[Fiksi] My Colibri (4)

blue_colibri

Selama bersamanya, aku melihat sebenarnya dia juga mengagumiku, tapi tidak lebih dari sekedar teman yang enak diajak bicara atau dimintai bantuan pada saat dia membutuhkannya. Aku juga selalu melihat bagaimana dia tenang setiap aku menemaninya pulang,meskipun aku melakukan kelicikan yang tidak dia ketahui. Ya, aku dulu sering bilang bahwa aku punya saudara yang rumahnya tidak jauh dari rumanya, jadi aku tidak sekedar mengantarnya pulang, tapi aku bilang bahwa sepulang dari mengantarnya aku akan menginap di rumah saudaraku itu, jika aku mau atau kemalaman. Dengan lugunya dia mempercayaiku, dan jelas terlihat sikapnya sangat bersyukur mendapatkan teman pulang malam-malam. Dia bilang, kalau sudah lewat magrib, di daerahnya itu banyak preman yang berkeliaran. Karena lokasi rumahnya nanggung, angkutan yang ngetem tidak mau membawanya, sehingga dia harus jalan kaki dari perempatan angkot dari Bandung menuju rumahnya, yang berjarak lebih kurang 1 km. Meskipun jalannya tidak terlalu sepi, tapi aku selalu khawatir bagaimana jika ada preman mabok yang iseng mengikutinya, dan berbuat jahat di tempat yang sepi. Tidak!!

 

Setelah tahu rumahnya, hampir tidak pernah aku membiarkannya pulang sendirian, apapun urusan yang sedang aku lakukan di kampus, aku pasti akan meninggalkannya dahulu, kalau tahu dia akan pulang kemalaman. Yang penting aku bisa memastikan dia sudah sampai rumah dengan selamat, maka aku pun akan tenang. Saat itu tidak ada urusan yang lebih penting selain dirinya.

 

Kegiatan perkuliahan yang semakin padat dan jarak rumahnya yang lumayan jauh, akhirnya aku meminta dia untuk mau dijemput dan diantar pulang dengan menggunakan motorku. Kebetulan motor itu sudah lama nganggur di rumah, semenjak aku ketahuan Mama ikut balapan liar, aku dilarang menggunakan motorku, si Jagur, motor GL-100, hadiah dari Ayah, waktu aku berhasil masuk SMA yang sama dengan kakak-kakakku. Salah satu SMA favorit juga di kota Bandung. Motor inilah yang selalu menjadi saksi hari-hari indahku bersama si Adek, menikmati tempat-tempat yang indah di sekitaran kota Bandung, Dago, Lembang, Parongpong, Padalarang, dan lain-lain. Nanti akan aku beri tahu bagaimana akhir kisah si Jagur, yang tentunya tidak bisa lepas dari kisahku bersama Adek.

@)– @)– @)–

Kebersamaan kami yang untukku adalah sebuah anugerah yang sangat indah, ternyata tidak untuk Adek. Meskipun dia cukup terbantu dengan apa yang aku lakukan padanya, dan katanya semua yang aku lakukan adalah sesuatu yang akan selalu dia ingat selamanya. Tetapi, Adek sangat kuat memegang komitmennya  sebagai “adek-kakak”.  Kepada siapapun dia selalu bilang bahwa kami hanya saudara, dia selalu bilang bahwa rumahnya dia dekat dengan rumah kakakku,jadi kami akrab. Ada orang yang percaya, tapi tidak sedikit juga teman-teman yang mencibirnya dan tidak percaya bahwa hubungan kami hanya teman biasa.

