Pembantuku Sayang (Bagian.7)

Wow…nyaris 2 bulan berlalu…terima kasih yang masih mau nunggu lanjutannya…;-) Silakan dibaca, semoga ada manfaat yang bisa didapat…:D

Prolog

Jika membaca atau melihat berita-berita di media massa tentang penganiayaan terhadap pembantu atau asisten rumah tangga, jujur saja, kadang saya bingung harus bersikap, feeling juga ga jelas, harus kasihan, sedih, atau biasa saja. Karena berdasarkan pengalaman sendiri, atau orang lain, perilaku dan sikap ART tidak bisa di-generalisir, tidak semuanya jujur, tidak semuanya sopan, tidak semuanya rajin, dan tidak juga semuanya bolot. Begitupun dengan para majikan, tidak semuanya bisa sabar, memaklumi, dan bisa bersikap lebih bijak menghadapi para ARTnya.

Terlebih lagi setelah membaca sharing di sini, mata saya makin terbuka lebar(padahal udah lebar nih mata,belo…maksudnya…:D ) bahwa begitulah kenyataan ironis para ART, tidak hanya di luar negeri yang jadi TKI/TKW, di dalam negeri pun, perilakunya tidak jauh beda, banyak yang menguras kesabaran para majikan. Tapi bagaimana pun, tenaga mereka dibutuhkan banyak rumah tangga, terutama pasangan suami istri yang bekerja dua-duanya di luar rumah.

Melihat sedemikian pentingnya peran mereka, menurut saya sih, jangan pernah habis akal dan kesabaran untuk mensiasati kondisi mereka. Bagi yang punya ART lumayan cerdas, jangan sampai lengah dan kena kibul mereka, dan syukurilah jika dia menggunakan kecerdasannya untuk mengabdi dengan baik kepada kita, dengan cara memperhatikan hak-hak dia dengan baik. Tapi untuk yang punya ART agak-agak bolot, semoga bisa tetap bersabar…karena kalo cerdas…mungkin mereka gak akan jadi pembokat juga…

Minggu Ketiga – Memuakkan

Setelah insiden keranjang baju-baju kotor, saya akhirnya melaksanakan apa yang disarankan suami, yaitu “mengamankan” keranjang-keranjang itu dari jangkauan NL. Salah satu tempat yang paling aman adalah kamar saya(dan suami), dimana NL paling sungkan banget masuk ke situ, dia gak pernah berani masuk untuk ngepel jika belom izin saya.

Untuk urusan laundry, sudah bisa dianggap tidak ada masalah, karena NL hanya tinggal mencuci baju-baju yang sudah saya rendamkan, dan menyimpan hasil setrikaan di keranjang kosong yang sudah saya sediakan di tempat dia biasa menyetrika. Laundry, solved!!

Sesuai kesepakatan awal, jobdesk NL terdiri dari:
1. Mencuci dan menyetrika pakaian –> utama
2. Menyapu dan mengepel lantai –> utama
3. Mencuci perabot kotor dan menyimpannya ke lemari –> utama
4. Membuang sampah –> utama
5. Membersihkan toilet (menggosok lantai&dinding) –> tambahan
6. Mengganti tissue toilet –> tambahan
7. Membereskan kamar Mika –> tambahan
8. Menyapu halaman –> tambahan
9. Membersihkan dapur –> tambahan

Hingga minggu ke-3, saya masih melihat perkembangan performa NL, dengan tidak banyak menegur cara kerjanya. Bagi saya, selama tugas utamanya beres, masih dalam batas toleransi yang bisa diterima.

Entah karena kesibukan di rumah tetangga saya, di minggu ke-3 ini, NL makin sering datang kesiangan, bukan siang lagi…tapi kesorean. Dia datang ke rumah saya, setelah selesai mengerjakan tugas-tugasnya di rumah tetangga, yang kebetulan letaknya depan-depanan.

Asalnya dia datang jam 11an, ketika saya baru pulang menjemput anak dari sekolah, kemudian besoknya datang jam 13, jam 14…dan yang terparah adalah dia datang jam 17 kurang 5 menit. Dia melakukan hal ini tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Tanpa sms atau telpon sama sekali. Dia datang begitu saja, setelah dari pintu depan ke pintu saya.

