Rumah Gang Tujuh

Karena kontrakan sebelumnya, sangat sempit, kemudian di tahun ke-2 pernikahan kami juga sudah mulai program untuk punya momongan, akhirnya saya mencari rumah kontrakan yang lebih besar, minimal ada 2 buah kamar. Setelah mencari-cari di lingkungan yang masih dekat dengan kantor, akhirnya kami pindah ke rumah kontrakan baru, masih hanya 10 menitan saja dari rumah ke kantor.

Rumah kontrakan kami kali ini, sebuah rumah besar, menghadap timur, memiliki 2 kamar berukuran 3×3 meter, ruang tamu dan ruang tengah yang cukup luas juga.

Karena kami hanya tinggal berdua, 1 kamar digunakan untuk menyimpan lemari buku, barang-barang, dan sebuah kasur, yang hanya digunakan jika ada keluarga yang berkunjung dan menginap saja, seringnya kamar ini kosong.

Dari awal kami pindah, sebetulnya banyak sekali hal-hal yang janggal, yang semestinya membuat kami tidak betah. Tapi karena kami malas untuk pindah-pindahan, ya terpaksa kami berusaha membetah-betahkan diri.

Para Binatang yang Memberi Tanda

Beberapa keanehan yang kami alami semenjak masuk ke rumah tersebut, antara lain, selalu ada kucing yang buang air besar di halaman, yang paling menyebalkan adalah di pagar pintu masuk. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk menghalau datangnya kucing-kucing nakal itu, segala tips dari orang sudah saya lakukan, mulai dari menabur cabe bubuk di bekas kotorannya, hingga ke seluruh halaman yang kosong yang bisa jadi dijadikan buang hajat lagi oleh si kucing.

Tetap tidak berhasil. Dari awal masuk, hingga kami pindah kontrakan, “teror kotoran kucing” itu tetap ada.

Pernah suatu sore, menjelang magrib, ada seekor kucing, sedang santai tiduran di halaman saya. Karena kesal dengan ulah mereka selama ini yang buang hajat sembarangan, saya coba usir itu kucing untuk pergi dari halaman rumah saya. Anehnya, si kucing bukannya takut, malah melotot ke arah saya. Dipelototin kucing dengan mata yang aneh dan seperti menantang saya, akhirnya saya masuk saja ke rumah, dan membiarkan kucing itu diam di tempatnya.

Melihat sikap dan mata kucing yang aneh itu, saya sempat berpikir, mungkin saja itu bukan kucing beneran, bisa jadi jin. Karena saya pernah baca, jin bisa mengambil bentuk lain selain bentuk aslinya, untuk bisa dilihat manusia. Saya pikir, ya biarkan saja, asalkan tidak mengganggu, sama-sama makhluk Tuhan. Dari dalam rumah, saya intip dia dari kaca, si kucing masih melihat ke arah saya. Ah, sudahlah…saya baca doa, dan minta perlindunganNya, dan berharap itu hanya seekor kucing yang benar-benar binatang.

Di dalam rumah, sambil menunggu suami pulang, saya beres-beres rumah sambil nonton TV. Pas ingat si kucing, saya intip lagi dari kaca. Sudah gak ada di tempatnya. Selama tinggal di sana, saya hanya melihat beberapa kali saja kucing aneh ini nongkrong di depan rumah, seringnya saat-saat terakhir kami tinggal di sana.

Sekitar 1 tahun 3 bulan saja kami tinggal di kontrakan ini, kami tidak tahan dengan kondisi rumah yang sulit sekali dibenahi. Dari mulai atapnya yang selalu bocor dimana-mana, meskipun sudah coba dibetulkan, tetap saja bocor. Bapak saya pernah ngecek sendiri ke atas genting, katanya di bagian talang (tempat mengalirkan air hujan dari atap ke bawah) penuh sekali kotoran kucing, menurut bapak tidak mungkin untuk dibersihkan. Oeekkss…!! Keterlaluan sekali kucing-kucing itu, gak cukup buang hajat di halaman, ternyata masih juga menjadikan atap sebagai toiletnya. Haduuh.