 

Aku juga tidak bisa pungkiri, Adek selalu berusaha menyembunyikan keakraban kami jika sedang berada di kampus. Jika bertemu di ruang kuliah yang sama, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

 

Keakraban kami memang sudah membuat opini publik bahwa kami pacaran, dan hal ini yang selalu membuatnya jengah. Tidak jarang dia bete dan uring-uringan sendiri dengan kondisi ini. Di satu sisi dia butuh aku, di sisi lain dia gak mau dicap sebagai pacarku. Aku tahu, sebagai perempuan normal pastilah dia juga memiliki seseorang yang disukai dan diharapkan bisa menjadi seseorang yang lebih dari sekadar teman atau sahabat sepertiku. Tapi saat itu aku masih yakin “jatuh tresno jalaran soko kulino”, cinta akan tumbuh karena sering bertemu. Meskipun tidak ada gelagat cintaku akan berbalas, tapi  aku tidak mau putus asa untuk terus menunggu hatinya untuk bisa menerimaku.

 

Meskipun aku tahu kondisinya begitu, tapi tidak pernah ada sedikitpun punya niat untuk mundur,  ada banyak misi yang ingin aku lakukan terlepas dari aku ingin memiliki dia seutuhnya, lahir dan batinnya. Adek seperti sudah menjadi candu untukku, sehari bahkan sedetik pun aku tidak bisa lepas untuk tidak memikirkannya. Membantu dan melindunginya sudah menjadi kebutuhan untukku. Aku tidak mau berpisah dengannya. Andai waktu bisa berhenti, aku ingin menghentikannya pada saat aku sedang bersamanya, supaya tidak ada saat perpisahan.

Aku akui, aku memang licik, memanfaatkan kekurangan dia untuk kesenanganku sendiri. Aku sering mencari jalan yang jauh ketika mengantarnya pulang, keliling-keliling dulu, dan dengan sengaja aku pelankan motorku supaya aku tidak cepat berpisah dengannya. Adek sering protes ketika aku mengambil jalan yang salah, semakin menjauh dari rumahnya. Tapi aku bilang bahwa aku ingin tahu jalan ke arah situ. Meskipun jengkel, tapi dia tidak mau turun dari motorku, karena hari sudah malam, pastinya. Adek, maafkan aku yaa…terima kasih sudah berkorban demi aku yang selalu ingin bersamamu.

@)– @)– @)–

Dari awal mengenalnya semasa Penataran P4, aku tahu ada beberapa mahasiswa seangkatan kami yang mendekatinya, mulai dari teman SMA-ku, Zein jurusan Geodesi, ada juga teman sekelompoknya anak jurusan Arsitektur, namanya Amirul Hakim, orangnya putih bersih seperti orang Cina, belakangan aku tahu dari Adek, bahwa si Amir ini hobi nyanyi dan senang musik, pernah ngasih Adek lirik lagu “I can wait forever”-nya Air Supply, dan ternyata itu lagu memang ditujukan untuk Adek, katanya Amir sering nyanyiin itu lagu ketika mereka sedang berdua, wakakakak…kebayang ya, kayak film India. Cerita punya cerita, si Amir ini “nembak” Adek di hari terakhir Penataran P4, pada saat mereka pulang bareng mau naek angkot Caringin – Sadang Serang. Kalian pasti mau tahu kan, bagaimana dulu Adek menolak pernyataan cintanya Amir. Ada yang bisa nebak?? Semoga ada yang benar ya tebakannya, hihi. Amir ditolak dengan alasan Adek ingin kuliah dulu sampai lulus, pokoknya gak mau pacaran selama kuliah gitu lah intinya mah. Mungkin pada awalnya Amir ingin memberi waktu, bahwa hati Adek akan berubah. Tapi ternyata waktu memudarkan semuanya.  Ihiks. Kasian ya Amir…:-) Saat Adek menceritakan ini padaku, dalam hati aku turut prihatin, dengan ketidak beruntungan Amir, dan menyayangkan dia maen tembak saja, boleh dibilang salah strategi untuk mendekati perempuan macam Adek. Tapi hatiku juga bersorak, ada keyakinan bahwa dia memang jodohku. Ehem. Temanku Zein juga pernah titip salam, tapi waktu Adek tahu yang mana orangnya, sepertinya dia tidak tertarik, bahkan beberapa salam Zein tidak dibalasnya.  Dan itu menjadi hal yang sangat menyenangkan buatku, karena aku tidak mendapatkan rival yang tangguh. Jika jurusan lain di kampus pun tidak diliriknya, apalagi yang sejurusan. Temukan jawaban mengapa Adek tidak berminat pada teman-teman sejurusannya di ceritaku berikut.

