan ekspresi yang sangat berharap. Hmm…kesempatan nih, begitu kata hatiku.

Kalkulus yang jilidnya putih ya?”, sambil bilang begitu, aku berpikir kira-kira buku apalagi yang dibutuhkannya, dan aku pasti dengan senang hati akan berusaha mencarikannya.

Iya…Kalkulus-Purcell, ada tugas nih, tapi belum punya bukunya…”, itu dia bilang dengan suara penuh kebingungan.

Aku ada 2 kok, ambil aja 1, buat kamu…”, ini aku gak bohong, memang bukunya ada 2, bekas kakak-kakakku.

Eh serius, gak dipake?Kapan bisa aku ambil?”, dia bilang begitu dengan ekspresi seperti anak kecil yang mau dibelikan mainan yang sangat diinginkannya.

Kapan ya?Bukunya ada di rumah, mau diambil sekarang juga boleh…”, yess!!

Hmmm…ke rumahmu ya…?Gimana kalau aku tunggu di suatu tempat aja, deket rumahmu, kamu ambil bukunya ke rumah?”, dia coba memberi penawaran.

Sepertinya dia tipe gadis yang sangat pemalu, atau mungkin dia menjaga sikap, takut ada yang melihatnya jalan denganku. Pacarnya, mungkin? Tapi kelihatannya dia belum punya pacar. Ah kita lihat aja nanti, apakah dia sudah punya pacar atau belum. Feeling-ku sih belum, positive thinking aja ah…

Gapapa kalau mau begitu…nanti pulangnya bareng yaa…”, aku bilang begitu sambil seraya meninggalkannya karena harus bertemu teman-teman sejurusanku, sebagai ketua angkatan aku harus mengkoordinasikan tugas angkatan kepada mereka, maklumlah mahasiswa baru, tidak hanya tugas kuliah, tapi ada non kuliah yang diberikan oleh para senior di himpunan.

Hari itu menjadi hari pertama, aku jalan berdua Amelia, dan pertama kalinya juga aku bisa mengantarnya pulang, dan sudah pasti tidak atau belum bisa masuk ke rumahnya. Kamu pasti tahu kenapa, ya…karena Amelia yang pemalu, belum pernah ada teman laki-laki yang mengantarnya pulang, dan sangat takut ibunya karena katanya dilarang pacaran kalau belum lulus sekolah. Aturan yang aneh…hihihi…padahal berteman kan belum tentu pacaran.

Setelah beberapa kali mengantarnya pulang, akhirnya aku bilang bahwa di keluargaku ada aturan keluarga harus tahu dengan siapa kita jalan, karena jika terjadi apa-apa, akan mudah mencarinya. Intinya aku ingin mengenalkan dia ke keluargaku, pun aku juga mau berkenalan dengan keluarganya. Aku bukan tipe laki-laki yang tidak bertanggung jawab, atau takut menunjukkan siapa aku sebenarnya kepada orang lain, kepada orang-orang yang berkaitan dengan tanggung jawabku. Aku tahu sedang berhadapan dengan siapa, dia perempuan yang rasional, sehingga aku harus selalu mencari kata-kata yang tepat, yang bisa diterima rasionya, dan sebisa mungkin jangan sampai dia bisa membantah kelogisan argumen-argumenku. Dan akhirnya ada saat dimana dia mau diajak ke rumahku, tapi dengan syarat dia harus dikenalkan sebagai teman sekaligus adik angkat, bukan sebagai pacar.

Kesepakatan (meskipun sepihak, karena sampai kapanpun aku tidak pernah bisa menerimanya) “adik-kakak” ini terjadi di sebuah toko buku, saat itu aku ingin membelikannya sebuah binder. Aku gak tahan banget lihat binder yang biasa dia pakai untuk kuliah, sudah rusak di sana-sini. Akhirnya dengan sedikit membujuk-bujuk, aku ajak dia ke toko buku, menyuruhnya memilih binder yang dia suka. Aku lihat dia sangat kebingungan, antara butuh tapi tidak mau aku yang membelikan, aku lihat kebingungannya dengan bolak-balik dari satu pojok ATK ke pojok lainnya, bahkan sempat pindah ke pojok non ATK. Sepertinya dia ingin menolak tawaranku, tapi keinginan untuk punya binder baru lebih besar, karena aku yakin dia juga ingin seperti teman-temannya yang punya barang bagus dan lucu (istilah anak sekarang mah “unyu”). Aku beberapa kali ikut memilihkan binder yang dia suka, cari yang paling sederhana, aku bilang “Ini aja nih simpel, cocok sama kamu…:-)”, dia melihat sekilas barang yang aku tunjukkan, kemudian sibuk lagi melihat-lihat barang yang lain, dilihat dan dikembalikan lagi ke tempatnya. Aku tahu dia ingin yang itu, tapi dikembalikan karena melihat harganya yang lumayan mahal. Mungkin karena gak enak lama-lama di sana, dan hari juga sudah semakin malam, akhirnya dia bilang ini, “Kalau aku pinjam gimana?Jadi sekarang kamu bayarin dulu, nanti aku kembalikan uangnya seharga binder ini…”. Dia mengajukan tawaran yang buatku sangat absurd, baru kali ini aku bertemu orang yang tidak mau ditraktir. Padahal sudah jelas-jelas aku ingin memberinya, sebagai hadiah, apapun itu momennya, yang pasti hadiah karena dia sudah membuat hari-hariku menjadi lebih indah dari sebelumnya.