Selain kucing, binatang lain yang tidak kalah menjengkelkan dan sangat mengganggu adalah binatang pengerat seperti tikus dan cerurut.

Tikus, dari mulai tikus rumah yang kecil hingga tikus got yang hampir sebesar kucing, rajin banget menyambangi rumah kami. Kelakuannya para pengerat ini, sangat tidak lazim. Ada seekor curut, yang kerjanya hanya buang hajat di lantai kamar mandi kami, jika sudah saya bersihkan, dia akan datang lagi untuk kembali buang hajat, biasanya dia datang dan pergi lewat saluran air. Meskipun sudah saya tutup dan simpan beberapa kapur barus di situ, dia tetap datang. MasyaAlloh, saya gak habis pikir.

Sedangkan tikus got, biasanya hanya mengobrak-abrik dapur saja, tidak ada makanan yang bisa dicuri, karena saya tidak pernah menyimpan makanan di dapur. Selama di sana, saya dan suami sering sekali berburu tikus dengan pemukul kayu, karena tikus-tikus ini tidak mempan diracun, jadinya harus dibunuh langsung dengan pemukul. Sedangkan tikus kecil, pernah ada yang bisa masuk ke dalam rumah, bahkan ke dalam kamar kami. Biasanya dia masuk dan keluar, lewat ventilasi kamar, dan dengan mahirnya bisa memanjat gorden kamar.

Sedangkan si tikus got, kelakuannya lebih menyebalkan lagi, meskipun pintu dapur ditutup, tapi dia menggerogoti pintu itu, hingga ada lubang yang muat untuk dilewatinya.

Ada satu fakta aneh pada saat saya dan suami berhasil berburu tikus got yang besarnya hampir sebesar kucing, kami yakin tikus itu sudah mati, karena babak belur dan berdarah-darah, dan kami sudah memasukannya ke dalam kantong plastik, kemudian diikat kencang. Saat itu kami berniat membuang tikus itu ke sungai yang lebih besar dan berarus deras, yang ada di jl. Pasar Minggu, karena jika dibuang di selokan dekat rumah, pasti akan menimbulkan bau ke para tetangga. Sebelum berangkat, suami ganti dulu baju, karena pada saat berburu tikus dia hanya menggunakan celana pendek. Begitu akan berangkat membuang bangkai tikus, suami terkejut, karena tinggal plastiknya saja, tikusnya entah kemana. Ada beberapa dugaan, mungkin tikus tadi hanya pingsan, pada saat saat dia berhasil keluar dari plastik, atau ada kucing yang mengambilnya. Entahlah.

Pertanda dari Dalam Rumah

Dari awal-awal pindah ke rumah kontrakan ini, beberapa kali saya mencium bau harum bunga mawar di ruang tamu kami, setiap membuka pintu masuk. Padahal saya tidak pernah memasang pengharum ruangan. Meskipun janggal, saya dan suami tetap membetah-betahkan diri tinggal di sana, dengan berusaha memperbanyak ibadah, seperti sholat malam dan membaca Al Quran.

Ada kejadian aneh yang sangat sulit dicerna akal. Hari itu jumat siang, saya sempatkan pulang untuk makan siang di rumah, sekalian beres-beres rumah. Ketika sedang asyik menonton TV, tiba-tiba meja kaca yang ada di depan saya bergeser…menimbulkan bunyi “srekk…”, saya kaget, tangan spontan mematikan TV supaya tidak ada noise suara TV, kemudian mengamati meja. Ketika sedang saya amati, meja tersebut bergeser lagi, agak jauh dari gerakan sebelumnya, “sreeekkk…”, saya kaget, sekaligus mulai merasa takut. Kok bisa meja bergeser sendiri??? Tapi akal sehat saya tetap mencari alasan yang rasional, saya pikir, mungkin ada gempa. Begitu kembali lagi ke kantor, saya coba tanya ke teman-teman, apa tadi ada gempa. Teman-teman malah kaget, dan jawab tidak merasakan ada gempa. Masih penasaran, saya coba googling, ternyata memang hari itu tidak ada kejadian gempa di Jakarta Selatan. Oooh…ya sudahlah…mungkin gempa lokal saja di rumah saya.

