Anak Keminggris, Keren gak?? (Bagian.1)

Prolog

 Akhir-akhir ini kening saya sering otomatis berkerut, dan senyum langsung tersungging, meskipun sebenarnya menahan diri untuk tidak ngakak. Penyebabnya apa coba? Silakan dilanjut bacanya…!! Eh tapi…sebelum melanjutkan baca, saya mohon maaf, jika tulisan saya kali ini lebih nyinyir dari biasanya. Mohon maaf jika ada pembaca yang ternyata termasuk dari “pelaku” dari pembahasan tulisan saya. Izinkan saya untuk menyampaikan pendapat dan pemikiran sederhana saya.

Bismillah.

Salahkah kalau anak Keminggris (Bilingual)?

Seperti yang pernah saya tulis di sini, tentang pengalaman pribadi menghadapi anak yang ngomongnya bercampur bahasa asing(dalam hal ini bahasa Inggris), meskipun “tidak disengaja”, sudah pasti menjadi nilai positif untuk kami selaku orang tuanya, dan pasti untuk banyak orang tua yang “mother tongue”-nya bukan bahasa Inggeris.

Anak yang sudah mengenal bahasa asing sejak usia dini, kemungkinan akan lebih mudah untuk menerima pengetahuan-pengetahuan baru yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggeris, di kemudian harinya. Dan dalam hal pergaulan, mungkin si anak ini akan bisa “go international” dengan mudah, karena faktor bahasa tidak lagi menjadi hambatan. Itulah kenapa, tempat les bahasa Inggeris selalu banyak peminatnya, dan untuk orang tua yang uangnya berlebih, tidak segan menyekolahkan anaknya ke sekolah bertaraf internasional yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggeris. Keren yaa… si anak bisa cas cis cus tiap saat, seperti orang bule, meskipun ayah ibunya asli Indonesia😉

Sekarang ini saya sedang membahas orang Indonesia yang tinggal di Indonesia loh ya, bukan yang sedang di luar NKRI, dimana orang-orang di sini kebanyakan menggunakan bahasa sehari-hari sesuai dengan daerahnya, misal: jika tinggal di Bandung, kebanyakan orang-orangnya berbahasa Sunda, dan lain sebagainya. Bahkan sekarang, sudah lebih umum orang-orang menggunakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-harinya, supaya memudahkan komunikasi dengan lingkungannya.

Lalu, apakah si anak yang biasa berbahasa Inggeris itu salah jika sehari-hari dia selalu cas cis cus dengan siapapun? Atau orang tuanya membiasakan dia untuk speaking english every time, everywhere? Menurut saya sih, tidak salah, asalkan dia berada di lingkungan yang tepat, yaitu orang-orang yang bisa memahami bahasanya. Mari kita lihat, lingkungan sekitar kita sekarang, apakah yakin semua orang sudah bisa berbahasa Inggris, atau minimal familiar dengan bahasa Inggeris meskipun tidak bisa mengucapkannya (passive)? Abang ojek, abang penjual bubur, mamang becak, mbak yang bantu-bantu di rumah, abang tukang sayur, dan lain-lain. Saya yakin masih banyak yang belum paham. Bayangkan apa jadinya, jika anak yang tidak biasa berbicara bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, suatu saat harus berkomunikasi dengan orang-orang yang tadi saya sebutkan, apakah mungkin akan nyambung dan pesan bisa sampai dengan baik sesuai maksud kedua belah pihak?? Saya rasa, kemungkinan salah paham, sangat besar, meskipun dibantu dengan bahasa isyarat.

Untuk para orang tua, baik ayah ibunya, atau anggota keluarga lainnya, sadarkah kita, jika anak-anak hanya dibiasakan berbahasa Inggeris, berarti kita sudah memberikan mereka masalah, masalah berkomunikasi dan bersosial dengan lingkungannya? Kasihan ya anak-anak tersebut…masih kecil sudah penuh kebingungan.

 

Keluhuran Budaya Indonesia

Tidak hanya dari segi komunikasi, orang tua sekarang termasuk orang-orang dewasa sepertinya lebih merasa keren jika menggunakan istilah-istilah asing, termasuk panggilan-panggilan dalam keluarga. Misalnya: ayah,ibu, bunda, paman, bibi, kakek,nenek, sudah jarang terdengar di masyarakat. Apalagi panggilan-panggilan khas keluarga yang berasal dari berbagai suku atau daerah, seperti: emak, bapak, mamak, meme, ambu, abah, mamang, bibi, pakde, bude, aki, nini, opung,datuk, aa, teteh, mas, mbak, abang, uni,  dan sebagainya. Anak-anak sekarang lebih banyak yang memanggil orang tuanya dengan panggilan yang berasal dari luar negeri, seperti: mommy, daddy, auntie, uncle, grandma, grandpa, sister, brother, dan sebagainya.

Selain panggilan-panggilan keluarga yang khas dari tiap daerah, ada panggilan yang sekarang menjadi lebih umum dan dianggap sebagai panggilan khas yang “lebih Indonesia”, yaitu “om” dan “tante” untuk adik laki-laki dan perempuan kita atau pasangan kita. Bahkan, untuk siapa saja yang kita temui, baik orang yang sudah dikenal, maupun yang baru bertemu.