Selama 4 hari itu, saya berusaha bersabar, meskipun saya tidak sanggup menyembunyikan kekesalan hati saya lewat sikap yang jutek, poker face deh(kesambet Lady Gaga nih…), tidak banyak ngomong, basa-basi sekalipun. Saya benar-benar kecewa, kesal, dan marah. Tapi saya masih kuat untuk menahan emosi, tidak meledak memarahi NL, karena datang seenaknya.

Di hari ke-4, waktu dia datang sore-sore itu, setelah mencuci piring dan memeriksa jemuran, dengan bodohnya dia nanya, apa lantainya perlu dipel? Saya yang waktu itu sedang sibuk di depan laptop dan memasang tampang sangat dingin…dengan malas-malasan nengok si NL yang bolak-balik manggil saya dan nunggu jawaban…saya bilang “Terserah!!”, dengan nada yang kecut. Saya merasa aneh juga, lantai yang dari pagi emang saya biarkan kotor, belum disapu, apalagi dipel, kok dia dengan begonya nanya apa mesti dipel atau tidak? Mendengar jawaban saya dan sikap yang sangat tidak ramah, sepertinya dia merasa bahwa saya sedang marah ama dia, dengan sikap yang panik dia buru-buru ambil perlengkapan untuk ngepel. Dia sibuk ngepel di tengah anak-anak yang sedang bermain di dalam rumah, ada Mika, anak-anak tetangga dan anaknya NL juga. Saya liat NL kesulitan untuk membersihkan lantai, tapi saya bergeming di tempat saya, sedikitpun tidak peduli dengan sikap anak-anak. Padahal biasanya saya akan menyuruh anak-anak itu untuk duduk di sofa, dan nunggu sampai lantainya dibersihkan. Saya sengaja melakukan itu, berharap NL ngerti, kenapa saya dari awal menerima dia, meminta dia untuk mengepel lantai di pagi hari, terutama pada saat Mika belum bangun.

Setelah selesai ngepel, NL pamit pulang, alasan belum sholat ashar, padahal jobdesk utamanya dia belum dilakukan…menyetrika baju kering yang sudah menggunung! Tapi saya memilih membiarkannya pulang, lebih baik lah…daripada harus ngomel atau lebih lama lagi mumet lihat orangnya.

Malamnya, dengan penuh emosi yang meluap-luap saya sampaikan kekesalan selama 4 hari itu, ke suami. Saya bilang bahwa saya udah gak tahan lagi dengan sikap NL, segala cara sudah saya lakukan untuk membantu pekerjaan NL, antara lain dengan memasang tag-tag di titik-titik tugas yang harus dia kerjakan, dengan sebelumnya saya memberitahukannya juga, bahwa itu merupakan petunjuk bagi NL, supaya dia tidak bingung dengan apa yang harus dia kerjakan di rumah saya. Selain tag, saya juga membuat semacam jobdesk checklist dia, yang saya pasang di dapur, dimana NL pasti bisa melihatnya. Pada saat saya memberitahukan petunjuk-petunjuk itu, sepertinya NL ngerti dan selalu menjawab “Iya” dengan mantap. Membuat saya tenang pada awalnya, tapi berakhir dengan helaan nafas setiap selesai memeriksa hasil kerjanya. Karena meskipun itu petunjuk bertebaran dimana-mana, tapi tetap saja tidak dia kerjakan. Contohnya, piring-piring bersih yang tidak dimasukkan ke lemari, padahal ini sudah pernah saya beritahukan bahwa kalau malam hari sering ada tikus yang masuk ke dapur, maen di rak piring, dan saya pun tidak mau ada piring bersih yang dihinggapi kecoak di dapur. Contoh lainnya, kompor dan porselen dapur yang tidak pernah dibersihkan, meskipun dekilnya udah gak ketulungan, dia baru kerjakan kalau saya menyuruhnya secara langsung. Tissu gulung yang tidak pernah diganti(yang ini sampai sekarang tidak pernah dilakukannya), saya tetap melakukannya sendiri. Ihikss…