Pertanda dari Luar Rumah

Suatu malam, saya terbangun gara-gara mendengar suara gaduh sekali di luar rumah. Seperti banyak orang sedang pawai atau semacam karnaval di depan rumah, ada suara orang menyanyi, ngobrol, dan tabuh-tabuhan. Karena penasaran, saya coba intip dari balik gorden kamar. Saya lihat banyak sekali bayangan orang di jalan depan rumah saya, tapi hanya bayangannya saja yang bergerak, anehnya begitu lewat rumah kami kira-kira di belokan rumah sebelah, suara gaduhnya langsung hilang.

Setelah bingung dengan yang saya lihat, pelan-pelan saya duduk di kasur. Meskipun sudah berusaha pelan-pelan, suami terbangun juga. Dia tanya, kenapa saya gak tidur. Saya balik tanya dia, “Tadi denger suara berisik ga?”, suami jawab “Ngga”. Kemudian saya ceritakan pada suami, apa yang tadi saya dengar dan lihat. Saat itu pun, di luar sayup-sayup terdengar suara tukang bakso keliling, dari pelan menjadi semakin jelas ketika melewati rumah kami, kemudian, semakin jauh, suaranya semakin pelan dan menghilang.

Secara logika, jika memang suara makhluk hidup, semestinya suaranya tidak langsung menghilang, tetapi seperti tukang bakso tadi, dari pelan makin keras, kemudian pelan, dan menghilang. Jadi suara dan bayangan yang pawai tadi itu apa ya kira-kira??

Hmm…saya lihat jam, saat itu masih jam 11 malam, tapi memang di gang kami, jam 11 sudah sepi. Berarti,  penghuni malam di sana, jam 11 pun sudah kelayapan…atau memang mereka lagi iseng gangguin saya yang saat itu tidur lebih cepat, auk ah…:D

Di saat-saat akhir, kami tinggal di kontrakan itu kami berdua sering tidak tenang tanpa alasan, was-was dan ketakutan yang tidak beralasan, entah takut karena apa. Aneh sekali, padahal kami sama-sama rasional, bukan orang-orang yang sering ketakutan pada hal-hal gaib.

Karena perasaan tidak tenang itu membuat hidup kami tidak bahagia, iseng-iseng kami ngobrol dengan seorang bapak, yang kebetulan tukang pijet langganan suami saya. Konon katanya, si bapak ini juga sering membantu menolong orang-orang yang kesurupan atau terkena guna-guna.

Sebut saja namanya pak Ono, orang asli Betawi. Beliau menyarankan sebaiknya kami pindah rumah saja, karena rumah kontrakan kami tersebut, akan sulit “dibersihkan” dari energi-energi negatif. Beliau memuji kami berdua yang bisa bertahan di situ lumayan lama, padahal pemiliknya sendiri tidak berani untuk tinggal di situ. Beberapa orang yang ngontrak sebelum kami pun, biasanya tidak bisa bertahan lama. 2 pengontrak sebelumnya, ada yang cerai, karena di rumah tersebut suami istrinya selalu cekcok. Kata pak Ono, rumah tersebut dulunya adalah sumur yang menjadi sumber air bagi orang-orang di kampung tersebut, dan entah apa sebabnya rumah kontrakan kami ini menjadi pusaran energi negatif yang menjadi magnet berkumpulnya para jin. Itulah yang menyebabkan hati kami sering tiba-tiba was-was tanpa jelas penyebabnya.

Karena kami berdua sudah tidak betah juga, ditambah saran dari pak Ono, akhirnya kami pindah dari rumah tersebut, meskipun kontrakannya belum habis.

Mungkin itu juga hikmahnya, kenapa saat itu program hamil kami tidak berhasil, kebayang aja kalo sampai Mika lahir di sana, mungkin tiap malam gak bisa tidur karena banyak yang “nemenin maen”. Wallohualam.

5 thoughts on “Rumah Gang Tujuh

  1. Hadeeeehhh beneran yg ini jd bkn takut euy jd dug..dug lumayan kenceng.. untung suami msh bangun tuh sibuk main game hehe.. smg rumahku aman2 yah… aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s