Suatu saat, dia datang padaku mengajukan permohonan kredit, alias mau minjem duit. Aku ingat, saat itu dalam perjalanan mengantarnya pulang, dia minta mampir dulu ke kedai bakso kesukaannya, di sana dia cerita kenapa mau pinjam uang.

“Kuh…ada uang nganggur ga? Aku pinjem dulu yaa…penting nih…”

“Berapa?”

“Hmmm…kalau di Wendys makan berdua, berapa ya kira-kira abisnya?”

“Wendys?Kenapa harus ke Wendys?”

“Mmhh…ini kata si Uwi, ada cowok yang lagi suka ama aku di jurusan, terus dia bilang kalo Uwi bisa bikin aku jadian ama dia, si Uwi bakal ditraktir makan di Wendys ama cowok itu…karena aku gak mau ama cowok itu…aku mau traktir Uwi aja, biar dia brenti ga nyomblangin aku ke dia, dan Uwi ga rugi-rugi amat kan, teteup bisa makan di Wendys…”

“Kenapa gak mau?”, meskipun kaget, khawatir, tapi aku jadi penasaran juga, siapa yang akan menjadi sainganku.

“Kenapa yaa…ganteng sih, baik juga orangnya…tapi aku gak minat aja ama yang sejurusan…seangkatan pula…”, tuh kan pola pikirnya aneh, cinta kok ditentukan sama jurusan, tapi aku gak mau mendebat, karena secara fakta, kompetitorku akan berkurang 1 angkatan, hahaha…

“Ooo…berapa ya…50 sampe 100 rebu kayaknya, cuma makan berdua aja ama Uwi kan? Kamu bawa 200 rebu aja, gimana?”, sebenarnya aku ingin memberimu lebih banyak dari itu, semua uang milikku aku rela memberikannya untukmu, supaya kamu bisa belanja baju yang lebih bagus, dan apapun yang kamu butuhkan, asal kamu bahagia.

“Ah…kebanyakan, ntar hutangku makin banyak…100 rebu aja…aku gak akan makan banyak-banyak lah…biar cukup segituh…”, my Dear Colibri…ihiks…

“Ya udah, terserah kamu aja…!Ngomong-ngomong, siapa sih yang lagi ngeceng kamu tuh, aku tahu orangnya gak?”, aku ngomong begini untuk bahan investigasi tersangka yang tidak beruntung menarik hati Kolibriku, sekaligus menghitung peluang apakah si Adek akan berubah pikiran atau tidak.

“Si Nunu…itu lho yang ceking imut-imut…lucu lah orangnya, kata si Uwi, sebenarnya ada teman juga yang naksir Nunu, ada beberapa orang gituh yang mau jadi pacarnya….tapi dia sukanya ma aku, dia bilang ke Uwi minta tolong biar bisa jadian ama aku…”

“Uwi bilang apa ke temenmu itu, kok dia bisa pengen jadian ama kamu?”

“Uwi bilang ke Nunu kalau aku bukan pacar kamu, cuma adek-kakak aja…emang iya kan…” dia cerita sambil asik menikmati bakso favoritnya, bakso daging cincang sebesar bola golf, dengan tambahan batagor.  Aku masih ingat nama menunya “Batagor Kuah Bakso”.