Meskipun sedikit kaget, tapi aku tetap tenang menanggapinya. “Ya kalau mau kamu begitu, gak apa-apa…pilih aja, nanti aku yang bayarin…”. Dia memilih binder yang tadi aku pilihkan, aku tahu sebenarnya dia gak mau yang itu, tapi mungkin demi menghargaiku, dan harganya juga cukup, bukan yang paling mahal, bukan juga yang paling murah. Modelnya simpel…simpel banget…binder berwarna abu-abu polos dan transparan.

Setelah bayar, kami pulang, dari mulai keluar toko, hingga kami menunggu angkot yang menuju rumahnya, dia jadi banyak diam, sikapnya seperti orang yang punya salah karena sudah menerima kebaikanku. Aku tanya kenapa dia gak mau diberi, dan jawabannya karena dia tidak biasa diberi orang lain begitu saja, harus jelas alasannya apa. Hmm, sepertinya dia mulai menyadari bahwa ada sesuatu di balik kebaikan yang aku lakukan padanya. Kalau dia tahu aku ini bukan orang yang benar-benar baik, kenapa dia masih mau jalan denganku, tidak membuat jarak, atau menjauh pada saat aku berusaha mendekatinya. Tapi kenapa dia tidak menjauh? Menurutku, dia hanya merasa nyaman setiap bersamaku, melihat karakternya yang tidak seperti perempuan umumnya, memang tidak mudah mendapatkan teman yang cocok yang bisa sepemikiran, nyambung, dan klop dengannya. Ge-ernya aku, dia mendapatkan semua yang dibutuhkannya dariku, semua kebutuhan dari seorang teman dan sahabat yang tidak pernah dia dapatkan dari yang lain, bahkan dari keluarganya sekalipun. Akulah orang yang bisa mengimbangi pola pikirnya yang selalu kejauhan, kompleks, rumit, keras kepala, dan teguh pendiriannya yang menyebabkan dia begitu mandiri, seolah-olah tidak membutuhkan orang lain lagi dalam hidupnya. Cukup dalam aku berpikir bagaimana mencari akal supaya aku bisa selalu bersama dia, perasaan sayangku yang semakin bertumbuh dari hari ke hari, membuatku semakin ingin melindunginya, dan tidak rela membiarkan dia dalam kesulitan seorang diri.  Entah datangnya darimana, tiba-tiba aku bilang begini, “Kamu tuh seperti adikku, Galuh…”, agak kaget dia tanya, “Emang kamu punya adik?Katanya anak bungsu?”, ternyata aku berhadapan dengan orang yang perhatiannya detil. Belum lama kami kenal, tapi dia cukup teliti dan ingat segala informasi yang pernah aku sampaikan padanya. Tapi aku tidak boleh kehilangan akal.

“Galuh itu adik angkatku, anak saudara…karena orang tuaku tidak punya anak perempuan, dan kebetulan ada saudara yang secara ekonomi lebih lemah dari keluargaku…jadilah kami menganggap Galuh sebagai anggota keluarga, membiayai segala kebutuhan hidup dan sekolahnya, tapi dia tetap tinggal sama orangtuanya, di Cicaheum, hanya sesekali saja datang ke rumah”. Sepertinya dia percaya dengan penjelasanku, dan dia tidak memberikan sanggahan, maka aku lanjutkan kata-kataku. “Galuh tidak pernah menolak kalau aku belikan sesuatu, malah kadang dia yang minta…mustinya kamu seperti dia juga…”, dan kamu sebaiknya meminta lebih banyak apa saja yang bikin kamu senang, karena aku dengan senang hati akan memberikannya. Aku lihat dia berusaha mencerna kata-kataku, lalu dia bilang, “Kalau gituh, aku jadi adikmu juga lah…kamu jadi kakak aku…”. Ya Rabb-ku…izinkan aku berbohong, demi aku bisa selalu dekat dengannya. Dengan berat hati, aku bilang…”Iya, boleh…mulai sekarang aku panggil kamu adek yaa…kamu panggil aku mas yaa…”, eh dia langsung balas, “Ogah ah…aku tetap manggil nama aja…kan kita seumur, lagian aku juga manggil kakakku dengan sebutan nama…tapi kamu musti manggil aku adek, ok?”, meskipun hatiku menolak mentah-mentah kesepakatan ini, tapi aku harus tetap bersabar menghadapi sikapnya, yang penting dia tidak menjauhiku, dan aku sekarang punya legalitas untuk memberi apapun yang dibutuhkannya. Di luar dugaan, ternyata sikap keras kepala dan kemandiriannya tetap tidak berubah. Setelah diam agak lama, dia bilang gini, “Tapi aku tetap gak mau kamu kasih begitu saja, semua yang kamu kasih akan aku tulis sebagai hutang yang suatu saat akan aku bayar, kalau aku udah punya penghasilan sendiri, aku mau tulis di buku catatan hutangku, dan seandainya aku mati sebelum bisa melunasi hutangku, keluargaku harus tahu bahwa aku punya hutang, dan mereka akan membayar hutangku ke kamu dengan warisan bagianku, oke…?”,  yaa Rabb yaa Tuhanku…baru sekarang aku bertemu makhlukMu yang seperti ini. Sambil tersenyum aku menyetujui niatnya itu, “Ya terserah kamu lah…catat aja…aku doakan semoga catatannya hilang…hahaha…”.

Sejak itulah dia resmi menjadi adekku, adek ketemu gede, dan setelah itu aku tidak lagi kesulitan untuk memberikan bantuan. Kami pun jadi sering bersama, belajar bersama(biasanya sebelum ujian), mengerjakan tugas-tugas, atau sekedar jalan ke suatu tempat hanya untuk refreshing setelah ujian, dan yang paling sering adalah ketika dia sedang galau karena suatu masalah dan membutuhkan kuping untuk menampung segala unek-uneknya.

 

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s