Pada acara curhat akbar malam-malam itu saya bilang ke suami, bahwa saya sudah cukup sabar menghadapi NL, ngebilangin udah, ngasih petunjuk juga udah, tapi dia malah makin seenaknya. Selalu ada alasan basi setiap dia datang seenaknya. Malah kadang tanpa alasan apapun, seolah-olah dia tidak sedang berbuat kesalahan. Saya bilang ke suami bahwa saya mau memberhentikan NL, meskipun dia belum genap 1 bulan kerja di saya. Saat itu suami menyarankan saya untuk bicara baik-baik dulu sama NL, memberitahu apa kesalahannya, dan apa yang saya harapkan dari NL. Tapi karena kepala panas, sepertinya saya sudah tidak punya stok kesabaran lagi. Dengan kesal, karena merasa suami tidak merasakan kesusahan saya, saya tanya begini sama dia, “Emang kalau aku kerjakan lagi semua sendirian, kenapa??Gak suka ya kalau aku ngepel?”. Setelah menarik nafas dalam, dia menjawab pertanyaan saya dengan sikap yang lembut tapi seperti sedang sangat bingung, “Bukan gak senang…kamu seksi kok kalau lagi ngepel…tapi gimana yaa…rasanya gimana gituh kalau lihat kamu ngerjain lagi kerjaan kasar begitu…seolah-olah Mas gak bisa membahagiakan istri…”, abis ngomong gituh, dia rebahan di kasur…dan saya yang lagi duduk di meja kerja, langsung kaget, lihat mukanya…yang mendadak jadi lebih ganteng dari biasanya….wkwkwkwkkw….sumpah pengen langsung ngagabrug….*uppsss…sensor*, tapi karena agendanya lagi marah besar, saya tetap harus mempertahankan pendirian saya, tetap memasang muka kesal, dan bertekad bulat untuk memecat si NL. Suami ngalah, dengan menyetujui sikap saya, tapi dia mendoakan supaya saya cepat dapat ART lagi, yang lebih baik dari NL, tentunya. Lumayan, bara di kepala saya sedikit berkurang, minimal saya sudah punya solusi untuk masalah NL.

Besoknya, pagi-pagi, sampai saya harus berangkat mengantar Mika sekolah, NL tetap saja belum datang. Saya lihat di rumah depan pun, tidak ada nongkrong sendalnya. Berarti kemungkinan dia datang siang lagi. Berangkatlah saya mengantar Mika ke sekolah, karena tidak mungkin menunggu NL datang.

Di sekolah, ketika sedang ngumpul-ngumpul dengan para pengantar, emak temannya Mika tanya soal ART saya. Seperti bara api yang masih panas, ketiup angin lagi…langsunglah menyala lagi apinya…berkobar-kobar di kepala saya. Dengan sangat emosi, saya menceritakan lagi kekesalan saya ke NL. Si mamih cantik nan baik hati yang mengobarkan api di kepala saya, memiliki pendapat yang sama dengan suami saya. Tapi karena saya masih emosi, entah karena sisa-sisa hormon bulanan juga, jawaban saya sama, bahwa tidak ada solusi lain untuk NL, selain memberhentikannya. Si mamih tidak banyak komentar lagi, mungkin takut juga lihat saya yang lagi emosi level 10.kalau mau disamain sama keripik pedes mah. Waktu itu sih, setiap ngebahas atau inget NL, saya malas banget ketemu orangnya. Begitupun hari itu, setelah curhat tidak sengaja sama si mamih, saya jadi males pulang, niatnya dari sekolah langsung jalan-jalan. Tapi melihat kostum Mika, rasanya tidak pas untuk dipake ke mall, akhirnya saya pulang dulu ke rumah. Begitu sampai halaman, saya lihat sendal NL dan anaknya sudah nongkrong di depan teras rumah tetangga. Tahu gak perasaan saya saat itu? Ibarat perasaan orang yang memergoki pasangannya lagi selingkuh atau semacam dikhianati gituh lah…sakiiittt banget….kecewa berat. Cukup gak ya lebaynya?? :p

Kalau mengikuti emosi sih, saat itu juga saya ingin labrak dia langsung, saya mau maki-maki abis, dan langsung pecat dia saat itu juga.

Tapi untungnya emosi saya yang tertahan, membuat badan saya jadi lemas, tidak bertenaga. Saya ajak Mika masuk ke rumah, dengan sikap dan suara yang lesu banget. Jujur saya sedih, merasa tidak dihargai orang lain, sambil terus mikir apa salah saya. Sambil menguatkan tekad untuk mengambil keputusan hari itu juga, saya sibuk kirim pesan ke suami, ya intinya cuma membuang unek-unek saya, dan minta izin bahwa saya akan memecat NL. Suami lama sekali me-reply, padahal saya lihat pesan saya sudah berstatus “Read”, saya tahu dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkan saya, meskipun saya yakin, dia juga gak yakin bisa melarang keinginan saya yang sedang dalam kondisi ngebul hingga ubun-ubun.