Sesuai permintaannya tadi, aku memberikan uang 100 rebu untuk acara makan-makan pembatalan comblang. Tapi bukan di tukang bakso atau tempat terbuka, tentulah hal itu akan sangat memalukannya. Aku punya kebiasaan, memberikan dompetku padanya, di tempat yang tidak mungkin ada orang lain yang melihat, biasanya ketika motor sedang melaju dia akan mengambil uang yang dibutuhkannya. Meskipun aku paling malas mengecek jumlah uang di dalam dompet, tapi aku selalu yakin bahwa Adek mengambil secukupnya yang dia butuhkan saja, kemudian dia akan menuliskan angka nominal itu di buku catatan hutangnya, sebuah buku kecil, tempat dia menuliskan segala macam, tapi bukan diary, hanya catatan-catatan penting, termasuk hutangnya padaku, aku sangat membenci buku yang sangat mirip dengan buku catatan “kredit panci” itu, dan selalu berharap bahwa bukunya itu hilang, sehingga dia lupa berapa hutangnya padaku.

@)– @)– @)–

Tahun demi tahun berganti, semakin bertambah saja rivalku, baik dari jurusan Adek, jurusanku sendiri, maupun jurusan lain. Mungkin karena kampus kami yang mayoritas laki-laki, sehingga keberadaan makhluk yang berasal dari tulang rusuk jenisku ini menjadi begitu istimewa dan menarik perhatian. Tidak perlu berparas cantik dan berperawakan aduhai bak Miss Universe pun, bisa menjadi magnet bagi para mahasiswa yang mengidamkan punya istri jebolan kampus ini, yang mungkin sebagian besar mengharapkan keturunan yang memiliki perpaduan otak moncer yang lebih unggul. Entahlah. Aku tidak termasuk salah satu dari mereka. Aku menyukai Adek lahir batinnya, bukan karena ijazahnya. Catet!

 

Setelah tahu bahwa Adek tidak berminat pada laki-laki sejurusannya, hatiku sangat tenang, meskipun aku cukup tahu bagaimana sikap para lelaki dari jurusan itu selalu melihatku dengan pandangan iri, penasaran, dan tidak suka karena aku bisa dekat dengan Adek, bisa belajar bersama di Perpustakaan Pusat, jalan bareng, bahkan bebas mengantar jemput ke rumahnya. Untuk sebagian mahasiswa yang yakin bahwa kami tidak pacaran, mereka pantang menyerah untuk mendekati Adek. Bahkan ada 1 orang senior Adek, begitu gigih bolak-balik menyatakan cinta, dan ingin menjalin hubungan serius dengan Adek. Namanya Recky, 2 angkatan lebih tua dari kami. Adek cerita bahwa si Recky ini mabuk cintanya seperti orang gila, Adek gak suka, bukan karena dia sejurusan tapi ekspresi cintanya itu yang membuatnya jengah.

 

Suatu saat Adek mengajakku pergi ke suatu tempat, suatu dataran tinggi di utara Bandung, dia mau curhat tentang Recky yang sedang gigih mengejar-ngejar cintanya. Saat itu Adek sudah mengenakan hijab alias berjilbab, dan katanya karena efek berjilbab itu yang menyebabkan Recky jadi mabuk kepayang sama Adek. Aku lihat sikap Adek yang begitu tidak suka pada saat menceritakan kelakuan Recky padaku. Kami duduk di sebuah bangku di tengah taman tersebut. Banyak pasangan-pasangan lain yang sedang berasyik masyuk di tempat tersebut. Sayangnya aku tidak begitu dengan perempuan kesayanganku ini. Dia paling tidak suka jika aku duduk terlalu dekat dengannya. Biasanya dia akan pergi menjauh dan mencari tempat yang lebih aman dari jangkauanku untuk menyentuh fisiknya, tapi masih memungkinkan untuk ngobrol tanpa terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar kami.

 

“Gila gak sih…masa dosen-dosen aja pada tahu…? Kalau ketemu aku, pada bilang gini…oo ini toh yang namanya Amelia…”, Adek ngomong gituh dengan sangat geram, dari wajahnya saja kelihatan sekali bahwa dia sedang jengkel. Aku belum berkomentar, karena aku sangat tahu, dia tidak suka jika unek-uneknya terhambat keluar karena terpotong komentarku.