Pada awalnya saya menyangka bahwa istilah om/oom dan tante itu bahasa Indonesia asli. Tapi kemudian saya tahu dari seorang teman yang lebih senior, ternyata kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Belanda. Iseng-iseng saya buka Google Translate (https://translate.google.com/#nl/id/oom)), dan inilah hasilnya:

 

oom

tante

 

Waktu saya tahu tentang asal kata oom dan tante ini, cukup kaget dan berpikir untuk mengubah panggilan Mika ke adik-adik ipar saya, dengan panggilan-panggilan yang lebih Indonesia, seperti Paklik dan Bulik, karena kebetulan Mika kami ajarkan untuk mengikuti budaya asal suku bapaknya, yaitu dari Jawa dan Bali. Adapun alasannya, karena kami, lebih menyukai panggilan-panggilan yang sangat Indonesia, dan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Selama ini juga saya sering memanggil kenalan-kenalan atau siapa saja dari suku tertentu dengan panggilan-panggilan yang khas sesuai daerah asalnya. Tidak bermaksud rasis, tapi lebih ingin menghargai darimana mereka berasal, dan bagi kami sendiri, tidak merasa malu berasal dari suku tertentu. Itupula yang kami ajarkan kepada Mika. Sehingga di dalam keluarga, Mika terbiasa memanggil dengan panggilan yang masih “berbau” Indonesia, walaupun kini sebagian ternyata bukan asli Indonesia.

 

Berikut panggilan-panggilan keluarga yang kami terapkan untuk Mika:

Dari sisi keluarga ibu, karena saya berasal dari suku Sunda, maka kepada keluarga dari saya, Mika dibiasakan untuk memanggil:

  1. Kakak-kakak saya dengan panggilan “Wawa”, merupakan modifikasi dari kata “Uwa”
  2. Ayah dan ibu saya, dengan panggilan “Kakek” dan “Nenek”, di suku Sunda semestinya: “Aki & Nini”, atau “Engkin & Enin”. Tapi karena sepupunya sudah terlanjur memanggil kakek dan nenek, Mika jadi ikut-ikutan juga.
  3. Sepupu-sepupunya (kebetulan kakak sepupu semuanya): Aa dan Teteh

Dari sisi keluarga ayah, karena suami saya memiliki ibu yang berasal dari suku Jawa, dan ayah yang berasal dari Bali, maka kepada keluarga dari suami saya, Mika dibiasakan memanggil:

  1. Datuk untuk memanggil kakek, dan Uti (mbah putri) untuk memanggil neneknya.
  2. Om dan tante, untuk paman dan bibi (adik-adik ipar saya)

Mika sendiri karena merupakan cucu dari anak sulung, biasa dipanggil “mbak” oleh adik-adik sepupunya.

Hingga saat ini, Mika memang belum pernah protes, kenapa dia dipanggil sama dengan panggilan untuk perempuan yang biasa bantu-bantu di rumah kami (asisten rumah tangga/pembantu). Tapi jika suatu saat dia bertanya, atau protes dengan panggilan “mbak” ini, saya akan menjawab dengan penjelasan seperti berikut:

“Kita memanggil tukang becak dengan panggilan “abang” atau “mamang” (di Sunda), adalah untuk menghargai posisi mereka sebagai saudara kita, bukan sebagai orang yang lebih hina. Begitupun dengan pembantu yang ada di rumah kita, jika kita memanggilnya dengan sebutan “bibi” itu berarti dia dianggap sebagai adik dari orang tua kita, atau jika dipanggil “mbak” berarti dia dianggap sebagai kakak kita, atau orang yang lebih tua dari kita. Jadi tidak ada alasan untuk merasa hina dengan panggilan-panggilan tersebut, hanya karena posisi mereka dianggap lebih rendah oleh sebagian besar masyarakat”.

Jika setelah mendapat penjelasan ini, kemudian Mika tidak ingin lagi dipanggil mbak, mungkin akan saya sarankan untuk mau dipanggil “kakak” supaya masih tetap berbau Indonesia.

Kenapa saya begitu menyukai hal-hal yang khas dari Indonesia(dalam hal ini hal-hal yang positifnya yaa…) ? Mungkin sebagian orang akan menganggap saya ini udik, tidak modern, dan tidak keren. Ya tidak apa-apa, yang penting saya tetap bangga sebagai bangsa Indonesia, termasuk budayanya yang beragam dan khas untuk setiap suku/daerah.

Banyak sekali kearifan lokal bangsa Indonesia yang sepertinya sudah banyak yang tidak tahu, bahkan panggilan-panggilan khas tiap daerah, bahasa daerah, seni-seni tradisional, cerita rakyat,   yang semuanya merupakan keluhuran bangsa, makin hari makin redup dan menghilang. Anak-anak sekarang lebih familiar dengan istilah-istilah asing dalam kesehariannya, tidak bisa berbahasa daerah, tidak tahu cerita rakyat, tidak tahu seni-seni tradisional seperti tarian khas dan musik daerah. Perlahan tapi pasti, generasi anak-anak kita dan setelahnya tidak akan lagi mengenal jati diri bangsanya.

<<BERSAMBUNG>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s