Saat sedang panas-panasnya itu, saya ingat nasihat suami, bahwa kita tidak boleh memutuskan sesuatu dalam kondisi emosi, sebaiknya ambil air wudhu, kemudian sholat, atau baca Quran, supaya kepala dan hati lebih adem. Alhamdulillah, saya ingat pesan itu, dan berusaha mentaatinya. Gak ada salahnya sih, karena ini keputusan besar yang menyangkut kepentingan saya.

Saya ambil wudhu, sholat hajat sambil terus memenangkan diri. Yang saya minta saat itu adalah diberi kekuatan lahir batin untuk ikhlas menerima kenyataan diperlakukan tidak baik oleh orang lain, dan saya harus bisa memaafkannya. Saya juga minta dilancarkan lisan, untuk menjernihkan keadaan, dan diberi akhir yang baik dari setiap urusan/masalah saya. Di sujud terdalam, saya minta itu padaNya.

Selesai sholat, saya memenangkan diri sebentar, mengucap bismillah, sebelum pergi ke rumah tetangga untuk memanggil NL. Begitu saya panggil, NL lagi sibuk memasak nasi, padahal bilang ke saya di sana dia cuma cuci&setrika saja. Rasa kaget, hampir memantik api emosi lagi di hati saya, bohong lagi dia. Tapi entah kekuatan darimana, rasanya saat itu hati saya sudah adem, tidak ada api emosi lagi, hanya badan saja yang lemes banget, hati berasa bolong *tsaaaah :p* . Ibarat sakit yang sudah kelewat sakit, jadi mati rasa. Begitu melihat saya, NL bilang bahwa dia sedang sibuk, dan nanti akan ke rumah saya kalau di rumah itu sudah selesai. Sekali lagi saya menarik nafas dalam, kemudian bilang, “Saya mau bicara sebentar, saya tunggu sekarang di rumah…”, kemudian saya balik lagi ke rumah, nunggu NL datang, sambil siap-siap juga mau langsung berangkat jalan-jalan kalau sudah “mengeksekusi” NL. Mustinya nyiapin kursi listrik juga ya:))

Begitu NL masuk rumah, dia keliatan mau langsung ke dapur, tapi saya suruh dia duduk di sofa, dan saya duduk di depannya sambil memegang kertas jobdesk checklist-nya dia.

Nampaknya dia bingung dengan sikap saya, sangat tenang, tidak ada lagi muka jutek atau suara gak ramah seperti hari-hari sebelumnya. Saya juga gak tahu, darimana asal kekuatan itu, kekuatan yang mengambil seluruh amarah saya ke NL.

Ini percakapan “sidang NL” yang masih saya ingat, lebih kurangnya beginilah. Jika para emak menganggap sikap saya terlalu sopan pada pembokat, harap tidak dijadikan standar ya, hehe. Ini hanya niat saya untuk menghargainya, saya tidak ingin menganggapnya lebih rendah dari saya, karena bagaimanapun dia berjasa meringankan tugas-tugas saya, dan layak untuk diperlakukan sebaik-baiknya sebagai manusia.