Aku juga gak suka kalau pas ke himpunan atau ke lab dia ngeliatin mulu…mana anak-anak lain pada berdehem-dehem juga…jadinya males deh ke himpunan…”, sekarang dia diam, tapi sambil manyun. Ini kesempatanku untuk komentar.

“Dia nyatain dimana? Terus bilangnya apa?” aku sebetulnya tidak ingin tahu, karena bukan hal penting untuk aku ketahui tentang kelakukan lelaki yang kurang beruntung itu, jangankan  menjadi pacarnya, menarik perhatian Adek pun tidak. Sungguh malang nasibnya.

“Di jurusan…pas aku masuk ke lab-nya dia karena ada tugas praktikum…terus dia ngedeketin, nanya apa aku ada waktu untuk ngobrol ama dia…waktu itu aku bilang lagi sibuk…tau gak aku bilang gituh dengan muka judes…tapi anehnya ya…dia masih juga ngejar, besoknya dia nguntit aku dari lab lantai 1, sampe ke TU di lantai 2…terus dia masih nanya juga, apa aku udah punya waktu untuk ngobrol ama dia…karena kesel, aku bilang “ya udah sekarang aja…”, tapi dia minta ngobrol di Perpus Pusat, katanya musti 4 mata…kepaksa aku mau…ih kesel deh…” dia diam sebentar, seperti sedang ngatur nafas untuk membuang energi negatif akibat kekesalannya itu.

 

“Dia bilang kalau dia ingin jadi teman spesial aku gituh…soalnya dia tahu kalo aku ma kamu kan cuma kakak adek…sodaraan gituh, katanya…terus kalo ama Aria kan belum jadian juga…cuma teman diskusi aja…jadi dia gak mau menyesal karena terlambat menyatakan perasaannya  ma aku…”  degh…aku kaget begitu mendengar nama Aria. Dia seniorku di jurusan, teman diskusiku juga di himpunan, salah satu senior favoritku karena pemikirannya tentang organisasi, dan bisa dibilang dia salah satu sahabatku juga. Berarti apa yang dikatakan teman-teman baikku di jurusan benar adanya, bahwa mereka pernah melihat Adek asyik ngobrol berdua bareng Aria di kantin Borjuis.

 

“Kamu sering jalan ama Aria?” aku mulai merasa obrolan kami menjadi penting, aku ingin tahu perasaan Adek ke Aria. Apakah Aria akan menjadi rivalku?

 

“Kadang…biasanya bahas tugas Psikologi Industri, dia kan ambil kuliah bareng aku, kebetulan aku ketua kelasnya…” dari sikap jengkel waktu menceritakan Recky, tiba-tiba wajah Adek langsung berubah menjadi berseri-seri. Nampaknya dia senang sekali waktu teringat Aria. Sepertinya yang selalu aku takutkan kejadian juga. Suatu saat Adek akan jatuh cinta, sayangnya bukan padaku.

 

“Kamu suka Aria?” aku tidak bisa menyembunyikan kecemburuanku lagi, dan sepertinya dia tahu itu, sayangnya  dia tidak mau tahu dan tidak mau peduli dengan perasaanku.

“Mmmh…bisa jadi…”, dia menjawab sambil tersipu-sipu.

“Kok seperti ragu gituh?”

 “Ya…gimana yaa…suka sih…orangnya baik, lucu…cakep…tapi cuek…”, kata terakhir diucapkan dengan nada penyesalan, sepertinya Adek sedang menunggu kepastian dari Aria. Dengan sifat dasarnya yang pemalu, aku yakin sesuka apapun Adek tidak mungkin menyatakan cintanya duluan kepada laki-laki yang disukainya. Harga dirinya sangat tinggi. Alih-alih membuat suatu kepastian, dia lebih memilih digantung perasaannya seperti sekarang. Dari sisi Aria, jika melihat riwayat percintaannya, melihat sosok mantan-mantannya, bisa dibilang Adek itu “tipe-nya banget”. Wajar saja jika dia mau jalan bareng, tapi dengan kondisi kuliahnya sekarang, kemungkinan Aria memang sedang tidak mau dipusingkan dengan urusan perempuan. Aku lihat, jangankan memperjuangkan perempuan, urusan Tugas Akhirnya saja tidak kelar-kelar, sedangkan dia itu tipe orang yang nyantei. Meskipun ada perasaan kasihan sama Adek, karena digantung perasaannya, tapi rasa cemburuku lebih besar. Aku tidak mau kehilangan Adek, Colibri-ku semangat hidupku. Aku harus menyelamatkannya.