Saya: ”Sebelumnya saya minta maaf, karena saya harus ngomong ini ke mbak…”
NL: ”Iya, bu…ada apa?”
Saya: ”Saya mau tanya, dulu waktu pertama kali saya terima mbak kerja di sini dan sehari sebelum kerja di ibu depan, mbak janji apa sama saya?”
NL: ”Ooh…itu bu, saya bilang, di sana saya cuma cuci dan gosok saja…”
Saya: ”Bukan itu…(narik nafas dulu…hembuskan pelan-pelan, saya gak mau NL memperbaiki jawabannya, karena ini bukan acara ujian lisan, jadi langsung aja saya kasih jawabannya, biar cepet juga,ok?), mbak waktu itu bilang ke saya, bahwa mbak bisa datang pagi-pagi, kerja mulai jam 7, dan apa saja yang harus mbak kerjakan sudah tertulis seperti di kertas ini (saya angkat kertas checklist-nya), lalu waktu mau kerja di rumah depan, mbak bilang bahwa di sana kerja setelah selesai kerja di sini…sekarang kenyataannya gimana??”
NL: “Iya,bu…iya…saya kerja di sana dulu…soalnya tadi saya lihat motornya ibu gak ada, jadi saya ke sana dulu…”
Saya: ”Iya, saya antar anak sekolah, soalnya tadi sudah setengah 9, mbak belum datang juga…”
NL: ”Iya, bu…saya juga datang jam segitu, tapi ibu sudah berangkat…”
Saya: ”Dulu mbak janji jam berapa mulai kerja?”
NL: ”Jam 7,bu…” ini dia jawab sambil cengar-cengir malu.
Saya:”Kalau mbak gak sanggup datang jam segitu, kenapa dulu mbak bilang bisa?Dari awal saya bilang, bahwa saya ingin orang yang bisa datang pagi, jam 7, karena kalau sudah siang, saya juga banyak urusan. Kalau waktu itu mbak bilang gak bisa, saya pasti gak akan nerima mbak kerja…”
NL: ”Iya,bu…maaf!”
Saya: ”Waktu itu mbak bilang kalau di sana kerja setelah selesai dari sini, sekarang kenyataannya gimana? Selalu di sana dulu. Kalau emang di sana lebih enak kerjanya, silakan…itu hak mbak untuk memilih, saya gak mungkin melarang-larang, tapi tolong hargai saya dong…kasi tau dulu supaya saya tidak nunggu-nunggu. Sekarang saya jadi bingung kalau ada urusan di luar, mau pergi, takut mbak datang, dan cucian juga sudah direndam…ditungguin kok gak datang-datang? Bayangkan mbak sebagai saya…enak gak diperlakukan gituh?”
NL: ”Iya ya,bu…ibu jadi nunggu-nunggu…”
Saya:”Ya bayangkan saja…” *senyum kecut*
NL: ”Saya pikir di sini tidak ada kerjaan,bu…makanya saya ke sana dulu…”
Saya: *mata melebar melihat NL, kaget juga dia bisa mikir gituh* “Saya kan sudah membuatkan daftar tugas yang harus mbak kerjakan *mengacungkan kertas checklist lagi*, ini saya buat untuk apa coba? Biar mbak gampang kerjanya gak bingung harus mengerjakan apa. Bisa aja pas saya lagi sibuk, dan mbak sungkan untuk tanya, pasti kan gak enak bolak-balik tanya…jadi saya buat ini, biar mbak tahu apa saja yang sudah atau belum dikerjakan. Nanti mbak lihat lagi, selama ini kan saya gantungkan di dapur…”
NL: ”Oiya,bu…nanti saya lihat…”
Saya: ”Sekarang sih terserah,mbak mau lanjut di sini atau ngga, yang pasti saya akan menepati janji saya…meskipun selama ini mbak kerja seperti ini, saya akan tetap bayar seperti yang sudah saya janjikan”
NL: ”Iya,bu…maafkan saya, mulai besok, saya ke sini dulu, pagi-pagi jam 7an…baru ke sana…”
Saya: ”Iya! Terus itu,mbak…saya kan sudah bilang, bahwa sabtu&minggu itu libur, silakan kalau mau istirahat atau kerja di tempat lain. Jujur aja, saya sih bukannya senang kalau mbak datang di 2 hari itu, tapi malah terganggu, soalnya kami sudah punya acara, jadi tolong datang hari senin sampai jumat saja. Saya menghargai tenaga mbak, dengan membayar lebih dari pasaran, dan memberi libur untuk istirahat, saya gak mau mbak sakit karena kecapean…karena saya juga yang rugi nantinya. Kita sama-sama punya anak kecil, kasian anak kalau kitanya sakit. Begitu saya menghargai mbak, jadi tolong hargai saya juga dong…”
NL: ”Iya,bu…makasih…”
Saya: ”Ya udah,mbak…begitu aja, maaf saya harus bilang ini, tolong juga kalau ada unek-unek, langsung aja ke saya…jangan ke orang lain, karena masalahnya tidak akan selesai, jika ada masalah ama saya tapi bilangnya ke orang lain. Saya juga kan tidak ngeluh ke mbak Cc (tukang minuman sehat, yang “ngasi” NL ke saya), langsung ke mbak kan?”
NL: ”Iya,bu…sekali lagi, saya mohon maaf…”
Saya: ”Iya, sama-sama…silakan kembali ke rumah depan, karena saya mau pegi…hari ini libur aja di tempat saya..”

*wew…enak ya jadi NL…banyak libur, gaji utuh:p *

Ini tag-tag petunjuk untuk NL:

tag

Housekeeping Tag…sepertinya cuma dianggap sebagai hiasan rumah saja sama NL…ihiks…:(

 Jobdesk Checklist’s NL:

checklist

 

Jobdesk Checklist Form

20140404_143118

Mengisi form ini stelah selesai bekerja, merupakan salah satu tupoksi ART saya…tapi kenyataan berkata lain…nasib form ini akhirnya: “dari saya, oleh saya”

***

Minggu Keempat – Kesempatan Kedua

Acara sidang untuk NL ternyata berakhir tanpa pemutusan hubungan kerja, karena NL menerima semua dakwaan saya, dan berniat untuk memperbaiki kekurangannya, membuat saya memberikan kesempatan lagi kepada NL untuk terus bekerja. Meskipun di dalam hati ada ketakutan juga dia sakit hati dengan sikap saya, bisa saja setelah mendapatkan gaji pertamanya dia langsung minta berhenti. Peluang terjadi seperti itu, pasti ada dan saya mau gak mau harus bersiap juga. Setelah beberapa hari berselang, performanya cukup meningkat, meskipun ada jobdesk-jobdesk tambahan yang dikerjakan kadang-kadang saja, keliatannya kalau sempat saja. Misal: membereskan kamar Mika, tidak pernah dilakukan setiap hari, meskipun kamar berantakan setiap hari. Tapi saya tidak pernah menegurnya, males juga kalau harus banyak omong, nanti jadi emak cerewet…hiiiyy.

Gajian bulan pertama, bulan kedua, dan bulan lalu adalah bulan ketiga NL mendapatkan gaji dari saya, tidak ada tanda-tanda dia tidak nyaman kerja di saya, malah keliatannya dia jadi lebih terbuka dengan saya, kalau misalkan sudah tanggal tua, dia akan lebih rajin kerjanya, datang pagi, lebih gesit menunaikan tugas-tugasnya, dan…dengan malu-malu…sebelum pulang dia akan mengajukan kasbon sambil sibuk bercerita keluh kesahnya tentang finansial keluarga, intinya dia minta sebagian dari gajinya, meskipun belum jatuh tempo gajiannya. Tentulah saya beri apa yang dimintanya, masih dalam batas kewajaran.

Saya tetap berharap hubungan kerja saya dan NL akan berlangsung lama, alias berjodoh, saling menguntungkan satu sama lain. Aamiin.

Epilog

Manusia sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Setiap kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, pun saya salah satunya, karena saya manusia, saya butuh ART supaya saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bersenang-senang. Semoga juga ART saya senang bekerja untuk saya, rezeki yang datang melalui tangan saya, membawa keberkahan untuk keluarganya. Waktu yang saya miliki karena terbebas dari pekerjaan yang sudah didelegasikan kepada ART semoga menjadi waktu yang mendatangkan kebaikan yang lebih banyak juga. Akhirnya, saya berharap ini tulisan terakhir saya tentang ART. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Aamiin.

3 thoughts on “Pembantuku Sayang (Bagian.7)

  1. Wah..tnyata malah jd awet ama dia ya Mi. Bacanya aja aku esmosi,aplg bagian yg dia kermh dpn dulu. Aku galau niy ama art yg PP,dtg suka ksiangan. Ditegur sekilas cm iya2 aja😦

  2. Alhamdulillaah happy ending ya mak poker face :))
    Memang ya, yang paling enak dan baik saat kita ada unek2 ke orang lain adalah membicarakannya baik2, terbukti kan masalah Mak Mia teratasi dgn cara itu..
    Mudah2an aja semakin baik ya hubungan antara mak dan ART, spy sama2 menguntungkan..

  3. @Suliy: moga aja happy forever,Sul..cape jg kan gonta-ganti bedinde…cape hate…:D
    @Arifah: yoi…saya dah kebiasaan “one on one” kalo ada masalah ma org…ya biar masalahnya ga jadi nambah jg dan langsung beres kan.tp utk masalah&org tertentu,mungkin ga bisa “1 on 1” ya,kdg qta jg butuh bantuan org yg tepat:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s