“Kamu tahu gak kalo Aria tuh tidak suka  sholat, jangankan yang 5 waktu, jumatan pun gak pernah?”, aku coba menyadarkannya.

“Masa?Terus kenapa kalo gak suka sholat?”  dari nada bicaranya sepertinya Adek tidak menganggap sholat merupakan hal penting dari seorang laki-laki yang seagama dengannya. Sepertinya dia hanya tertarik tampilan luar saja. Pinter dan ganteng.

“Emang kamu mau hidup di dunia aja, Dek? Akhirat gimana nanti gituh?”  aku berusaha menyentuh sisi keimanannya.

“Ya ngga gituh juga…tapi yang rajin sholat pun, kan belum tentu bener hidupnya. Emang kamu tahu darimana kalo Aria gak suka sholat?”,  Adek membela kecengannya.

“Semua orang himpunan udah pada tahu, apalagi anak-anak KM (Kabinet Mahasiswa), kalau dia itu ekstrim kiri, katanya sih semenjak gaul sama  Alit, Aria jadi senang Marxisme, sosialis, komunis, dan semua aliran-aliran kiri. Dulu sih katanya rajin sholat, sekarang udah gak pernah. Kalau hari jumat masih di kampus, biasanya dia hanya nongkrong aja di himpunan. Emang kalau bareng ama kamu, dia sholat gituh…?aku yakin ngga…” aku ngomong dengan sikap sinis, dan tentu saja aku cemburu. Bagaimanapun Aria saingan berat, semua yang ada di dia, pasti disukai Adek. Ganteng, pinter, kaya, anak bungsu dari 2 bersaudara yang selalu kesepian karena di Bandung hanya tinggal bersama kakaknya, kedua orang tuanya yang dokter spesialis bertugas di utara Jawa Barat. Tajir tapi dermawan. Keren, orangnya juga mobilnya. Satu kekurangan dia yang bisa menjadi keuntungan  buatku, adalah hanya karena dia males sholat, dan aku tidak yakin apakah Adek bisa mengubahnya.

“Ya…tiap bareng ama aku, dia selalu nyuruh aku sholat…tapi dianya tetap duduk di tempat kami diskusi…orangnya baik, helpful, ga sombong, pinter, lucu juga…” Adek cerita dengan mata berbinar-binar, semua awan hitam yang disebabkan oleh kelakuan Recky seolah langsung hilang tersapu kencangnya angin bahagia di hati Adek setiap membahas Aria. Cinta selalu membutakan semuanya.

Karena jurusan Adek banyak mengambil mata kuliah wajib dan pilihan dari jurusanku, menyebabkan dia banyak dikenal oleh senior-seniorku di jurusan. Tidak hanya Aria, ada juga Fajri, Riyadh, Mahendra, dan mungkin masih ada orang lain yang pernah mendekati Adek, tetapi luput dari pengamatanku dan teman-teman baikku, yang tanpa aku minta pun, mereka dengan senang hati selalu menjadi mata dan telingaku untuk mengawasi Adek.

Semua kebetean Ade hilang hanya dengan membahas laki-laki yang sedang disukainya, dan aku ini siapa? Hanya laki-laki tong sampah penampung unek-uneknya dia. Tapi aku rela, asal selalu bisa bersamanya. Hinakah aku?

BERSAMBUNG

 

 

One thought on “[Fiksi] My Colibri (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s